#sastra-pembebasan# Fw: peluncuran novel "saman" karya ayu utami di restoran indonesia paris 04 desember 2007

View: New views
1 Messages — Rating Filter:   Alert me  

#sastra-pembebasan# Fw: peluncuran novel "saman" karya ayu utami di restoran indonesia paris 04 desember 2007

by HKSIS :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message


----- Original Message -----
From: Kusni jean
To: HKSIS ; WAHANA NEWS ; temu_eropa@... ; nasional-list ; koransastra
Sent: Saturday, December 08, 2007 10:00 PM
Subject: peluncuran novel "saman" karya ayu utami di restoran indonesia paris 04 desember 2007





Surat Dari Montmartre:


NOVEL "SAMAN" EDISI PERANCIS, DILUNCURKAN
DI KOPERASI RESTORAN  INDONESIA PARIS

Pertanyaan & Pernyataan



Setelah makan malam, diskusi pun dibuka oleh Dr. Etienne Naveau dari Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam", selaku moderator.


Kekuatan "Pasar Malam" yang menonjol, selain terletak pada kemampuan lobbi, juga kemampuannya menghimpun semua, paling tidak sebagian besar  tenaga ahli/pakar dan atau pun orang-orang yang tertarik pada masalah Indonesia. Dengan kemampuan ini, maka kegiatan-kegiatan "Pasar Malam" selalu mempunyai gaung yang diperhatikan oleh berbagai pihak, termasuk penyelenggara negara dan dunia kebudayaan Perancis dan Belanda.


Sesungguhnya, saya pribadi merasa cukup tercengang mengetahui hadirin yang hadir di peluncuran novel "Saman", sebagian besar bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, bahkan sangat lancar dan menangkap nuansa-nuansa kata yang diucapkan. Sehingga dalam diskusi peluncuran ini, tiga bahasa telah digunakan: Perancis, Inggris dan bahasa Indonesia. Mengetahui keadaan begini, akhirnya Ayu Utami berdialog dengan menggunakan bahasa-bahasa Inggris dan Indonesia  yang membuat ia kian santai.  Melalui beberapa kegiatan yang minim kuikuti di skala internasionall, saya berkesan bahwa untuk "go international", agaknya sastrawan memang diperlukan mempunyai penguasaan bahasa, baik bahasa ibu mau pun bahasa asing. Jika hanya bersandar pada penterjemahan langsung, sering kudapatkan, sang penterjemah atau yang diharapkan menjadi penterjemah, tidak menangkap nuansa istilah yang digunakan pembicara sehingga dampak baliknya menjadi kurang tajam.  Sedangkan, istilah, kata berperan mengungkapkan pikir dan rasa yang ingin diungkapkan pembicara. Terjemahan tanggung karena penguasaan bahasa yang tanggung, sering dan bisa  mengkhianati penulis dan pembicara. Dalam hubungan ini, saya mengagui alm. Prof. Dr. Denys Lombard yang menguasai dengan baik berbagai bahasa asing, seperti Viêt Nam, Tionghoa, Indonesia, Arab, Inggris, dan lain-lain....  sehingga beliau bisa membaca langsung sumber-sumber acuan dari bahasa aslinya tanpa kekhawatiran dikhinati terjemahan. Berdasarkan keadaan begini, maka ketika menjadi guru kecil di sebuah universitas di Indonesia, saya selalu menganjurkan kepada para pendengar saya agar kalau  mau menjadi imuwan serius, paling tidak diharapkan menguasai dua-tiga bahasa asing. Kukira sastrawan pun tidak ada buruknya jika mempunyai kemampuan begini sehingga lingkup pandangannya bisa makin lebar dan jauh dengan acuan yang kaya. Lebih-lebih di era sekarang. Insting dan bakat, tidak bakal memadai untuk menjadi sastrawan di dunia yang makin  menjadi sebuah "desa kecil". Belajar dan belajar, membanding dan membanding,  dengan memperluas acuan akan sangat berguna dalam usaha meningkatkan kadar diri. Belajar dan membanding tanpa henti, jadinya barangkali merupakan suatu keniscayaan bagi sastrawan.  Mencari pengakuan dengan gaya narsistik, jadinya bukan sesuatu yang utama. Bahkan menggelikan yang kadang membuat kita menahan ketawa demi sopan santun. Entahlah! Mungkin saya keliru. Saya sedang berbicara tentang harapan baik saya belaka  sebagai seorang pencinta sastra-seni dan negeri berdasarkan potensi yang kita miliki , tentang esok sastra negeri kita.


Kadar diri sebagai penulis dan orang, akan gampang diditeksi dari kata-kata, tulisan  dan pembicaraan kita. Kata tidak berdusta pada diri kita sendiri sebagai pengucap.


Pada saat peluncuran novel "Saman" edisi bahasa Perancis, malam itu, diskusi berlangsung di dua tempat. Di meja-meja antar hadirin dan di forum peluncuran.  Kalau saya bandingkan maka diskusi di meja-meja, jauh lebih intensif dibandingkan di forum peluncuran. Di meja-meja dilakukan diskusi jauh lebih mendalam. Dikemukakan apresiasi masing-masing atas masalah yang diajukan Ayu Utami dalam novel "Saman"nya.


Salah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh  hadirin ke forum peluncuran, kongkretnya dari seorang pemandu pariwisata yang sangat fasih berbahasa Indonesia,  berbunyi kurang-lebih:  "Novel 'Saman' di Indonesia telah diterbitkan dalam oplag 100.000 eksemplar.  Dibandingkan dengan jumlah penduduk negeri yang 220 juta, tentu saja jumlah eksemplar ini tidak berarti. Yang ingin saya tanyakan dengan eksemplar demikian dan selebritas Anda sekarang, apakah karya-karya Anda menjangkau penduduk pedesaan  yang luas dan bagaimana pengaruhnya?"


Reaksi pertama dalam hati saya ketika mendengar pertanyaan ini: "Apakah pertanyaan ini tidak salah perumusan?". Tapi dalam renungan cepat,  saya melihat bahwa arah pertanyaannya berintikan: Untuk siapa sastrawan berkarya? Untuk diri sendiri, untuk mencari popularitas dan menjadi selebritis, dan hal-hal yang bersifat narsis ataukah untuk memenangkan suatu ide? Dengan renungan cepat begini, akhirnya saya mendapatkan pertanyaan pemandu pariwisata ini merupakan sebuah  pertanyaan tajam walau pun jawabannya tentu bersegi luas dan banyak. Malangnya, karena sambil melayani para tamu  dan diskusi meja,   saya tidak mendengar jelas bagaimana pandangan dan sikap Ayu Utami menjaawab pertanyaan ini. Hanya saja pertanyaan ini, agaknya terjawab oleh pertanyaan dari seorang mantan pilot perempuan Perancis yang ketika non aktif dari dunia dirgantara, beralih ke dunia sastra Indonesia: "Apakah Anda tidak mengalami kesulitan dari penyelenggara Negara Orba ketika "Saman" diterbitkan?" Pertanyaan yang dijawab sendiri oleh penanya dan hadirin yang lain bahwa "Saman" terbit menjelang beberapa saat sebelum Jenderal Soeharto turun panggung. "Saman" terbit di saat yang oleh orang Perancis disebut sebagai "la période de grace" [periode berkah].  Jawaban pertanyaan dengan pertanyaan seperti ini memperlihatkan bahwa Ayu sebenarnya menyentuh banyak hal-hal tabu dalam masyarakat Indonesia periode Orba, termasuk masalah-masalah kekuasaan politik di tahun-tahun masakre. Artinya, sebagai novelis, Ayu mempunyai suatu keberpihakan manusiawi [engagement social] dan melakukan keberpihakan itu secara sadar. Yang sempat terdengar padaku bahwa dalam menyentuh berbagai soal kemasyarakatan dalam novel tersebut, Ayu Utami menyatakan ia memang "tidak fokus, tapi itulah keunikan cara narasi saya. Yang mungkin beda dari penulis-penulis lain". Melalui pernyataan begini, saya melihat bahwa Ayu Utami sebagai penulis berusaha selalu sadar akan apa yang ia tulis, membanding dan bertanya serta menanyai diri.


Kesadaran sebagai penulis yang berkomitmen manusiawi, terkesan pada saya melalui diskusi peluncuran "Saman" malam ini, ada pada Ayu Utami. Komitmen manusiawi ini tentu saja bisa diungkapkan dengan berbagai cara sastrawi dan artistik serta tidak harus dengan suatu slogan yang bicara singkat dan langsung.  Slogan dan karya artistik , walau pun ada tautannya, tapi boleh jadi mempunyai cara ungkap berbeda. Keberpihakan sosial penulis seperti yang diangkat malam ini, apakah sudah menjadi masalah kadaluwarsa di dunia sastra Indonesia ataukah masih merupakan sesuatu yang patut dipertanyakan dan menanyai para sastrawan-seniman?  Masing-masing bisa menjawab jujur pertanyaan ini  pada diri sendiri. Entah kalau pada diri sendiri pun kita layak berdusta karena didorong oleh keadaan negeri dan bangsa yang  didominasi oleh dusta serta lupa seperti sekarang, sehingga lupa dan dusta pada diri sendiri merupakan sesuatu yang digemari. Sejarah kelahiran sastra-seni serta hubungannya dengan kehidupan pun menjadi tidak diindahkan. Dilupakan. Dari pertemuan peluncuran "Saman" yang oleh "Pasar Malam" disebut sebagai "Spécial  Saman", saya tidak melihat Ayu Utami menggolongkan diri sebagai seorang pelupa dan narsis."

Pertanyaan dan pernyataan argumentatif, berlanjut sampai larut malam. Ya, orang Perancis memang suka berdebat.  Debat ide yang terbuka tanpa wasangka seperti tertuang dalam ungkapan keseharian: "Oui, mais....[Ya, tapi...] sehingga jika mereka berbicara, kalimat mereka berakhir pada koma.


Paris, Desember 2007.
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja Koperasi Restoran Indonesia Paris.



[Berlanjut...]


Keterangan Foto:
Foto terlalampir melukiskan suasana peluncuran novel "Saman" karya Ayu Utami  di Koperasi Restoran Indonesia Paris, 04 Desember 2007 malam. [Dok. & foto  JJK].


IMG_3437.JPG



IMG_3438.JPG



IMG_3439.JPG



IMG_3440.JPG



IMG_3441.JPG






----------------------------------------------------------------------------
    Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.
    IMG_3438.JPG



    IMG_3439.JPG



    IMG_3440.JPG



    IMG_3441.JPG



  IMG_3438.JPG



  IMG_3439.JPG



  IMG_3440.JPG



  IMG_3441.JPG







--------------------------------------------------------------------------------

Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.


--------------------------------------------------------------------------------






--------------------------------------------------------------------------------






--------------------------------------------------------------------------------






--------------------------------------------------------------------------------






--------------------------------------------------------------------------------






--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.17/1177 - Release Date: 2007/12/7 $U$H 01:11

  ----------


IMG_3438.JPG



  ----------


IMG_3439.JPG



  ----------


IMG_3440.JPG



  ----------


IMG_3441.JPG




[Non-text portions of this message have been removed]