« Return to Thread: Kesaksian - Semoga blm baca ya. Salam --> Siapa mau ikut Ki Gendeng...Pamungkas..= Hebat ..tidak takut hk.Karma.

Kesaksian - Semoga blm baca ya. Salam --> Siapa mau ikut Ki Gendeng...Pamungkas..= Hebat ..tidak takut hk.Karma.

by Sudrajat IDSRG Ass MGR OPS :: Rate this Message:

| View in Thread

 
 
Dear all,
 
Sekilas…info,
 
Ki Gendeng..yang benar benar gendeng  = tidak takut hk.Karma.
 
Tapi..asyik juga….  , saat mau menyantet rajanya setan…tidak berhasil
 
 
Slaman slumun slamet
Sudrajat
 
-----Original Message-----
From: wbharata [mailto:wbharata@...]
Sent: Monday, October 20, 2008 12:22 PM
To: sudrajat@...; arakman@...
Subject: Kesaksian - Semoga blm baca ya. Salam
 
Kesaksian Ki-Gendeng Pamungkas  "Yesus Menggandeng Tangan Saya"
 
Nama Ki-Gendeng Pamungkas tentu dikenal oleh banyak orang pada umum-nya,
terutama bagi yang menyukai dunia supranatural. Ki-Gendeng dikenal
sebagai seorang paranormal kontroversial yang sering melontarkan
pernyataan-pernyataan ramalan-nya dan banyak dimuat media massa. Bahkan
di-kartu nama-nya sendiri, ia benar-benar menunjuk-kan
ke-‘gendeng’-an-nya dengan men-cantum-kan tulisan :
 
 "PT Neraka Jahanam, memberi informasi masalah:
 
*        ilmu hitam/putih,
*        cara hidup/mati sehat,
*        cara berbuat baik/jahat,
*        jual beli peti mati/kain kafan baru dan bekas,
*        jual beli tanah kavling untuk kuburan,
*        jual beli setan/jin/tuyul dan sejenisnya".

Namun siapa yang menyangka, sejak tahun 1998 lalu, Ki-Gendeng menyatakan
diri-nya mengikut Yesus. Ki-Gendeng yang bernama asli Isanmarsadi adalah
anak nomor tiga dari lima bersaudara yang dibesarkan di-tengah keluarga
yang kuat dan taat tradisi-nya. Sejak kecil ia sangat senang dengan ilmu
kebatinan dan mempelajari-nya dengan sungguh-sungguh. Bahkan ketika SMP
ia su-dah beberapa kali menyembuhkan sakit teman-teman sekolah-nya.
 
Ki-Gendeng mengaku mendalami ilmu hitam pada 59 guru di 16 propinsi
di-Indonesia, dan ke-gilaan-nya pada ilmu hitam sempat membawa-nya
sampai ke-Afrika untuk belajar voodoo. Sejak 1978 karir-nya meningkat
pesat dan ia menjadi orang terkenal yang disegani banyak orang. Dengan
ilmu-nya yang tergolong tinggi, banyak orang datang kepada-nya untuk
melakukan order mem-bunuh atau mencelakakan orang. Dan untuk itu ia
menerima bayaran yang tinggi pula sehingga tak heran kekayaan-nya
semakin melimpah. Menurut pengakuan-nya, kalau dihitung-hitung sudah 800
orang mati terkena santet-nya.

Kisah pertobatan Ki-Gendeng diawali ketika ia berada di-Timur Tengah
ketika sedang menjalani kewajiban rohani bersama keluarga-nya. Tiba-tiba
saja ia mengalami kelumpuhan dan tidak bisa berjalan sehingga ia dibawa
kembali ke-hotel. Di-dalam kamar-nya Ki-Gendeng bersembahyang menurut
iman-nya meminta pertobatan, karena diyakini kelumpuhan itu adalah
akibat dosa per-buatan-nya menyantet orang.
 
Saat sembahyang itu Ki-Gendeng merasa ada yang memegang tangan-nya, tapi
tidak tahu siapa. Ibu dan anak perempuan-nya yang ada di-dekat-nya
ketika ditanya hanya diam saja. Dan saat itu tanpa disadari-nya
Ki-Gendeng sudah bisa berjalan lagi. Dengan penasaran ia bertanya lagi,
siapa yang menggandeng tangan-nya.
 
Akhir-nya keluarga-nya memberitahu bahwa yang menggandeng tangan-nya
adalah Yesus.
Kejadian aneh yang dialami-nya membuat Ki-Gendeng bingung dan
bertanya-tanya, karena ia bu-kan pengikut Yesus dan rasa-nya tidak
mungkin ibu-nya berbohong.
 
Akhir-nya iapun menyadari hal tersebut dan percaya bahwa yang
menggandeng-nya adalah Yesus. Malam hari-nya, ketika ia kembali
bersembahyang, Yesus sekali lagi menjamah-nya dan saat itu pula tanpa
ada keraguan lagi Ki-Gendeng mulai mengerti dan menerima Yesus sebagai
Tuhan.
Sepulang ke-tanah air, Ki Gendeng ternyata masih tetap praktek
menjalankan profesi-nya yang lama. Rupa-nya ia tidak sadar bahwa sejak
ia menerima Yesus segala ilmu-nya telah lenyap. Beberapa order yang ia
terima semua-nya gagal sehingga membuat-nya malu dan mengembalikan uang
yang sudah ia terima. Ramalan-nya pun masih banyak ditemui di-berbagai
media massa, dan lucu-nya, ramalan-nya banyak yang meleset tapi orang
masih mempercayai-nya.
 
Menyadari ilmu-ilmu pamungkas-nya sudah lenyap, Ki-Gendeng berasumsi
bahwa ia sekarang bukan paranormal lagi. Ia mulai sering mendengarkan
khotbah-khotbah, dan yang suka ia dengar-kan waktu itu adalah Pdt.
Gilbert Lumoindong yang sering muncul di teve. Rupa-nya Tuhan sudah
mengatur semua jalan hidup Ki-Gendeng, sehingga tanpa diduga mereka
bertemu di-Bandara Soekarno Hatta dan berada dalam satu pesawat menuju
Surabaya. Dari pertemuan itu, hubungan mereka semakin akrab dan
berlanjut dengan konseling yang lebih mendalam tentang kehidupan
Kristen.
 
Pdt. Gilbert akhir-nya memberikan suatu nama baru bagi Ki-Gendeng, yaitu
Paulus. Saat ini Ki- Gendeng, istri, anak-anak, ibu, kakak-nya yang
pertama dan adik-nya yang bungsu sudah menerima Yesus seperti diri-nya.
Ki-Gendeng dikaruniai lima orang anak, dua diantara-nya kembar
(pria-wanita) kini sedang belajar di-California, AS. Anak yang ketiga
sekolah di-Australia, nomor empat di-Singapura, dan yang bungsu masih
di-Indonesia. Sungguh ajaib karya Yesus dalam kehidupan Ki-Gendeng dan
keluarga-nya, walau tak mudah bagi seorang Ki-Gendeng untuk melepaskan
kuasa kegelapan yang menyelimuti-nya, tapi darah Yesus sanggup melakukan
itu semua.
 

Ki Gendheng Pamungkas Menangis

Kesaksian Ki Gendheng (Yogyakarta, BAHANA )
“Saya mohon didoakan oleh saudara seiman yang percaya Yesus ....agar
anak saya, Hangrani Masardi, biasa saya panggil Rindu...mudah-mudahan
bisa kembali pulang... Istri saya, anak saya dan saya sangat kangen.
Saya minta didoakan agar Rindu bisa pulang. Saya percaya anak saya masih
hidup. Hanya saya tidak tahu sekarang dia ada di mana.
Andaikata saya masih jadi pemuja Iblis, dengan ilmu vodoo saya bisa
men­cari­nya,”Ki Gendheng mengucapkan per­mintaan itu sambil
terisak-isak. Sesekali ia minum air putih agar bisa menata emo­sinya.
Sekitar 600 anggota jemaat yang hadir pada KKR GBI Bethany, 7 September
2000, terlihat hening ikut merasakan kesedihan Ki-Gendheng. Anak
keduanya itu menghilang setelah Ki Gen-dheng membuat kesaksian di-gereja
di-daerah Tubagus Angke. Rumahnya juga dibakar. Ia men-duga semua itu
perbuatan sebagian teman-temannya dulu. Dulu, ia memang dikenal sebagai
tokoh ilmu hitam yang terang-terangan mengaku sebagai “pemuja Iblis”
dalam kartu nama-nya.
 
Sejak kecil tokoh paranormal yang bernama asli Ihsan Masardi ini sudah
bercita-cita jadi “penjahat yang baik”. Ia melihat banyak orang susah
disekitarnya. Karena itu ia bertekad menjadi “perampok yang baik “ untuk
dibagi-bagikan pada orang yang miskin. Sewaktu jadi penjahat, ia pernah
bertemu almarhum Kusni Kasdut, penjahat legendaris yang ia kagumi.
 
“Dia membe­ritahu kalau mau jadi penjahat, saya harus punya macam-macam
ilmu. Misalnya ilmu Lembu Sekilan,” kata Bapak dari lima anak ini, “Dia
lalu memberi saya jimat.” Setelah itu ia men-datangi beberapa tokoh
dukun di-Jawa dan Kalimantan.
 
Suatu saat ayah-nya jatuh sakit. Dokter mengatakan tidak apa-apa, tapi
menurut paranormal ayah-nya kena santet. Ia ingin tahu orang yang
menyantet ayah-nya. Ia lalu berkisah: “Tanpa sengaja saya melihat film
horor tentang seorang anak yang belajar ilmu santet. Di-situ-lah saya
dapat ide belajar ilmu santet. Pertama kali saya datangi kawasan Jampang
Surade di-desa Ciwaru untuk ber-guru pada bapak Hasan. Setelah lulus
jadi penyantet, saya harus membunuh guru saya itu.
 
Saat pulang, ayah saya sudah koma di RS Gatot Subroto. Dua hari kemudian
akhirnya meninggal. Saya semakin ber­tekad mencari orang yang menyantet
ayah saya. Ternyata orang itu adalah rekan kerja ayah yang tidak suka
pada posisi ayah saya.
Pada malam Selasa Kliwon, saya memprak­tikkan ilmu santet saya. Kamis
pagi jam sembilan orang itu meninggal dunia.
Ketika di Moskow saya melihat para-normal bisa dikomersialkan. Karena
itulah saya berani me-masang pengumuman di Hotel Hilton Jakarta: ’Ki
Gendheng Pamungkas menerima order santet’”. Kalau yang saya santet tidak
mati, orang itu harus saya tembak. Kehidupan saya ketika itu cukup enak.
Saya bisa menyekolahkan anak saya ke luar negeri. Saya juga punya rumah
di-Australia, Kalifornia dan Singapura.
 
Tapi hati saya tidak tenteram dan hampir tidak bisa tidur. Puncaknya,
saat melakukan perjalanan spiritual ke luar negeri saya jatuh terkapar
tak berdaya. Untung-nya, saya bisa sembuh dari ke­lum-puhan setelah saya
dija­mah tangan Tuhan Yesus. Saya hanya melihat bayang­annya sekali,
tapi ibu saya, anak saya dan saudara saya beberapa kali melihat
bayang­an Yesus di dekat saya.
 
Saya lalu pulang ke Jakarta, tapi peristiwa itu saya pendam nyaris 5
tahun. Saya tidak cerita pada siapa pun. Hingga suatu saat saya bertemu
Pdt Gilbert Lumoindong. Saya bilang pada pak Gilbert, “ Saya ingin
menjadi orang Kristen”, kata saya. Tapi pak Gilbert memberi syarat,
“Kamu harus buang semua ilmu vodoo kamu.”
 
Saya belajar ilmu vodoo dari Afrika karena sangat praktis. Untuk
menyantet orang. tidak perlu per-siapan yang berhari-hari. Bila ada
order datang jam tujuh, korbannya sudah mati pada jam delapan. Perlu
diketahui, saya bekerja sama dengan oknum dokter di RSCM agar bisa
membeli darah dan otak korban kecelakaan atau korban pembunuhan. Ritual
vodoo me­mang harus menggunakan cara itu. Saat melakukan penyembahan,
barang-barang itu saya minum dan makan. Untuk mendapatkan ilmu vodoo
itu, saya harus membunuh seorang wanita yang belum menstruasi. Dia saya
beri rempah-rempah selama 3 hari, 3 malam, lalu menidurinya. Setelah itu
saya, memakan otak, hati dan jantungnya. Tulang rusuknya saya ambil
untuk dijadikan susuk di tangan kanan saya.
 
Pak Gilbert menyuruh saya membuang susuk itu. Sebenarnya ia menyuruh
saya pergi ke rumah sakit. Tapi saya tolak karena caranya tidak boleh
begitu. Saya lalu ambil silet untuk menyilet tangan saya sendiri.
Lukanya sepanjang 10 cm Rasanya sakit sekali! Untuk menjahit lukanya,
saya pakai benang jahit sepatu. Kebetulan ada tukang sol sepatu yang
lewat.  Melihat itu Pak Gilbert hanya bisa menangis. Tapi saya
bi­lang,”Nggak apa-apa Pak. Saya sudah biasa sakit.”
 
Peristiwa itu juga saya pendam. Tapi rencana Ye­sus memang lain. Saya
ketemu Pdt. J. Girsang yang juga seorang penga­cara.
Kebetulan saya se­dang mengin­timidasi se­buah pengadilan di Lampung.
Saya minta tolong untuk dica­rikan pendeta yang bisa
menginter­pres­tasikan sikap-sikap kontro­versial saya ini. Lalu
ditunjuk-lah Pak Hans Jefferson. Oleh Pak Hans saya diminta membuat
kesaksian tentang peng-alaman spiritual saya itu, bahwa yang
menyem­buh-kan saya adalah Tuhan Yesus.
Jejak saya mengikut Yesus ini diikuti oleh ibu saya, anak saya yang
pertama, kedua dan kelima, kakak saya nomor satu, adik saya nomor enam
dan tujuh. Kini saya bercita-cita ingin menjadi pelayan Yesus yang
baik,” kata Ki Gendheng. @biz
 
 
ABRAHAM DAVID MANDEY
Tinggalkan Gereja, Tanggalkan Status Perwira
Sumber: Di scan dari buku Saya Memilih Islam (Abdul Baqir Zein)
 
PENGANTAR

Assalammualaikum WR WB

Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidup-nya
merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David
Mandey yang se-lama 12 tahun mengabdi di-gereja sebagai "Pelayan Firman
Tuhan", istilah lain un-tuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai
jalan hidup akhir dengan segala ri-siko dan konsekuensi-nya.
 
Di-samping itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan
pangkat mayor, harus meng-ikhlas-kan diri melepas jabatan, dan memulai
karir dari bawah lagi se-bagai kepala keamanan di-sebuah perusahaan
swasta di-Jakarta.
 
Saya terlahir dengan nama Abraham David di-Manado, 12 Februari 1942.
Sedang-kan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang
Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dari tiga bersaudara yang
seluruh-nya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik
di-Lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa
kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direk-torat Agraria yang
merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemer-dekaan
Republik Indonesia yang berkedudukan di-Makasar (sekarang Ujungpandang,
peny.). Sedang-kan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang
guru SMA di-lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.
 
Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti
Richard Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal
Napoleon Bona-parte yang gagah perwira. Semua cerita tentang
kepahlawanan, begitu membekas dalam batin saya sehingga saya sering
berkhayal menjadi seorang tentara yang ber-tempur dengan gagah berani
di-medan laga.
 
Singkat-nya, saya berangkat ke-Jakarta dan mendaftar ke-Mabes ABRI.
Tanpa me-nemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu,
saya resmi mengikuti pendidikan dan tinggal di-asrama.
 
Tidak banyak yang dapat saya ceritakan dari pendidikan militer yang saya
ikuti sela-ma 2 tahun itu, kecuali bahwa disiplin ABRI dengan doktrin
"Sapta Marga"-nya telah menempa jiwa saya sebagai perwira remaja yang
tangguh, berdisiplin dan siap melaksanakan tugas negara yang di-bebankan
kepada saya. Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan
mental, tetapi dalam beberapa operasi tem-pur saya selalu di-libatkan.
 
Pada saat-saat operasi pembersihan G3OS/PKI di-Jakarta, saya ikut
bergabung dalam komando yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo
(almarhum). Setelah situasi negara pulih yang ditandai dengan lahir-nya
Orde Baru tahun 1966, oleh kesatuan saya di-tugaskan belajar ke-STT
(Sekolah Tinggi Teologi) milik gereja Katolik yang ter-letak di-Jalan
Proklamasi, Jakarta Pusat.
 
Di- STT ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami,
mengkaji, dan dis-kusi tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai
seorang pendeta. Di-samping be-lajar sejarah dan filsafat agama Kristen,
STT juga memberikan kajian tentang seja-rah dan filsafat agama-agama
di-dunia. Termasuk studi tentang Islam.
 
MENJADI PENDETA

Sambil tetap aktif di-TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya
di-tugas-kan menjadi Pendeta II di Gereja Paulus yang berlokasi di-Jalan
Taman Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, bertetangga dengan Masjid Sunda
Kelapa. Di-gereja inilah, selama kurang lebih 12 tahun (1972-1984) saya
me-mimpin sekitar 8,000 jemaat yang hampir 80 persen adalah kaum
intelektual atau masyarakat elit. Di-Gereja Pau-lus ini saya tumpah-kan
seluruh pengabdian untuk pelayanan firman Tuhan.
 
Tugas saya sebagai Pendeta II selain memberikan khutbah, menyantuni
jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga me-nikah-kan
pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga. Kendati sebagai pendeta,
saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap di-tugas-kan dimana saja
di-wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI, saya sering bertugas
ke-seluruh pelosok tanah air. Bahkan, ke-luar negeri dalam rangka tugas
belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland
Armed Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya
di-tugas-kan untuk mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara
Berkembang yang disponsori oleh UNESCO di-Paris, Prancis.
 
DILEMA RUMAH TANGGA

Kesibuk-kan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja,
membuat saya sibuk luar biasa. Sebagai pendeta, saya lebih banyak
memberikan perhatian kepada jemaat. Sementara, kepentingan pribadi dan
keluarga nyaris tergeser. Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI
di-salah satu negara Eropa, sering me-ngeluh dan menuntut agar saya
memberikan perhatian yang lebih banyak buat ru-mah tangga. Tetapi yang
nama-nya wanita, umum-nya lebih banyak berbicara atas dasar perasaan.
Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bah-kan
meminta agar saya meng-undur-kan diri dari tugas-tugas gereja, dengan
alasan supaya lebih banyak waktu untuk keluarga.
 
Tentu saja saya tidak dapat menerima usulan-nya itu. Sebagai seorang
"Pelayan Firman Tuhan" saya telah bersumpah bahwa kepentingan umat
diatas segala-nya. Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini
kian memanas, sehingga bak api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya,
tidak lagi harmonis. Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu
pertengkaran. Tidak ada lagi keda-maian di-rumah. Saya sangat
meng-khawatir-kan Angelique, putri saya satu-satu-nya. Saya khawatir
perkembangan jiwa-nya akan terganggu dengan masalah yang ditimbul-kan
kedua orang tua-nya. Oleh karena-nya, saya bertekad harus merangkul anak
saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayah-nya sebagai pendeta
yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya
Angelique-lah satu-satu-nya orang di-rumah yang menyambut hangat setiap
kepulangan saya.
 
Dalam kesunyian malam saat bebas dari tugas-tugas gereja, saya sering
merenung-kan kehidupan rumah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir,
buat apa saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan
kebahagiaan buat rumah tangga-nya sendiri. Saya sering memberi-kan
khutbah pada setiap kebaktian dan menekankan hendak-nya setiap umat
Kristen mampu memberikan kasih kepada sesama umat manusia.
 
Lalu, bagaimana dengan saya?
 
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya
men-coba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semua-nya sudah terlambat.
Istri saya bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya
sebagai pendeta. Saya benar-benar dileceh-kan. Saya sudah sampai pada
kesimpulan bahwa antara kami berdua sudah tidak sejalan lagi.
 
Lalu, untuk apa mempertahan-kan rumah tangga yang sudah tidak saling
sejalan?
 
Ketika niat saya untuk "melepas" istri, saya sampaikan kepada
sahabat-sahabat dekat saya sesama pendeta, mereka umum-nya menyaran-kan
agar saya bertindak lebih bijak. Mereka meng-ingat-kan saya,
 
bagaimana mungkin seorang pendeta yang sering menikah-kan seseorang,
tetapi ia sendiri justru mencerai-kan istri-nya?
 
Bagaimana dengan citra pendeta di-mata umat?
 
Begitu mereka menginga-tkan. Apa yang mereka katakan semua-nya benar.
Tetapi, saya sudah tidak mampu lagi mem-pertahan-kan bahtera rumah
tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu bukan lagi persoalan menjaga
citra pendeta. Tetapi, bagai-mana agar batin saya dapat damai.
Singkat-nya, dengan berat hati saya terpaksa men-cerai-kan istri saya.
Dan, Angelique, putri saya satu-sat-unya memilih ikut ber-sama saya.
 
MENCARI KEDAMAIAN

Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi.
Saya men-jadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama.
Termasuk kajian ten-tang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya
sukai. Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak
di-lansir media massa. Salah satu-nya tentang komentar K.H. E.Z.
Muttaqin (almarhum) terhadap krisis perang saudara di -Timur Tengah,
seperti di-Yerusalem dan Libanon. Waktu itu (tahun 1983), KH. E.Z.
Muttaqin mempertanya-kan dalam khutbah Idul Fitri mengapa Timur Tengah
selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di-tempat itu
di-turun-kan para nabi yang mem-bawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?

 
Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dari Jawa Barat itu.
Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di-gereja, khutbah Idul Fitri
K.H. E.Z.Muttaqin itu saya sampai-kan kepada para jemaat kebaktian. Saya
merasakan ada ke-kagetan di-mata para jemaat. Saya maklum mereka
terkejut, karena baru pertama kali mereka mendengar khutbah dari seorang
pendeta dengan menggunakan refe-rensi seorang kiai.Tetapi, bagi saya itu
penting, karena pesan perdamaian yang di-sampai-kan beliau amat
manusiawi dan universal.
 
Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan.
Secara selen-tingan saya pemah mendengar, "Pendeta Mandey telah miring."
Maksud-nya, saya dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi,
saya tidak peduli, karena yang saya sampai-kan adalah nilai-nilai
kebenaran. Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yang di-angkat
oleh K.H. E.Z. Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami
konsepsi-konsepsi lslam lain-nya. Saya ibarat membuka pintu,lalu masuk
ke-dalam-nya, dan setelah masuk, saya ingin masuk lagi ke-pintu yang
lebih dalam. Begitu-lah perumpamaan-nya.
 
Saya semakin "terseret" untuk mendalami, konsepsi Islam tentang
ketuhanan dan peribadahan. Saya begitu tertarik dengan konsepsi
ketuhanan Islam yang disebut tauhid. Konsep itu begitu sederhana, lugas,
dan tuntas dalam menjelas-kan eksis-tensi Tuhan yang oleh orang Islam
disebut Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga, orang yang paling awam
sekali-pun akan mampu mencerna-nya, Berbeda dengan konsepsi ketuhanan
Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu rumit sehing-ga
di-perlukan argumentasi ilmiah untuk memahami-nya.
 
Akan hal-nya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya
melihat-nya begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir, seandai-nya
sistem peribadatan yang seperti ini benar-benar diterap-kan, maka dunia
yang sedang kacau ini akan mampu diselamat-kan.
 
Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama
satu setengah tahun saya melakukan konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha
yang juga aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak
ingin gegabah dan tergesa-gesa, karena di-samping saya seorang pendeta,
saya juga seorang perwira Bintal Kristen di-lingkungan TNI-AD. Saya
sudah dapat menduga apa yang akan terjadi seandainya saya masuk Islam.
Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian
tidak dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak
kuat agar saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.
 
Oh, ya, di-samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi
dengan kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira
Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan
Intelijen dan Strategi) ABRI. Ia seorang muslimah lulusan UGM
(Universitas Gajah Mada) Yogyakarta, jurusan filsafat. Kepada-nya saya
sering berkonsultasi tentang masalah-masalah pribadi dan keluarga. la
sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan pribadi dan
keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam kegundahan
seba-gai duda yang gagal dalam membina rumah tangga-nya.
 
Akhir-nya, saya semakin yakin akan hikmah di-balik drama rumah tangga
saya. Saya yakin bahwa dengan jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya
ke-jalan yang lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya
tidak akan melepas kebenaran yang telah saya raih ini. Akhi-rnya, dengan
kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 14 Mei 1984 saya
mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H. Kosim
Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di-Masjid Istiqlal. Allahu Akbar.
Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Hari saat
saya menemukan diri saya yang sejati.
 
MENGHADAPI TEROR

Berita tentang ke-islaman saya ternyata amat mengejut-kan kalangan
gereja termasuk di-tempat kerja saya di-TNI-AD. Wajar, karena saya
adalah Kepala Bintal (Pembinaan Mental) Kristen TNI AD dan di-gereja,
saya adalah pentolan. Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru,
yaitu menghadapi teror dari berbagai pihak. Telepon yang bemada ancaman
terus berdering. Bahkan, ada sekelompok pemuda gereja di-Tanjung Priok
yang bertekad menghabisi nyawa saya, karena dianggap-nya telah murtad
dan mem-permalu-kan gereja. Akan hal-nya saya, di-samping menghadapi
teror, juga menghadapi persoalan yang menyangkut tugas saya di-TNI- AD.
DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan mengirim surat ke-Bintal TNI-AD,
meminta agar saya dipecat dari kedinasan di-jajaran ABRI dan agar saya
mem-pertanggung-jawab-kan perbuatan saya itu di-hadapan majelis gereja.
 
Saya tidak perlu menjelaskan secara detail bagaimana proses
selanjut-nya, karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas
setelah itu, saya menerima surat ucapan terima kasih atas tugas-tugas
saya kepada negara, sekaligus pembebas-tugasan dari jabatan saya
di-jajaran TNI-AD dengan pangkat akhir Mayor. Tidak ada yang dapat saya
ucap-kan kecuali tawakal dan menerima dengan ikhlas semua yang terjadi
pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman. Saya yang terlahir dengan
nama Abraham David Mandey, setelah muslim menjadi Ahmad Dzulkifli
Mandey, meng-alami ujian hidup yang cukup berat. Alhamdulillah, berkat
kegigihan saya, akhir-nya saya di-terima bekerja di-sebuah perusahaan
swasta. Sedikit demi sedikit karir saya terus menanjak. Setelah itu,
beberapa kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting.
Saya pernah menjadi Manajer Divisi Utama PT Putera Dharma. Pernah
menjadi Personnel/General Affairs Manager Hotel Horison, tahun
1986-1989. Dan, sejak tahun 1990 sampai sekarang saya bekerja di -sebuah
bank ternama di-Jakarta sebagai Safety & Security Coordinator. Kini,
keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua kebahagiaan
yang selama sekian tahun saya rindukan.
 
Saya sudah tidak lagi sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu,
kini menjadi pendamping saya yang setia, Insya Allah selama hayat masih
di-kandung badan. Saya menikahi-nya tahun 1986. Dan, dari pernikahan itu
telah lahir seorang gadis kecil yang manis dan lucu, nama-nya Achnasya.
Sementara, Angelique, putri saya dari istri pertama, sampai hari ini
tetap ikut bersama saya, meski-pun ia masih tetap sebagai penganut
Protestan yang taat. Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala
saya mendapat kesempatan me-nunai-kan ibadah Suci bersama istri tercinta
pada tahun 1989.
 
(Albaz)
Wa-alaikum Salam Wr Wb
 

 « Return to Thread: Kesaksian - Semoga blm baca ya. Salam --> Siapa mau ikut Ki Gendeng...Pamungkas..= Hebat ..tidak takut hk.Karma.