Mengamati Sifat Sugriwa dan Subali Dalam Diri

View: New views
1 Messages — Rating Filter:   Alert me  

Mengamati Sifat Sugriwa dan Subali Dalam Diri

by Leonardo Rimba :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Oleh Triwidodo Djokorahardjo di facebook.


Saat marah-marah, dalam keadaan pikiran kacau dan emosi bergejolak,
napas ikut menjadi kacau. Kita cenderung menarik dan membuang napas
lebih cepat. Itulah yang saya maksud dengan pemborosan napas. Napas
kita menjadi 24 hingga 32 siklus per menit. Keputusan yang kita ambil
pada saat-saat seperti itu terbukti hampir selalu salah. Janganlah
mengharapkan kreativitas dari seseorang yang sedang bernapas cepat.
Kreativitas adalah hasil pikiran yang tenang, jernih, dan emosi yang
stabil. Kedua hal itu merupakan prasyarat utama bagi pengembangan
kreativitas diri. Seekor kera bernapas 32 hingga 36 siklus per menit,
maka ia tidak sekreatif manusia; padahal anatomi otaknya tidak jauh
berbeda dari anatomi otak manusia. Dengan napas normal 15 siklus per
menit saja kita sudah dapat berpikir, dan bertindak sesuai dengan apa
yang kita pikirkan. Keberhasilan kita selama ini berdasarkan sikluls
napas normal tersebut. Kurangi siklus napas Anda, maka Anda dapat
menambah tingkat keberhasilan Anda. Dengan mengurangi siklus napas,
otak kita dapat mencerna lebih baik, dan dapat berpikir lebih jernih.
Ide-ide baru pun muncul, sehingga kita menjadi lebih kreatif.
Kreativitas itulah yang membuat kita lebih berhasil! *1 Life Workbook



Gelombang otak dan frekuensi napas



Alat pengukur gelombang otak adalah Electro Encephalograph (EEG).
Grafik EEG menunjukkan pergerakan gelombang otak. Satuan ukuran dalam
EEG adalah hertz.

Keadaan tegang atau rileks mempengaruhi gelombang otak. Pada waktu
normal, keadaan dimana dalam satu saat pikiran terpecah, misalnya
sambil menyetir mobil, ngobrol dengan teman sebelah, memperhatikan
orang mau menyeberang, juga melihat reklame, maka gelombang otak
berkisar 14 hertz. Kondisi gelombang otak antara 14 – 30 hertz disebut
kondisi beta.



Pada waktu pikiran mulai terfokus, misalnya membaca buku dengan asyik,
sehingga tubuh mulai tidak terpikirkan maka kita mulai masuk kondisi
alpha, antara 14-7 hertz. Pada waktu itu napas kita menjadi lebih
tenang, kondisi tersebut juga terjadi ketika kita melakukan meditasi
atau pada waktu akan tidur.

Apabila gelombang otak melambat antara 7-3.5 hertz, diri kita akan
lebih tenang lagi, diri kita masih ada tetapi fisik sudah terabaikan
sama sekali. Kondisi tersebut dikenal sebagai kondisi theta. Keadaan
itu juga terjadi pada waktu kita bermimpi.



Apabila napas semakin melambat maka akan terjadi ‘deep sleep’, tidur
tanpa mimpi, dan gelombang otak berkisar 3.5-0.5 hertz. Ketika itu
terjadi peremajaan dan penyembuhan sel tubuh. Ketika sedang sakit,
seseorang akan tidur lebih banyak karena tubuh berusaha menyembuhkan
dirinya sendiri. Pada waktu keadaan koma, gelombang otak berada pada
0.5 hertz. Sebaliknya ketika pikiran begitu kacau, napas begitu tak
teratur gelombang otak berada pada kondisi gama, diatas 30 hertz.



Antara manusia dan kera



Konon anatomi otak manusia dan otak kera hampir sama, perbedaannya
terletak pada cara bernafasnya. Kera bernafas sekitar 32 siklus per
detik sedangkan manusia pada saat normal bernafas dengan 14 siklus per
detik. Perbedaan nafas itu membuat kera lebih sembrono dan tergesa-gesa
mengambil keputusan.



Dalam diri kera masih terdapat sifat bawaan asli hewani, ‘fight or
flight’, berkelahi bila merasa menang atau lari bila merasa kalah
menghadapi musuhnya. Manusia purba pun harus menaklukkan
binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus
membunuh demi keselamatannya. Reaksi awalnya adalah ‘fight or flight’.



Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana satu-satunya hukum yang
berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang
atau takut dan melarikan diri dari medan perang, menghindari
peperangan. Hukum ini membuat manusia kuno, manusia zaman batu dan besi
, menjadi keras, alot. Ya, otot-ototnya menjadi kuat, karena ia sering
menggunakannya. Ia mesti menggunakannya. Ia harus menaklukkan
binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus
membunuh demi keselamatannya. *2 The Gita of Management



Sugriwa dan Subali konon asalnya manusia yang masih memiliki sifat
kekeraan. Mereka sudah bertapa selama bertahun-tahun, sudah semestinya
mereka melampaui sifat-sifat kekeraan, akan tetapi ternyata sifat
kesembronoan dan ketergesaan masih ada dalam diri mereka. Apakah sifat
ini juga masih melekat dalam diri kita? Cara pandang kita terhadap
peristiwa Sugriwa dan Subali, bisa berbeda, akan tetapi yang penting
adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan kisah tersebut untuk
meningkatkan kesadaran diri kita.



Bertemu Hanuman keponakan Sugriwa



Dalam pencarian Dewi Sinta, Sri Rama dan Laksmana dihadang Raksasa
Kabanda. Kabanda dapat dikalahkan dan Laksmana diminta Sri Rama
membuntungi kaki dan tangan Kabanda. Kabanda berkata, “ Wahai Sri Rama,
Narayana yang mewujud untuk membasmi adharma. Aku telah berbuat salah
dan dikutuk menjadi raksasa, hutang kesalahanku akan terlunaskan kala
seorang avatara membuntungi tangan dan kakiku yang telah berbuat
kesalahan. Kini aku telah terbebaskan, dan aku akan melanjutkan
perjalananku. Mengenai Dewi Sinta, jangan khawatir, Dewi Sinta tidak
dapat disentuh oleh Rahwana, kesucian Dewi Sinta akan menyebabkan siapa
pun yang berniat tidak baik terhadapnya akan terbakar. Carilah Sugriwa,
dia menguasai seluruh hutan ini dan dia dapat membantu menemukan Dewi
Sinta.”



Dan Raksasa Kabanda pun meninggal dunia. Kabanda yang percaya kepada
‘Sri Rama’, ‘Dia Yang Berada di Mana-Mana’, menyerahkan anggota
tubuhnya untuk tidak mengikuti nafsunya ‘mind’-nya lagi.



Selanjutnya, Sri Rama dan Laksmana bertemu dengan Sabari, adik
perempuan Resi Matanga. Sabari yang sudah tua renta sebetulnya ingin
mati tatkala Resi Matanga mendekati kematian, akan tetapi hal tersebut
dilarang oleh sang resi dan diminta menunggu ‘darshan’, bertemu dengan
Sri Rama. Setelah bertemu Sri Rama, Sabari meninggal dunia. Begitu
sabarnya seseorang menunggu bertemu dengan seorang avatar, apakah kita
akan punya kesabaran seperti Sabari yang menunggu bertahun-tahun untuk
bertemu dengan orang suci? Kesucian kita mungkin telah tertutup karat
dunia, sehingga tidak dapat merasakan kebutuhan bertemu orang suci.
Kabanda dan Sabari telah mendapatkan kedamaian hati.



Kedamaian-Mu adalah ketenangan diriku. Kehendak-Mu menuntut
langkahku. Kepasrahan seperti ini “terjadi” bila kita sudah tidak
mengejar apa-apa lagi. Tidak “mau” ke mana-mana lagi. Kemauan diri
telah hanyut dalam Kehendak Ilahi. Kepasrahan tidak berarti anda duduk
diam di rumah. Keledai “badan” masih butuh makan. Keledai “pancaidra”
masih perlu dikendalikan. Anda masih menunggangi keledai “kehidupan”.
Tetaplah bekerja dan berupaya, tetapi berhenti kejar-mengejar.*3 Fiqr



Di dekat tempat tersebut Sri Rama bertemu Hanuman. Begitu bertemu Sri
Rama Hanuman merasa berbahagia, inilah Guru yang selalu ditungguinya
selama ini. Beruntunglah Hanuman, bila Kabanda dan Sabari mati begitu
bertemu dengan Sri Rama, maka Hanuman justru memulai hidup baru setelah
bertemu Sang Guru. Sifat kekeraan hanuman lenyap bila selalu mengabdi
kepada Sri Rama, Hanuman menjadi bhakta dari Dia Yang Berada di
Mana-mana. Hanuman pasrah kepada kehendak Sri Rama. Setelah
memperkenalkan diri, Hanuman menggendong Sri Rama dan Laksmana di
pundaknya naik ke bukit Malaya, tempat Sugriwa berada.



Tiga bersaudara Anjani, Subali dan Sugriwa



Anjani, Subali dan Sugriwa adalah putra-putri Resi Gotama dengan Dewi
Windradi yang sedang meningkat remaja. Pada suatu hari Dewi Windradi
menghadiahkan sebuah ‘cupu’ kepada Anjani. Melihat keajaiban cupu
tersebut, ketiga bersaudara berselisih memperebutkan barang tersebut.
Sang ayah mengambil ‘cupu’ tersebut dan membuang ke telaga Madirda.
Kedua kakaknya langsung terjun ke telaga mencari cupu, sedangkan
dirinya menunggu di tepi telaga dan karena kepanasan maka dia membasahi
mukanya dengan air telaga. Subali dan Sugriwa berubah menjadi kera,
sedangkan Anjani, wajahnya berubah menjadi wajah kera.



Bertiga mereka menangis menghadap sang ayahanda yang kemudian memberi
nasehat, “Kalian belajar mengendalikan diri, dimulai dari mengendalikan
fisik makan dan minum. Kemudian sadarilah dirimu, fisikmu, energi
hidupmu, mental emosionalmu, intelegensiamu. Anjani, bersyukurlah,
sebagai wanita kau sudah memiliki kelembutan. Bertapalah seperti Kodok
di telaga ini. Kodok adalah binatang yang luar biasa. Dia bisa hidup di
air dan bisa hidup di darat. Manusia juga hidup di alam kasar ketika
jaga.”



“Subali dan Sugriwa, pada suatu saat kalian akan menjadi raja kera.
Subali kau akan membantu dunia melenyapkan raksasa berkepala kerbau dan
berkepala sapi. Hari ini kalian berselisih memperebutkan ‘cupu’ mainan,
karena kalian masih anak-anak menjelang remaja. Pada suatu saat kau
akan berselisih dengan adikmu memperebutkan tahta dan wanita, dan kalau
sudah ada manusia tampan dengan muka bersinar, terimalah kematianmu
olehnya, berbahagialah melepaskan raga di tangan titisan Bathara
Wisnu.”



“Sugriwa, kau harus membantu raja titisan Wisnu dalam melenyapkan kaum
raksasa yang merupakan campuran antara manusia dan hewan. Demi evolusi,
‘sub human species’ itu harus punah.”“Anjani, teruslah bertapa sampai
mendapatkan suamimu. Anakmu adalah seorang ‘bhakta’ dari raja titisan
Wisnu. Tugasmu amat mulia melahirkan putra idola alam semesta, nama
cucuku ini akan dikenang sepanjang masa.”



Pada umumnya, manusia tak pernah lepas dari keterikatan. Di waktu
anak-anak obyek keterikatan adalah mainan, menjelang dewasa obyek
keterikatan adalah lawan jenis. Setelah mandiri, obyek keterikatan
adalah harta dan tahta, dan di masa tua obyek keterikatan adalah
obat-obatan. Bisakah manusia terlepas dari keterikatan?



Ini tidak berarti melarikan diri dari tanggung jawab. Tidak berarti
meninggalkan rumah dan menjadi seorang pertapa. Melepaskan keterikatan
berarti melepaskan rasa kepemilikan. Tuhan adalah Pemilik tunggal
semuanya ini. Anda ada atau tidak, dunia ini akan tetap ada. Menganggap
diri sebagai pelaku hanya menunjukkan ego Anda. Tanpa diri Anda pun
semuanya akan berjalan biasa, bahkan mungkin lebih lancar. *4 Kundalini Yoga



Perselisihan Sugriwa dan Subali



Subali dan Sugriwa mendapat tugas dari para dewa untuk membasmi
Maesasura, raksasa berkepala kerbau bersama patihnya Jathasura, raksasa
berkepala lembu. Sampai di goa tempat para raksasa tersebut, Subali
minta Sugriwa menjaga di depan goa dan berpesan, bahwa apabila dalam
perkelahian keluar darah berwarna putih, artinya Subali mati dan goa
agar ditutup dengan batu besar, supaya kedua raksasa tidak dapat keluar
lagi. Subali yakin darahnya berwarna putih sedang darah para raksasa
adalah berwarna merah. Subali telah bertindak sembrono dan melupakan
bahwa darah dari otak kedua raksasa tersebut juga berwarna putih.



Bertarunglah Subali dengan kedua raksasa di dalam goa, dan pada saat
tersebut Sugriwa mendengar teriakan dari Subali dan kedua raksasa yang
diikuti keluarnya darah merah dan putih. Sugriwa juga melakukan
ketergesaan dan kesembronoan dengan menutup goa. Mungkin Sugriwa kurang
jeli melihat bahwa jauh lebih banyak darah merah dari pada darah
putihnya.



Sugriwa kemudian menjadi raja kera dan mendapat hadiah Dewi Tara yang
cantik sebagai isterinya. Dan mereka hidup berbahagia. Subali yang
berhasil membunuh kedua raksasa segera keluar goa, dan merasa sangat
kecewa karena goa sudah tertutup. Subali hidup beberapa lama dalam goa
dan akhirnya berhasil keluar dari goa.



Subali mendengar bahwa Sugriwa telah menjadi raja, dan memperoleh
hadiah Dewi Tara karena Raksasa Maesasura dan Jathasura telah mati.
Kemarahan Subali memuncak, dalam pikirannya Sugriwa telah berkhianat.
Saat bertemu Subali, Sugriwa memberikan alasan mengapa menutup goa
dengan batu, akan tetapi Subali tidak bisa menerima alasan tersebut,
kemudian mereka berkelahi.



Sugriwa kalah dan sembunyi di sekitar Padepokan Resi Matanga. Sugriwa
masih takut bila Subali berniat membunuhnya, akan tetapi dia tahu
Subali tidak berani mendekati padepokan Resi Matanga. Subali pernah
berkelahi dengan Raksasa Dundubi dan melemparkan mayatnya jauh ke udara
dan jatuh di padepokan Resi Matanga. Resi Matanga mengutuk bahwa Subali
akan mati bila menginjakkan kakinya di tanah padepokannya. Selanjutnya
Subali menjadi raja kera dan memperistri Dewi Tara dan berputra Anggada.



Amarah adalah benih kehancuran. Jika tidak cepat-cepat diurusi,
diangkat, dan dibuang jauh, amarah akan menutupi pikiran kita. Kita
tidak dapat berpikir secara jernih. Kita kehilangan akal sehat.
Keputusan yang kita ambil sudah pasti salah. Akhirnya, hancurlah kita! *2 The Gita Of Management



Bertemu Sugriwa



Sri Rama dan Laksmana bertemu Sugriwa dan menceritakan permasalahannya.
Sugriwa berjanji akan membantu Sri Rama menuju Alengka, Kerajaan
Rahwana, setelah Sri Rama membantunya menaklukkan Subali. Kemudian
Sugriwa meminta anak buahnya mengambil selendang yang dijatuhkan Dewi
Sinta kala terbang diculik Rahwana.



Ikatan saudara kandung antara Sugriwa dan Subali tidak dapat
dibandingkan dengan ikatan saudara antara Sri Rama dengan Bharata,
walau mereka berbeda ibu. Sri Rama menerima keadaan dan menyerahkan
tahta kepada Bharata, dan Bharata menolak dan hanya mau sebagai wakil
sementara dan menempatkan sandal Sri Rama di singgasana, sampai Sri
Rama kembali ke istana. Subali merebut tahta dan isteri Sugriwa dan
mengusir Sugriwa ke hutan.



Sugriwa juga tidak seperti Bharata yang menolak tahta yang sebenarnya
bukan haknya. Sugriwa paham bahwa yang mengalahkan raksasa adalah
Subali, yang berhak mendapat hadiah adalah Subali, akan tetapi Sugriwa
tetap mau menerima tahta dan hadiah Dewa, dengan alasan Subali telah
mati.

Dalam hal ini benar atau salah adalah relatif, menurut pandangan
masing-masing. Akan tetapi Sri Rama dan Bharata telah mengambil langkah
yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan sedangkan Subali dan
Sugriwa mengambil langkah yang kurang tepat. Diri kita sedang diuji
Resi Walmiki, kita akan bertindak bagaimana bila mengalami peristiwa
yang sama.



Epos Ramayana adalah sejarah dengan tambahan ‘bumbu-bumbu penyedap
selera’. Karakter para pelaku dimaksudkan untuk menyingkapkan karakter
diri pribadi kita menuju peningkatan kesadaran. Dan berbagai karakter
tersebut dekat dengan karakter dari genetik kita. DNA kita sesuai
dengan kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata, akan tetapi secara
sistematik ada pihak-pihak yang ingin memisahkan diri kita dengan
budaya asal. Seseorang yang tidak menghargai budaya asalnya yang telah
berakar sangat dalam, ibarat memotong akar-akar tanaman yang akan
menyebabkan berdirinya pohon tidak mantap, mudah terombang-ambing,
terpengaruh badai budaya asing, bahkan bisa roboh bila tidak waspada.



Kematian Subali



Sugriwa menantang Subali dan keduanya bertarung dengan seru, akan
tetapi Sugriwa kalah dan melarikan diri. Dengan kecewa, Sugriwa
bertanya, mengapa Sri Rama tidak membantunya. Sri Rama berkata bahwa
sulit membedakan dua saudara yang sedang bertempur dan menyarankan agar
dalam pertempuran selanjutnya Sugriwa memakai kalung bunga sebagai
penanda diri.



Sugriwa kembali menantang Subali dan kembali terjadi pertarungan seru.
Kali ini Sri Rama membidikkan panahnya dan Subali terpanah. Dalam
keadaan luka, Subali teringat nasehat almarhum ayahnya agar dirinya
ikhlas menerima kematiannya oleh seorang Avatara Wisnu. Subali bertanya
pelan, “Wahai Sri Rama, mengapa seorang avatara membunuh seorang kera
dari belakang, tidak berhadapan muka? Padahal saya tidak pernah punya
permasalahan dengan paduka. Saya mohon penjelasan!”



Pertanyaan Subali, adalah pertanyaan kita, mengapa kita yang tidak
punya kaitan permasalahan dengan seseorang dizalimi orang tersebut?
Mungkin kita kurang beriman kepada ketetapan Gusti. Gusti telah
menggunakan orang tersebut sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran
kita.



Sri Rama menjawab, “Para raksasa mengganggu para resi di hutan, dan aku
tanpa minta ijin Bharata membasmi para raksasa. Melihat tindakan
adharma para raksasa, aku langsung menjalankan dharma dengan tegas.
Teladanilah Jatayu, dia paham bahwa dia akan kalah dan mati melawan
Rahwana. Tetapi dia tidak membiarkan Rahwana menculik Dewi Sinta begitu
saja, dia bertarung memperebutkan Dewi Sinta demi kebenaran. Sugriwa
akan kalah bertarung melawan Rahwana, akan tetapi dia mengambil
selendang yang dijatuhkan Dewi Sinta dan memberitahu ke mana Rahwana
pergi. Kau lebih sakti dari Rahwana, dan kau tahu Dewi Sinta diculik
dan terbang lewat istanamu, dan kau tidak peduli. Kau membiarkan
ketidakbenaran berlangsung, padahal kau mampu menyelesaikannya.
Renungkanlah!”



“Kau merasa aku tidak bertindak sesuai kepatutan, memanah dari belakang
mereka yang sedang bertarung. Coba renungkan, apakah tindakanmu merebut
tahta dan istri Sugriwa sesuai kepatutan?”

Subali sadar dan bersyukur atas penjelasan Sri Rama, di akhir hayatnya di menyebut Ram.... Ram..... dan meninggal dunia.



Kita pun merasa hidup dalam masyarakat yang ruwet yang meninggalkan
norma-norma kepatutan. Akan tetapi apakah kita sadar bahwa kita juga
berbuat salah dengan ketidakpedulian kita pada waktu dahulu terhadap
ketidakbenaran yang terjadi pada masyarakat kita?



Empat butir Kesadaran Awal atau Four Noble Truths ini diterjemahkan
menjadi “laku”, praktik, oleh Bodhidharma, dan kita akan melihatnya
berikut: Laku Pertama: Kemampuan untuk menerima ketidakadilan. Mereka
yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan
dengan kesadaran ini: “Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya,
aku telah berpaling dari hal-hal yang penting dan terikat pada hal-hal
sepele yang tidak berarti...... aku telah berkelana melewati segala
bentuk kehidupan...... mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas
kemunduran diri. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus
bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun
malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari
perbuatanku sendiri. Aku menerimanya dengan lapang dada, dan tanpa
keluh kesah akan ketidakadilan.” menurut kitab-kitab suci, “Bila
menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun
yang terjadi bukanlah tanpa alasan.” Dengan pemahaman seperti itu, kau
menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi.

Berhentilah berkeluh kesah, karena apa saja yang terjadi, yang menimpa
diri kita, all of it, make sense. Kita memang harus menghadapi semua
itu. Sikap nrimo, menerima hidup sebagaimana adanya, dan mengalir
bersamanya akan mempermudah entry kita ke alam meditasi. Itu password
nya. *5 Bodhidharma



Melihat ketidakbenaran di depan mata

Bagaimana pun melihat adanya ketidakbenaran yang terjadi di depan mata, minimal kita harus bersuara.



Janganlah engkau menyerah sebelum mencoba. Cobalah bersuara…
kumpulkan seluruh tenagamu dan bersuaralah dengan jelas. Suaramu akan
terdengar, pasti. Kau menjadi pemimpin karena keyakinanmu, semangatmu,
suaramu. Percayalah pada dirimu. Sukarno seorang diri, Gandhi seorang
diri, bahkan para nabi seperti Isa dan Muhammad pun seorang diri. Para
bijak seperti Lao Tze dan Siddhartha juga seorang diri. Namun,
merekalah yang mengubah dan membuat sejarah. “Barangkali banyak
diantara kita takut bersuara.” Ya, itulah, sebab kita tidak bersuara.
Kita takut. Bukan takut tidak didengar, tapi takut ribut. Takut
mengundang persoalan. Saya pernah membaca di suatu tempat, “Dulu
kelompok lain dianiaya, dan aku bungkam. Kupikir aku bukanlah bagian
dari kelompok itu. Kemudian kelompokku dianiaya. Namun, sebelum
kusadari, penganiayana pun terjadi pada diriku… dan tidak seorang pun
maju untuk membantuku, karena semua beranggapan sama seperti diriku,
yang dianiaya bukanlah mereka!” *6 Indonesia Under Attack



Terima kasih Guru. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.



*1 Life Workbook Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala
dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia
Pustaka Utama, 2007.

*2 The Gita of Management The Gita of Management, Panduan bagi
eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka
Utama, 2007

.*3 Fiqr Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002.

*4 Kundalini Yoga Kundalini Yoga, dalam hidup sehari-hari, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999.

*5 Bodhidharma Bodhidharma Kata Awal adalah Kata Akhir, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005

*6 Indonesia Under Attack Indonesia Under Attack Membangkitkan Kembali Jatidiri Bangsa, Anand Krishna, One Earth Media, 2006.



http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2009.



      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/