« Return to Thread: MIMPI BURUK SANG TEOLOG.

MIMPI BURUK SANG TEOLOG.

by adji mudhita :: Rate this Message:

Reply to Author | View in Thread


Mimpi Buruk Sang Teolog.



Sang teolog kenamaan, Dr. Thaddeus, bermimpi bahwa ia meninggal dunia dan
berjalan menuju surga. Penelitiannya telah mempersiapkannya dan ia tidak
menemui kesulitan menemukan jalannya. Ia mengetuk pintu surga, dan
menghadapi pemeriksaan yang jauh lebih teliti daripada yang diharapkannya.


"Saya minta masuk," katanya, "karena saya manusia baik dan membaktikan hidup
saya demi kemuliaan Tuhan."

 

"Manusia?" tanya penjaga pintu surga, "Apa itu? Dan bagaimana sebuah makhluk
lucu seperti Anda berbuat sesuatu untuk meningkatkan kemuliaan Tuhan?"

 

Dr. Thaddeus tercengang. "Anda tentu bukan tidak tahu tentang manusia. Anda
tentu tahu bahwa manusia adalah karya Sang Pencipta yang paling luhur."

 

"Mengenai itu," kata penjaga pintu surga, "saya mohon maaf kalau menyinggung
perasaan Anda, tetapi apa yang Anda katakan adalah hal baru buat saya.
Namun, karena Anda tampak tidak senang dan gelisah, Anda boleh berkonsultasi
dengan ahli perpustakaan kami."


Sang ahli perpustakaan, suatu makhluk bundar dengan seribu mata dan satu
mulut, menyorotkan beberapa matanya kepada Dr Thaddeus.

 

"Apa ini?" tanyanya kepada penjaga pintu surga.

 

Jawab penjaga pintu surga, "Ini berkata bahwa ia anggota suatu spesies yang
disebut 'manusia', yang hidup di sebuah planet bernama 'Bumi'. Ia mempunyai
pengertian aneh bahwa Sang Pencipta berminat khusus terhadap tempat itu dan
terhadap spesies itu. Saya rasa Anda dapat menjelaskan kepadanya."

 

"Yah," kata sang ahli perpustakaan dengan ramah kepada sang teolog, "mungkin
Anda dapat menjelaskan kepada saya di mana tempat yang Anda sebut 'Bumi'
itu."

 

"Oh," kata sang teolog, "itu bagian dari Tata Surya kami."

 

"Dan apa itu Tata Surya?" tanya sang ahli perpustakaan.

 

"Oh," kata sang teolog dengan agak bingung, "bidang saya adalah Pengetahuan
Suci, tetapi pertanyaan yang Anda ajukan termasuk bidang pengetahuan profan.
Namun, saya cukup banyak belajar dari rekan-rekan saya di bidang astronomi
dan dapat mengatakan bahwa Tata Surya adalah bagian dari Bima Sakti."

 

"Dan apakah Bima Sakti itu?" tanya sang ahli perpustakaan.

 

"Oh, Bima Sakti adalah salah satu dari Galaksi-Galaksi, yang saya dengar
jumlahnya beberapa ratus juta buah."

 

"Baiklah, baiklah," kata sang ahli perpustakaan, "Anda tidak bisa
mengharapkan saya mengingat salahsatu dari begitu banyak. Tetapi saya ingat,
dulu pernah mendengar kata 'galaksi' itu. Bahkan, salah seorang asisten ahli
perpustakaan kami mengkhususkan diri di bidang galaksi. Marilah kita panggil
dia dan lihat apakah dia bisa membantu."


Tidak berapa lama kemudian, asisten ahli perpustakaan galaktik itu muncul.
Wujudnya makhluk berbidang dua belas. Jelas bahwa permukaan tubuhnya pernah
cemerlang, tetapi debu rak-rak perpustakaan telah membuatnya gelap dan
buram.

 

Sang ahli perpustakaan menjelaskan kepadanya bahwa Dr. Thaddeus, dalam
mencoba menjelaskan tempat asalnya, menyebut-nyebut 'galaksi', dan ia
mengharapkan bisa memperoleh informasi dari bagian galaktik di perpustakaan
itu.

 

"Yah," kata sang asisten ahli perpustakaan, "saya rasa lama kelamaan bisa,
tetapi karena ada ratusan juta galaksi, dan masing-masing mempunyai bukunya
sendiri, perlu beberapa waktu untuk menemukan buku yang sesuai. Manakah yang
diinginkan oleh molekul aneh ini?"

 

"Galaksi yang disebut 'Bima Sakti'," jawab Dr. Thaddeus terbata-bata.
"Baiklah," kata asisten ahli perpustakaan, "Saya akan mencarinya kalau
dapat."

Sekitar tiga minggu kemudian ia kembali, dan menjelaskan bahwa sistem kartu
indeks yang amat efisien dari seksi galaktik perpustakaan itu
memungkinkannya menemukan galaksi itu sebagai nomor QX 321.762. "Kami telah
mengerahkan," katanya, "seluruh kelima ribu staf seksi galaktik untuk
pencarian ini. Mungkin Anda ingin bertemu dengan staf yang khusus
berkepentingan dengan galaksi yang dipermasalahkan ini?"

 

Staf itu dipanggil, dan ternyata merupakan makhluk berbidang delapan dengan
satu mata di setiap bidang dan satu mulut di salahsatu bidang. Ia terkejut
dan nanar mendapati dirinya di ruangan yang berkilauan itu, jauh dari
keremangan rak-rak bukunya. Sambil menenangkan diri, ia bertanya dengan agak
kemalu-maluan, "Apakah yang ingin Anda ketahui tentang galaksi saya?"

 

Dr. Thaddeus menjawab: "Yang saya inginkan ialah mengetahui tentang Tata
Surya, suatu kumpulan benda langit yang beredar mengelilingi suatu bintang
di galaksi Anda. Bintang yang dikelilingi oleh benda-benda langit itu
disebut 'Matahari'."

 

"Hmmm," kata staf ahli Bima Sakti itu, "sungguh sulit menemukan galaksi yang
dimaksud, tetapi menemukan bintang yang dimaksud di dalam galaksi itu jauh
lebih sulit lagi. Saya tahu ada sekitar tiga ratus milyar bintang di galaksi
ini, tetapi saya sendiri tidak mempunyai pengetahuan untuk membedakan satu
bintang dari bintang yang lain. Namun, saya rasa, suatu daftar dari seluruh
tiga ratus milyar bintang itu pernah diminta oleh pihak Administrasi, dan
mungkin daftar itu masih tersimpan di ruang basement. Jika Anda menganggap
itu bermanfaat, saya akan mengerahkan tenaga dari Tempat Lain untuk mencari
bintang ini."


Maka diputuskan, karena masalah itu telah muncul dan Dr Thaddeus jelas
tampak gelisah, mungkin itu jalan terbaik yang perlu diambil.

Beberapa tahun kemudian, suatu makhluk berbidang empat yang tampak amat
lelah dan tidak bersemangat, datang ke hadapan asisten ahli perpustakaan
bagian galaktik.

 

Katanya, "akhirnya saya berhasil menemukan bintang yang dicari itu, tetapi
saya sama sekali tidak mengerti mengapa bintang itu membangkitkan minat
begitu besar. Ia mirip dengan sejumlah besar bintang lain di galaksi yang
sama. Berukuran sedang dan bersuhu sedang, ia dikelilingi beberapa benda
langit yang jauh lebih kecil, disebut 'planet'. Setelah diteliti dengan
saksama, saya mendapati bahwa, setidak-tidaknya beberapa planet ini
mempunyai parasit, dan saya rasa makhluk yang melakukan penyelidikan ini
tentulah salahsatu dari parasit itu."

Di situ, Dr. Thaddeus meletup dalam ratapan yang kuat dan penuh amarah:
"Mengapa, oh mengapa, Sang Pencipta menyembunyikan dari kami, penghuni Bumi
yang malang ini, bahwa bukan kamilah yang mendorong-Nya untuk menciptakan
Surga? Sepanjang hidup saya yang lama, saya telah melayaninya dengan rajin,
dan merasa yakin bahwa Ia akan melihat layanan saya dan mengganjar saya
dengan Kebahagiaan Abadi. Dan sekarang, tampak bahwa Dia bahkan tidak tahu
saya ada. Anda berkata bahwa saya merupakan jasad renik yang amat kecil pada
suatu benda kecil yang beredar mengelilingi salah satu anggota dari kumpulan
tiga ratus milyar bintang, yang hanya merupakan salahsatu dari jutaan
kumpulan-kumpulan bintang seperti itu. Saya tidak bisa menerima itu, dan
tidak bisa lagi memuja Pencipta saya."

 

"Baiklah," kata penjaga pintu surga, "kalau begitu Anda boleh pergi ke
Tempat Lain."

Lalu terbangunlah sang teolog itu. "Kuasa Setan terhadap imajinasi kita di
waktu tidur sungguh mengerikan," gumamnya.


~ Bertrand Russell.

________________________
Dari: Fact and Fiction, 1961; terjemahan: Hudoyo.

Kiriman: "ANS"
<http://us.f351.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=PHOEN1X@...&Subj=Re:%20B
ertrand%20Russell%3A%20Mimpi%20Buruk%20Sang%20Teolog> PHOEN1X@... via
milis 4W4RENESS pada hari Jumat, 25 Agustus 2006.

 



****************************************************************

Walaupun Kesadaran tidak bergerak, ia senantiasa dinamis, hidup.
Segala jenis gerak -kasar maupun halus- mengada di dalamnya,
karena sesungguhnya tidak ada apapun
yang benar-benar di luar Kesadaran.
Ia juga senantiasa murni, jernih, terang, hening dan bening.

~anonymous 300506.

****************************************************************

 « Return to Thread: MIMPI BURUK SANG TEOLOG.