|
View:
New views
20 Messages
—
Rating Filter:
Alert me
|
| < Prev | 1 - 2 | Next > |
|
|
OOT - Model Venture Capital yang cocok di IndonesiaNah mumpung lagi ngomongin Venture Capital, disambung deh...
Udah lama juga gua mikirin masalah Venture Capital yang cocok untuk Indonesia ini. Pastinya kalau persis sama dengan di US, terutama Sillicon Valley, gak akan bisa karena environment nya beda. Tapi konsep dan prinsip-prinsip dasar nya mungkin bisa sama. Kalau gua lihat secara bisnis, model Venture Capital di SV bisa jalan karena: #1) Dari sisi investor cukup menarik, perusahaan VC memodali banyak perusahaan startups yang mayoritas akan gagal, katakanlah angkanya 1 banding 25, Dari 25 yang dimodali hanya 1 berhasil. Yang 1 berhasil ini bisa menutupi kegagalan 24 investasi yang lain yang returnnya NOL besar. Biasanya 1 yang berhasil adalah perusahaanya di beli oleh perusahaan lain yang lebih besar atau IPO (listing saham di bursa efek). Dengan model ini, perusahaan startups bisa menguntungkan buat investor padahal perusahaan nya sendiri BELUM TENTU menguntungkan. Ingat contoh kasus FACEBOOK, terakhir gua check 6 bulan lalu (sekarang belum check lagi) facebook itu BELUM menguntungkan secara bisnis. Penghasilan dari bisnisnya gak bisa menutupi operasional. Tapi mereka bisa hidup karena suntikan dana semacam dari Microsoft ngasih duit US $ 250 juta, alias Rp 2,5 triliyun. Mereka cukup hidup dari situ dansudah untung malah, gak perlu untung dari revenue perusahaan Facebook nya sendiri. Nanti kalau Facebook listing dibursa saham atau bahkan sekedar di beli perusahan lain nilainya dipastikan sudah akan diangka billion US dollar, atau diangka puluhan sampai ratusan triliyun rupiah. Konsep disini adalah: INVESTOR punya kesempatan mendapatkan HIGH gain berupa return investasi ribuan % sehingga mau melakukan investasi yang HIGH risk karena perusahaan startups yang dibiayai kebanyakan agak gagal. Investor juga punya punya exit door yaitu dengan menjual perusahaan yang sukses atau melakukan IPO. Jadi dia tak perlu menunggu perusahaan mencapai balik modal dan untung dulu baru dia bisa untung. #2) Secara teknologi, hanya perusahaan yang melakukan INOVASI yang cocok dengan konsep diatas, karena hanya perusahaan inovasi yang bisa menghasilkan return of investment ratusan atau ribuan %. Perusahaan IT kecil yang tidak menghasilkan model bisnis baru semacam google. facebook, twiter, viaweb dan broadcast.com jaman dot com bubble dulu , dll akan gak menarik buat investor. Alas, perusahaan startups Indonesia kalau hanya mengikuti model bisnis lama standar seperti IT system/software development dan lain-lain akan susah masuk model ini. Nah dari 2 faktor ini saling mendukung sebenarnya. Kalau ada model nomor 1 dimana environment INVESTASI ada, maka yang nomor #2 gua yakin akan mengikuti, perusahaan-perusahaan inovasi akan bisa lahir karena ada peluang. However kalau yang nomor #2 belum ada sebagai pioneer, mungkin belum ada INVESTOR atau VC yang akan tertarik melakukan #1. Ini masalah telur ayam-telur ayam. Harus adabsatu "power of the force" kayaknya yang mampu menghasilkan quantum leap dan salah satu dari #1 atau #2 bisa terjadi tanpa ada faktor yang salah satunya dulu. Atau mungkin juga yang lebih tepat Indonesia gak meniru model diatas? Mungkin pihak-pihak yang concern atau punya misi memajukan enterpreneurship di Indonesia bisa memikirkan model baru dengan konsep atau prinsip-prinsip yang mirip. Jtechnoprener dan semacamnya mungkin bisa melangkah ke langkah selanjutnya? Gua melihat ekosistem ini yang harus dibangun dulu. Rudi Har 2009/10/24 Frans Thamura <frans@...> > > > Kalau tidak efektif distop dan diganti mungkin yang lebih konstruktif : >> membuat badan venture capital untuk anak2 muda atau calon pengusaha yang >> memiliki kesemua persyaratan awal jadi pengusaha yang bergerak di bidang IT. >> >> > baru aja diskusi dg teman (dokter) yang buka usaha sutra, dan bahas masalah > ini, ada orang sun indonesia juga ikutan :0 > > negara ini masih jauh untuk kesana ;) infrastruktur, korupsi, rupiah yang > volatile. > > distop ganti jadi program pembokat ... karena negara ini emang cocok jadi > pembokat doang.. > > > > > > > > |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesiamungkin yang tepat di kita itu sistem koperasi atau sistem syariah.
yang saya lihat, pemenang award (indigo, ristek&telkom award, dll) mengenai kreatifitas di bidang IT sepertinya tidak akan menjadi milyarder muda. atau penyedia konten seperti bubu, dagdigdug, astaga.com, kapanlagi.com, atau detik.com tidak seperti yahoo atau yg sejenisnya yang harganya berjuta-juta USD. --- On Wed, 10/28/09, Rudi Har <Rudi.Har@...> wrote: From: Rudi Har <Rudi.Har@...> Subject: [JUG-Indonesia] OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia To: jug-indonesia@... Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:49 AM Nah mumpung lagi ngomongin Venture Capital, disambung deh...Udah lama juga gua mikirin masalah Venture Capital yang cocok untuk Indonesia ini. Pastinya kalau persis sama dengan di US, terutama Sillicon Valley, gak akan bisa karena environment nya beda. Tapi konsep dan prinsip-prinsip dasar nya mungkin bisa sama. Kalau gua lihat secara bisnis, model Venture Capital di SV bisa jalan karena:#1) Dari sisi investor cukup menarik, perusahaan VC memodali banyak perusahaan startups yang mayoritas akan gagal, katakanlah angkanya 1 banding 25, Dari 25 yang dimodali hanya 1 berhasil. Yang 1 berhasil ini bisa menutupi kegagalan 24 investasi yang lain yang returnnya NOL besar. Biasanya 1 yang berhasil adalah perusahaanya di beli oleh perusahaan lain yang lebih besar atau IPO (listing saham di bursa efek). Dengan model ini, perusahaan startups bisa menguntungkan buat investor padahal perusahaan nya sendiri BELUM TENTU menguntungkan. Ingat contoh kasus FACEBOOK, terakhir gua check 6 bulan lalu (sekarang belum check lagi) facebook itu BELUM menguntungkan secara bisnis. Penghasilan dari bisnisnya gak bisa menutupi operasional. Tapi mereka bisa hidup karena suntikan dana semacam dari Microsoft ngasih duit US $ 250 juta, alias Rp 2,5 triliyun. Mereka cukup hidup dari situ dansudah untung malah, gak perlu untung dari revenue perusahaan Facebook nya sendiri. Nanti kalau Facebook listing dibursa saham atau bahkan sekedar di beli perusahan lain nilainya dipastikan sudah akan diangka billion US dollar, atau diangka puluhan sampai ratusan triliyun rupiah. Konsep disini adalah: INVESTOR punya kesempatan mendapatkan HIGH gain berupa return investasi ribuan % sehingga mau melakukan investasi yang HIGH risk karena perusahaan startups yang dibiayai kebanyakan agak gagal. Investor juga punya punya exit door yaitu dengan menjual perusahaan yang sukses atau melakukan IPO. Jadi dia tak perlu menunggu perusahaan mencapai balik modal dan untung dulu baru dia bisa untung. #2)Secara teknologi, hanya perusahaan yang melakukan INOVASI yang cocok dengan konsep diatas, karena hanya perusahaan inovasi yang bisa menghasilkan return of investment ratusan atau ribuan %. Perusahaan IT kecil yang tidak menghasilkan model bisnis baru semacam google. facebook, twiter, viaweb dan broadcast.com jaman dot com bubble dulu , dll akan gak menarik buat investor. Alas, perusahaan startups Indonesia kalau hanya mengikuti model bisnis lama standar seperti IT system/software development dan lain-lain akan susah masuk model ini. Nah dari 2 faktor ini saling mendukung sebenarnya. Kalau ada model nomor 1 dimana environment INVESTASI ada, maka yang nomor #2 gua yakin akan mengikuti, perusahaan-perusaha an inovasi akan bisa lahir karena ada peluang. However kalau yang nomor #2 belum ada sebagai pioneer, mungkin belum ada INVESTOR atau VC yang akan tertarik melakukan #1. Ini masalah telur ayam-telur ayam. Harus adabsatu "power of the force" kayaknya yang mampu menghasilkan quantum leap dan salah satu dari #1 atau #2 bisa terjadi tanpa ada faktor yang salah satunya dulu. Atau mungkin juga yang lebih tepat Indonesia gak meniru model diatas?Mungkin pihak-pihak yang concern atau punya misi memajukan enterpreneurship di Indonesia bisa memikirkan model baru dengan konsep atau prinsip-prinsip yang mirip. Jtechnoprener dan semacamnya mungkin bisa melangkah ke langkah selanjutnya? Gua melihat ekosistem ini yang harus dibangun dulu. Rudi Har 2009/10/24 Frans Thamura <frans@meruvian. org> Kalau tidak efektif distop dan diganti mungkin yang lebih konstruktif : membuat badan venture capital untuk anak2 muda atau calon pengusaha yang memiliki kesemua persyaratan awal jadi pengusaha yang bergerak di bidang IT. baru aja diskusi dg teman (dokter) yang buka usaha sutra, dan bahas masalah ini, ada orang sun indonesia juga ikutan :0 negara ini masih jauh untuk kesana ;) infrastruktur, korupsi, rupiah yang volatile. distop ganti jadi program pembokat ... karena negara ini emang cocok jadi pembokat doang.. |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesiahi rud,
gue coba melihat dari sudut pandang investor dan finance. karena facebook sudah men-secure kontrak dengan microsoft untuk penjualan iklannya, seharusnya udah bisa di-consider sebagai asset, dan nanti akan secara periodik dapat dikonversi menjadi recurring income. venture capital biasanya akan melihat juga mengenai intangible asset seperti ini. secara accounting dan cash flow, itu sudah sudah dikategorikan revenue. bisnis kan ga harus dapet pemasukan dari core businessnya, karena main source of income dan core business bisa beda. contoh: mcdonalds, core business-nya makanan/burger, tapi menurut ray kroc, bisnis mcdonalds adalah property (pemilihan lokasi, etc). walaupun secara langsung, property tidak menghasilkan uang untuk bisnisnya, tetapi si pendiri franchise mcdonalds merasakan bahwa pemilihan lokasi adalah salah satu hal yg paling penting. menarik untuk dilihat juga di jakarta, setelah lisensi dicabut, tony jack's berdiri di lokasi2 paling strategis yg dulunya adalah outlet mcdonalds. kita lihat apakah pendapat ray kroc berlaku di jakarta? sumbang saran, mungkin ada #3: "jembatan antara lembah silikon vs lembah kali ciliwung" misal ada lembaga yg menjembatani kedua hal ini, misalnya membuat inkorporasi di lembah silikon, tetapi development-nya di lembah sungai ciliwung, lembah sungai brantas atau lembah sungai bengawan solo, misalnya. dengan inkorporasi di san jose, palo alto, mountainview, etc, tentu akan mudah menjangkau venture capitalist. sedangkan dengan development/research lembah sungai ciliwung, brantas dan bengawan solo, seharusnya bisa lebih murah untuk biaya operasionalnya. masalah lain, mungkin infrastruktur juga ya. kalau di lembah silikon, kan nempel dengan banyak tier-1 backbone. kalau di lembah sungai ciliwung, backbone-nya masih nempel sama kursi. yang menarik, mark shuttleworth kok bisa juga ya, dari afrika selatan? apa di sana bagus juga infrastrukturnya? 2009/10/28 Rudi Har <Rudi.Har@...> > > > Nah mumpung lagi ngomongin Venture Capital, disambung deh... > Udah lama juga gua mikirin masalah Venture Capital yang cocok untuk > Indonesia ini. > > Pastinya kalau persis sama dengan di US, terutama Sillicon Valley, gak akan > bisa karena environment nya beda. Tapi konsep dan prinsip-prinsip dasar nya > mungkin bisa sama. > > Kalau gua lihat secara bisnis, model Venture Capital di SV bisa jalan > karena: > #1) > Dari sisi investor cukup menarik, perusahaan VC memodali banyak perusahaan > startups yang mayoritas akan gagal, katakanlah angkanya 1 banding 25, Dari > 25 yang dimodali hanya 1 berhasil. Yang 1 berhasil ini bisa menutupi > kegagalan 24 investasi yang lain yang returnnya NOL besar. Biasanya 1 yang > berhasil adalah perusahaanya di beli oleh perusahaan lain yang lebih besar > atau IPO (listing saham di bursa efek). > Dengan model ini, perusahaan startups bisa menguntungkan buat investor > padahal perusahaan nya sendiri BELUM TENTU menguntungkan. Ingat contoh kasus > FACEBOOK, terakhir gua check 6 bulan lalu (sekarang belum check lagi) > facebook itu BELUM menguntungkan secara bisnis. Penghasilan dari bisnisnya > gak bisa menutupi operasional. Tapi mereka bisa hidup karena suntikan dana > semacam dari Microsoft ngasih duit US $ 250 juta, alias Rp 2,5 triliyun. > Mereka cukup hidup dari situ dansudah untung malah, gak perlu untung dari > revenue perusahaan Facebook nya sendiri. Nanti kalau Facebook listing > dibursa saham atau bahkan sekedar di beli perusahan lain nilainya dipastikan > sudah akan diangka billion US dollar, atau diangka puluhan sampai ratusan > triliyun rupiah. > > Konsep disini adalah: INVESTOR punya kesempatan mendapatkan HIGH gain > berupa return investasi ribuan % sehingga mau melakukan investasi yang HIGH > risk karena perusahaan startups yang dibiayai kebanyakan agak gagal. > Investor juga punya punya exit door yaitu dengan menjual perusahaan yang > sukses atau melakukan IPO. Jadi dia tak perlu menunggu perusahaan mencapai > balik modal dan untung dulu baru dia bisa untung. > > #2) > Secara teknologi, hanya perusahaan yang melakukan INOVASI yang cocok dengan > konsep diatas, karena hanya perusahaan inovasi yang bisa menghasilkan return > of investment ratusan atau ribuan %. Perusahaan IT kecil yang tidak > menghasilkan model bisnis baru semacam google. facebook, twiter, viaweb dan > broadcast.com jaman dot com bubble dulu , dll akan gak menarik buat > investor. Alas, perusahaan startups Indonesia kalau hanya mengikuti model > bisnis lama standar seperti IT system/software development dan lain-lain > akan susah masuk model ini. > > Nah dari 2 faktor ini saling mendukung sebenarnya. Kalau ada model nomor 1 > dimana environment INVESTASI ada, maka yang nomor #2 gua yakin akan > mengikuti, perusahaan-perusahaan inovasi akan bisa lahir karena ada peluang. > However kalau yang nomor #2 belum ada sebagai pioneer, mungkin belum ada > INVESTOR atau VC yang akan tertarik melakukan #1. > > Ini masalah telur ayam-telur ayam. Harus adabsatu "power of the force" > kayaknya yang mampu menghasilkan quantum leap dan salah satu dari #1 atau #2 > bisa terjadi tanpa ada faktor yang salah satunya dulu. > > Atau mungkin juga yang lebih tepat Indonesia gak meniru model diatas? > Mungkin pihak-pihak yang concern atau punya misi memajukan enterpreneurship > di Indonesia bisa memikirkan model baru dengan konsep atau prinsip-prinsip > yang mirip. Jtechnoprener dan semacamnya mungkin bisa melangkah ke langkah > selanjutnya? Gua melihat ekosistem ini yang harus dibangun dulu. > > Rudi Har > > > > > > 2009/10/24 Frans Thamura <frans@...> > >> >> >> Kalau tidak efektif distop dan diganti mungkin yang lebih konstruktif : >>> membuat badan venture capital untuk anak2 muda atau calon pengusaha yang >>> memiliki kesemua persyaratan awal jadi pengusaha yang bergerak di bidang IT. >>> >>> >> baru aja diskusi dg teman (dokter) yang buka usaha sutra, dan bahas >> masalah ini, ada orang sun indonesia juga ikutan :0 >> >> negara ini masih jauh untuk kesana ;) infrastruktur, korupsi, rupiah yang >> volatile. >> >> distop ganti jadi program pembokat ... karena negara ini emang cocok jadi >> pembokat doang.. >> >> >> >> >> >> >> > > -- Daniel Baktiar Who Moved My Bananas? Senior JEE* Monkey -- willing to work hard in the Java beans brewery for a big bunch of bananas (http://dbaktiar.wordpress.com) |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di IndonesiaIni menarik juga yang dibuat sama telkom ini. Entah modelnya seperti apa,
apakah itu layanan masyarakat telkom alias non profit atau ada tujuan bisnisnya (secara ekonomi dia plausible) Gua lebih percaya bahwa untuk hal yang gini akan lebih berhasil kalau sisi bisnisnya jelas. Karena akan tahan lama dan punya peluang bertumbuh lebih besar diikuti permain lain. Kalo cuma program pengabdian masyarakat kayakna gak akan bertahan lama. Inovasi yang benar-benar berdampak itu kejadiannya jarang, jadi ekosistemnya harus bisa bertahan hidup cukup lama sampai Inovasi itu udah datang, dan itu mungkin tahunan atau puluhan tahun. Untuk jangka waktu sepanjang ini kayaknya hanya sesuatu yang eonomis yang akan mampu bertahan Singkatnya setelah sekian tahun telkom award tidak menghasilkan sesuatu yang fenomenal mungkin mereka akan kehabisan energi duluan dan berhenti melakukan ini. Inovasi sulit diramal akan muncul dimana, kapan dan dalam bentuk apa. Jadi lingkungan yang pas untuk inivasi adalah lingkungan yang siap menunggu SELAMANYA 2009/10/28 dwicahyo yulianto <dwicahyoyulianto@...> > > > mungkin yang tepat di kita itu sistem koperasi atau sistem syariah. > > yang saya lihat, pemenang award (indigo, ristek&telkom award, dll) mengenai > kreatifitas di bidang IT sepertinya tidak akan menjadi milyarder muda. atau > penyedia konten seperti bubu, dagdigdug, astaga.com, kapanlagi.com, atau > detik.com tidak seperti yahoo atau yg sejenisnya yang harganya > berjuta-juta USD. > > > > --- On *Wed, 10/28/09, Rudi Har <Rudi.Har@...>* wrote: > > > From: Rudi Har <Rudi.Har@...> > Subject: [JUG-Indonesia] OOT - Model Venture Capital yang cocok di > Indonesia > To: jug-indonesia@... > Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:49 AM > > > > Nah mumpung lagi ngomongin Venture Capital, disambung deh... > Udah lama juga gua mikirin masalah Venture Capital yang cocok untuk > Indonesia ini. > > Pastinya kalau persis sama dengan di US, terutama Sillicon Valley, gak akan > bisa karena environment nya beda. Tapi konsep dan prinsip-prinsip dasar nya > mungkin bisa sama. > > Kalau gua lihat secara bisnis, model Venture Capital di SV bisa jalan > karena: > #1) > Dari sisi investor cukup menarik, perusahaan VC memodali banyak perusahaan > startups yang mayoritas akan gagal, katakanlah angkanya 1 banding 25, Dari > 25 yang dimodali hanya 1 berhasil. Yang 1 berhasil ini bisa menutupi > kegagalan 24 investasi yang lain yang returnnya NOL besar. Biasanya 1 yang > berhasil adalah perusahaanya di beli oleh perusahaan lain yang lebih besar > atau IPO (listing saham di bursa efek). > Dengan model ini, perusahaan startups bisa menguntungkan buat investor > padahal perusahaan nya sendiri BELUM TENTU menguntungkan. Ingat contoh kasus > FACEBOOK, terakhir gua check 6 bulan lalu (sekarang belum check lagi) > facebook itu BELUM menguntungkan secara bisnis. Penghasilan dari bisnisnya > gak bisa menutupi operasional. Tapi mereka bisa hidup karena suntikan dana > semacam dari Microsoft ngasih duit US $ 250 juta, alias Rp 2,5 triliyun. > Mereka cukup hidup dari situ dansudah untung malah, gak perlu untung dari > revenue perusahaan Facebook nya sendiri. Nanti kalau Facebook listing > dibursa saham atau bahkan sekedar di beli perusahan lain nilainya dipastikan > sudah akan diangka billion US dollar, atau diangka puluhan sampai ratusan > triliyun rupiah. > > Konsep disini adalah: INVESTOR punya kesempatan mendapatkan HIGH gain > berupa return investasi ribuan % sehingga mau melakukan investasi yang HIGH > risk karena perusahaan startups yang dibiayai kebanyakan agak gagal. > Investor juga punya punya exit door yaitu dengan menjual perusahaan yang > sukses atau melakukan IPO. Jadi dia tak perlu menunggu perusahaan mencapai > balik modal dan untung dulu baru dia bisa untung. > > #2) > Secara teknologi, hanya perusahaan yang melakukan INOVASI yang cocok dengan > konsep diatas, karena hanya perusahaan inovasi yang bisa menghasilkan return > of investment ratusan atau ribuan %. Perusahaan IT kecil yang tidak > menghasilkan model bisnis baru semacam google. facebook, twiter, viaweb dan > broadcast.com jaman dot com bubble dulu , dll akan gak menarik buat > investor. Alas, perusahaan startups Indonesia kalau hanya mengikuti model > bisnis lama standar seperti IT system/software development dan lain-lain > akan susah masuk model ini. > > Nah dari 2 faktor ini saling mendukung sebenarnya. Kalau ada model nomor 1 > dimana environment INVESTASI ada, maka yang nomor #2 gua yakin akan > mengikuti, perusahaan-perusaha an inovasi akan bisa lahir karena ada > peluang. However kalau yang nomor #2 belum ada sebagai pioneer, mungkin > belum ada INVESTOR atau VC yang akan tertarik melakukan #1. > > Ini masalah telur ayam-telur ayam. Harus adabsatu "power of the force" > kayaknya yang mampu menghasilkan quantum leap dan salah satu dari #1 atau #2 > bisa terjadi tanpa ada faktor yang salah satunya dulu. > > Atau mungkin juga yang lebih tepat Indonesia gak meniru model diatas? > Mungkin pihak-pihak yang concern atau punya misi memajukan enterpreneurship > di Indonesia bisa memikirkan model baru dengan konsep atau prinsip-prinsip > yang mirip. Jtechnoprener dan semacamnya mungkin bisa melangkah ke langkah > selanjutnya? Gua melihat ekosistem ini yang harus dibangun dulu. > > Rudi Har > > > > > > 2009/10/24 Frans Thamura <frans@meruvian. org<http://mc/compose?to=frans@...> > > > >> >> >> Kalau tidak efektif distop dan diganti mungkin yang lebih konstruktif : >>> membuat badan venture capital untuk anak2 muda atau calon pengusaha yang >>> memiliki kesemua persyaratan awal jadi pengusaha yang bergerak di bidang IT. >>> >>> >> baru aja diskusi dg teman (dokter) yang buka usaha sutra, dan bahas >> masalah ini, ada orang sun indonesia juga ikutan :0 >> >> negara ini masih jauh untuk kesana ;) infrastruktur, korupsi, rupiah yang >> volatile. >> >> distop ganti jadi program pembokat ... karena negara ini emang cocok jadi >> pembokat doang.. >> >> >> >> >> >> >> > > > > > |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesiasetahu gue di indonesia adanya angel investor, investor mau mau gue, dan
evil investor, angel dan evil ini bedanya cuman di persepsi regulasi kita gak cocok buat ekosistem keilmuan.. jadi VC mah disini bangkrut, dulu ada peter ong yang urus VC buat dotcom di sinarmas, ngilang dia -- Frans Thamura Meruvian. Experiential Tempation of Java and Enterprise OpenSource Meruvian bukan hanya membuat anak SMK menjadi bisa tapi SAKTI, malah saktinya SAKTI Mandraguna. Mobile: +62 855 7888 699 Blog & Profile: http://frans.thamura.info We provide services to migrate your apps to Java (web), in amazing fast and reliable. 2009/10/28 Rudi Har <Rudi.Har@...> > > > Ini menarik juga yang dibuat sama telkom ini. Entah modelnya seperti apa, > apakah itu layanan masyarakat telkom alias non profit atau ada tujuan > bisnisnya (secara ekonomi dia plausible) > > Gua lebih percaya bahwa untuk hal yang gini akan lebih berhasil kalau sisi > bisnisnya jelas. Karena akan tahan lama dan punya peluang bertumbuh lebih > besar diikuti permain lain. > > Kalo cuma program pengabdian masyarakat kayakna gak akan bertahan lama. > Inovasi yang benar-benar berdampak itu kejadiannya jarang, jadi ekosistemnya > harus bisa bertahan hidup cukup lama sampai Inovasi itu udah datang, dan itu > mungkin tahunan atau puluhan tahun. Untuk jangka waktu sepanjang ini > kayaknya hanya sesuatu yang eonomis yang akan mampu bertahan > > Singkatnya setelah sekian tahun telkom award tidak menghasilkan sesuatu > yang fenomenal mungkin mereka akan kehabisan energi duluan dan berhenti > melakukan ini. Inovasi sulit diramal akan muncul dimana, kapan dan dalam > bentuk apa. Jadi lingkungan yang pas untuk inivasi adalah lingkungan yang > siap menunggu SELAMANYA > > 2009/10/28 dwicahyo yulianto <dwicahyoyulianto@...> > > >> >> mungkin yang tepat di kita itu sistem koperasi atau sistem syariah. >> >> yang saya lihat, pemenang award (indigo, ristek&telkom award, dll) >> mengenai kreatifitas di bidang IT sepertinya tidak akan menjadi milyarder >> muda. atau penyedia konten seperti bubu, dagdigdug, astaga.com, >> kapanlagi.com, atau detik.com tidak seperti yahoo atau yg sejenisnya yang >> harganya berjuta-juta USD. >> >> >> >> --- On *Wed, 10/28/09, Rudi Har <Rudi.Har@...>* wrote: >> >> >> From: Rudi Har <Rudi.Har@...> >> Subject: [JUG-Indonesia] OOT - Model Venture Capital yang cocok di >> Indonesia >> To: jug-indonesia@... >> Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:49 AM >> >> >> >> Nah mumpung lagi ngomongin Venture Capital, disambung deh... >> Udah lama juga gua mikirin masalah Venture Capital yang cocok untuk >> Indonesia ini. >> >> Pastinya kalau persis sama dengan di US, terutama Sillicon Valley, gak >> akan bisa karena environment nya beda. Tapi konsep dan prinsip-prinsip dasar >> nya mungkin bisa sama. >> >> Kalau gua lihat secara bisnis, model Venture Capital di SV bisa jalan >> karena: >> #1) >> Dari sisi investor cukup menarik, perusahaan VC memodali banyak >> perusahaan startups yang mayoritas akan gagal, katakanlah angkanya 1 banding >> 25, Dari 25 yang dimodali hanya 1 berhasil. Yang 1 berhasil ini bisa >> menutupi kegagalan 24 investasi yang lain yang returnnya NOL besar. Biasanya >> 1 yang berhasil adalah perusahaanya di beli oleh perusahaan lain yang lebih >> besar atau IPO (listing saham di bursa efek). >> Dengan model ini, perusahaan startups bisa menguntungkan buat investor >> padahal perusahaan nya sendiri BELUM TENTU menguntungkan. Ingat contoh kasus >> FACEBOOK, terakhir gua check 6 bulan lalu (sekarang belum check lagi) >> facebook itu BELUM menguntungkan secara bisnis. Penghasilan dari bisnisnya >> gak bisa menutupi operasional. Tapi mereka bisa hidup karena suntikan dana >> semacam dari Microsoft ngasih duit US $ 250 juta, alias Rp 2,5 triliyun. >> Mereka cukup hidup dari situ dansudah untung malah, gak perlu untung dari >> revenue perusahaan Facebook nya sendiri. Nanti kalau Facebook listing >> dibursa saham atau bahkan sekedar di beli perusahan lain nilainya dipastikan >> sudah akan diangka billion US dollar, atau diangka puluhan sampai ratusan >> triliyun rupiah. >> >> Konsep disini adalah: INVESTOR punya kesempatan mendapatkan HIGH gain >> berupa return investasi ribuan % sehingga mau melakukan investasi yang HIGH >> risk karena perusahaan startups yang dibiayai kebanyakan agak gagal. >> Investor juga punya punya exit door yaitu dengan menjual perusahaan yang >> sukses atau melakukan IPO. Jadi dia tak perlu menunggu perusahaan mencapai >> balik modal dan untung dulu baru dia bisa untung. >> >> #2) >> Secara teknologi, hanya perusahaan yang melakukan INOVASI yang cocok >> dengan konsep diatas, karena hanya perusahaan inovasi yang bisa menghasilkan >> return of investment ratusan atau ribuan %. Perusahaan IT kecil yang tidak >> menghasilkan model bisnis baru semacam google. facebook, twiter, viaweb dan >> broadcast.com jaman dot com bubble dulu , dll akan gak menarik buat >> investor. Alas, perusahaan startups Indonesia kalau hanya mengikuti model >> bisnis lama standar seperti IT system/software development dan lain-lain >> akan susah masuk model ini. >> >> Nah dari 2 faktor ini saling mendukung sebenarnya. Kalau ada model nomor 1 >> dimana environment INVESTASI ada, maka yang nomor #2 gua yakin akan >> mengikuti, perusahaan-perusaha an inovasi akan bisa lahir karena ada >> peluang. However kalau yang nomor #2 belum ada sebagai pioneer, mungkin >> belum ada INVESTOR atau VC yang akan tertarik melakukan #1. >> >> Ini masalah telur ayam-telur ayam. Harus adabsatu "power of the force" >> kayaknya yang mampu menghasilkan quantum leap dan salah satu dari #1 atau #2 >> bisa terjadi tanpa ada faktor yang salah satunya dulu. >> >> Atau mungkin juga yang lebih tepat Indonesia gak meniru model diatas? >> Mungkin pihak-pihak yang concern atau punya misi memajukan >> enterpreneurship di Indonesia bisa memikirkan model baru dengan konsep atau >> prinsip-prinsip yang mirip. Jtechnoprener dan semacamnya mungkin bisa >> melangkah ke langkah selanjutnya? Gua melihat ekosistem ini yang harus >> dibangun dulu. >> >> Rudi Har >> >> >> >> >> >> 2009/10/24 Frans Thamura <frans@meruvian. org<http://mc/compose?to=frans@...> >> > >> >>> >>> >>> Kalau tidak efektif distop dan diganti mungkin yang lebih konstruktif : >>>> membuat badan venture capital untuk anak2 muda atau calon pengusaha yang >>>> memiliki kesemua persyaratan awal jadi pengusaha yang bergerak di bidang IT. >>>> >>>> >>> baru aja diskusi dg teman (dokter) yang buka usaha sutra, dan bahas >>> masalah ini, ada orang sun indonesia juga ikutan :0 >>> >>> negara ini masih jauh untuk kesana ;) infrastruktur, korupsi, rupiah yang >>> volatile. >>> >>> distop ganti jadi program pembokat ... karena negara ini emang cocok jadi >>> pembokat doang.. >>> >>> >>> >>> >>> >>> >>> >> >> >> >> > > > > |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di IndonesiaLebih gampang buka warung bakmi kali ya langsung datang duitnya di hari
pertama buka. Ya gua ngerti deh kalo orang yang udah mengalami jungkir balik jadi enterpreneneur di Indonesia. Disini yang di bidik bertahan hidup dulu kali ya. Tapi gua gak mau persimis ah, udah banyak yang pesimis gak butuh ditambahi :-) Gua gak yakin Indonesia selamanya jadi pembokat doang bisanya. Minimal akan ada banyak macam-macam nasib orang di Indonesia, ini karena kita memang heterogen banget, berserakan di atas puluhan ribu pulau terisolasi satu sama lain. Gak semua akan jadi pembokat laa :-p Gua yakin banyak kelompok orang-orang lainnya, salah satunya inovator ini suatu saat. Mungkin saatnya musti nunggu selamanya :-) Senjang memang Indonesia ini, tapi kesenjangan topik lain lah itu :-) 2009/10/29 Frans Thamura <frans@...> > > > setahu gue di indonesia adanya angel investor, investor mau mau gue, dan > evil investor, angel dan evil ini bedanya cuman di persepsi > > regulasi kita gak cocok buat ekosistem keilmuan.. > > jadi VC mah disini bangkrut, dulu ada peter ong yang urus VC buat dotcom di > sinarmas, ngilang dia > > > -- > Frans Thamura > Meruvian. > Experiential Tempation of Java and Enterprise OpenSource > > Meruvian bukan hanya membuat anak SMK menjadi bisa tapi SAKTI, malah > saktinya SAKTI Mandraguna. > > > Mobile: +62 855 7888 699 > Blog & Profile: http://frans.thamura.info > > We provide services to migrate your apps to Java (web), in amazing fast and > reliable. > > > 2009/10/28 Rudi Har <Rudi.Har@...> > > >> >> Ini menarik juga yang dibuat sama telkom ini. Entah modelnya seperti apa, >> apakah itu layanan masyarakat telkom alias non profit atau ada tujuan >> bisnisnya (secara ekonomi dia plausible) >> >> Gua lebih percaya bahwa untuk hal yang gini akan lebih berhasil kalau sisi >> bisnisnya jelas. Karena akan tahan lama dan punya peluang bertumbuh lebih >> besar diikuti permain lain. >> >> Kalo cuma program pengabdian masyarakat kayakna gak akan bertahan lama. >> Inovasi yang benar-benar berdampak itu kejadiannya jarang, jadi ekosistemnya >> harus bisa bertahan hidup cukup lama sampai Inovasi itu udah datang, dan itu >> mungkin tahunan atau puluhan tahun. Untuk jangka waktu sepanjang ini >> kayaknya hanya sesuatu yang eonomis yang akan mampu bertahan >> >> Singkatnya setelah sekian tahun telkom award tidak menghasilkan sesuatu >> yang fenomenal mungkin mereka akan kehabisan energi duluan dan berhenti >> melakukan ini. Inovasi sulit diramal akan muncul dimana, kapan dan dalam >> bentuk apa. Jadi lingkungan yang pas untuk inivasi adalah lingkungan yang >> siap menunggu SELAMANYA >> >> 2009/10/28 dwicahyo yulianto <dwicahyoyulianto@...> >> >> >>> >>> mungkin yang tepat di kita itu sistem koperasi atau sistem syariah. >>> >>> yang saya lihat, pemenang award (indigo, ristek&telkom award, dll) >>> mengenai kreatifitas di bidang IT sepertinya tidak akan menjadi milyarder >>> muda. atau penyedia konten seperti bubu, dagdigdug, astaga.com, >>> kapanlagi.com, atau detik.com tidak seperti yahoo atau yg sejenisnya >>> yang harganya berjuta-juta USD. >>> >>> >>> >>> --- On *Wed, 10/28/09, Rudi Har <Rudi.Har@...>* wrote: >>> >>> >>> From: Rudi Har <Rudi.Har@...> >>> Subject: [JUG-Indonesia] OOT - Model Venture Capital yang cocok di >>> Indonesia >>> To: jug-indonesia@... >>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:49 AM >>> >>> >>> >>> Nah mumpung lagi ngomongin Venture Capital, disambung deh... >>> Udah lama juga gua mikirin masalah Venture Capital yang cocok untuk >>> Indonesia ini. >>> >>> Pastinya kalau persis sama dengan di US, terutama Sillicon Valley, gak >>> akan bisa karena environment nya beda. Tapi konsep dan prinsip-prinsip dasar >>> nya mungkin bisa sama. >>> >>> Kalau gua lihat secara bisnis, model Venture Capital di SV bisa jalan >>> karena: >>> #1) >>> Dari sisi investor cukup menarik, perusahaan VC memodali banyak >>> perusahaan startups yang mayoritas akan gagal, katakanlah angkanya 1 banding >>> 25, Dari 25 yang dimodali hanya 1 berhasil. Yang 1 berhasil ini bisa >>> menutupi kegagalan 24 investasi yang lain yang returnnya NOL besar. Biasanya >>> 1 yang berhasil adalah perusahaanya di beli oleh perusahaan lain yang lebih >>> besar atau IPO (listing saham di bursa efek). >>> Dengan model ini, perusahaan startups bisa menguntungkan buat investor >>> padahal perusahaan nya sendiri BELUM TENTU menguntungkan. Ingat contoh kasus >>> FACEBOOK, terakhir gua check 6 bulan lalu (sekarang belum check lagi) >>> facebook itu BELUM menguntungkan secara bisnis. Penghasilan dari bisnisnya >>> gak bisa menutupi operasional. Tapi mereka bisa hidup karena suntikan dana >>> semacam dari Microsoft ngasih duit US $ 250 juta, alias Rp 2,5 triliyun. >>> Mereka cukup hidup dari situ dansudah untung malah, gak perlu untung dari >>> revenue perusahaan Facebook nya sendiri. Nanti kalau Facebook listing >>> dibursa saham atau bahkan sekedar di beli perusahan lain nilainya dipastikan >>> sudah akan diangka billion US dollar, atau diangka puluhan sampai ratusan >>> triliyun rupiah. >>> >>> Konsep disini adalah: INVESTOR punya kesempatan mendapatkan HIGH gain >>> berupa return investasi ribuan % sehingga mau melakukan investasi yang HIGH >>> risk karena perusahaan startups yang dibiayai kebanyakan agak gagal. >>> Investor juga punya punya exit door yaitu dengan menjual perusahaan yang >>> sukses atau melakukan IPO. Jadi dia tak perlu menunggu perusahaan mencapai >>> balik modal dan untung dulu baru dia bisa untung. >>> >>> #2) >>> Secara teknologi, hanya perusahaan yang melakukan INOVASI yang cocok >>> dengan konsep diatas, karena hanya perusahaan inovasi yang bisa menghasilkan >>> return of investment ratusan atau ribuan %. Perusahaan IT kecil yang tidak >>> menghasilkan model bisnis baru semacam google. facebook, twiter, viaweb dan >>> broadcast.com jaman dot com bubble dulu , dll akan gak menarik buat >>> investor. Alas, perusahaan startups Indonesia kalau hanya mengikuti model >>> bisnis lama standar seperti IT system/software development dan lain-lain >>> akan susah masuk model ini. >>> >>> Nah dari 2 faktor ini saling mendukung sebenarnya. Kalau ada model nomor >>> 1 dimana environment INVESTASI ada, maka yang nomor #2 gua yakin akan >>> mengikuti, perusahaan-perusaha an inovasi akan bisa lahir karena ada >>> peluang. However kalau yang nomor #2 belum ada sebagai pioneer, mungkin >>> belum ada INVESTOR atau VC yang akan tertarik melakukan #1. >>> >>> Ini masalah telur ayam-telur ayam. Harus adabsatu "power of the force" >>> kayaknya yang mampu menghasilkan quantum leap dan salah satu dari #1 atau #2 >>> bisa terjadi tanpa ada faktor yang salah satunya dulu. >>> >>> Atau mungkin juga yang lebih tepat Indonesia gak meniru model diatas? >>> Mungkin pihak-pihak yang concern atau punya misi memajukan >>> enterpreneurship di Indonesia bisa memikirkan model baru dengan konsep atau >>> prinsip-prinsip yang mirip. Jtechnoprener dan semacamnya mungkin bisa >>> melangkah ke langkah selanjutnya? Gua melihat ekosistem ini yang harus >>> dibangun dulu. >>> >>> Rudi Har >>> >>> >>> >>> >>> >>> 2009/10/24 Frans Thamura <frans@meruvian. org<http://mc/compose?to=frans@...> >>> > >>> >>>> >>>> >>>> Kalau tidak efektif distop dan diganti mungkin yang lebih konstruktif : >>>>> membuat badan venture capital untuk anak2 muda atau calon pengusaha yang >>>>> memiliki kesemua persyaratan awal jadi pengusaha yang bergerak di bidang IT. >>>>> >>>>> >>>> baru aja diskusi dg teman (dokter) yang buka usaha sutra, dan bahas >>>> masalah ini, ada orang sun indonesia juga ikutan :0 >>>> >>>> negara ini masih jauh untuk kesana ;) infrastruktur, korupsi, rupiah >>>> yang volatile. >>>> >>>> distop ganti jadi program pembokat ... karena negara ini emang cocok >>>> jadi pembokat doang.. >>>> >>>> >>>> >>>> >>>> >>>> >>>> >>> >>> >>> >>> >> >> >> > > > > |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia>
> Lebih gampang buka warung bakmi kali ya langsung datang duitnya di hari > pertama buka. > > sepupu gue buka bakmie jalan di binus, lumayan 40kg katanya sehari, ini artinya dalam 10 tahun dah bisa beli rumah, mobil tapi ternyata kawin dg orang lain yang lebih beruang lbh ok :) indonesia banget kan :) Ya gua ngerti deh kalo orang yang udah mengalami jungkir balik jadi > enterpreneneur di Indonesia. Disini yang di bidik bertahan hidup dulu kali > ya. > yah karena banyak faktor di negara ini bro. 1. negara ini baru berdiri gak ada tujuan , pemerintah aja gak tahu mau ngapain, lihat aja... 2. ekosistem industri merugikan industri, konon beban pemecatan pegawai itu harusnya tanggung jawab negara, bukan perusahaan. di indo beban perusahaan 3. pungli dimana2 4. SDM yang do-er, pasif, tidak kritis, lo lihat aja di milis ini :) super pasif community ... 5. hak dan kewajiban tidak balance, perlu sebuah seni bela diri yang tinggi memecahkan masalah ini 6. gue gak tahu negara ini mau jadi replicator atau pirate atau inovator :) china kan jelas replicator dan imitator expert. 7. bunga usaha kecil lebih besar dari usaha besar, yang notabene usaha besar di indoensia sejak 2007, merger become one big family, jadi indonesia dah seperti singapore (own by lee kwan you familiy). di indonesia by what familiy, :) lo mention all group, they are related. jadi, mie bukan jawaban bro, kawin sama jetset lo langsung sustain, what ever biz pasti jalan. gue sih lihat negara ini bagusnya buat jadi tempat rekreasi, tetapi karena memposisikan diri sebagai negara agama, jadi gak bisa juga ke entertainment, jadi entertainment garing kurang hot, lo tahu kan entertainment nyerept sama sekitar aurat. sebab karakter orang indonesia mirip latino. Tapi gua gak mau persimis ah, udah banyak yang pesimis gak butuh ditambahi > :-) Gua gak yakin Indonesia selamanya jadi pembokat doang bisanya. > makanya coba start, lo aja di thailan cuman jadi listener disini :( sama aja dg yang ada disini > > Minimal akan ada banyak macam-macam nasib orang di Indonesia, ini karena > kita memang heterogen banget, berserakan di atas puluhan ribu pulau > terisolasi satu sama lain. Gak semua akan jadi pembokat laa :-p > Gua yakin banyak kelompok orang-orang lainnya, salah satunya inovator ini > suatu saat. Mungkin saatnya musti nunggu selamanya :-) > > Senjang memang Indonesia ini, tapi kesenjangan topik lain lah itu :-) > > > > 2009/10/29 Frans Thamura <frans@...> > > >> >> setahu gue di indonesia adanya angel investor, investor mau mau gue, dan >> evil investor, angel dan evil ini bedanya cuman di persepsi >> >> regulasi kita gak cocok buat ekosistem keilmuan.. >> >> jadi VC mah disini bangkrut, dulu ada peter ong yang urus VC buat dotcom >> di sinarmas, ngilang dia >> >> >> -- >> Frans Thamura >> Meruvian. >> Experiential Tempation of Java and Enterprise OpenSource >> >> Meruvian bukan hanya membuat anak SMK menjadi bisa tapi SAKTI, malah >> saktinya SAKTI Mandraguna. >> >> >> Mobile: +62 855 7888 699 >> Blog & Profile: http://frans.thamura.info >> >> We provide services to migrate your apps to Java (web), in amazing fast >> and reliable. >> >> >> 2009/10/28 Rudi Har <Rudi.Har@...> >> >> >>> >>> Ini menarik juga yang dibuat sama telkom ini. Entah modelnya seperti apa, >>> apakah itu layanan masyarakat telkom alias non profit atau ada tujuan >>> bisnisnya (secara ekonomi dia plausible) >>> >>> Gua lebih percaya bahwa untuk hal yang gini akan lebih berhasil kalau >>> sisi bisnisnya jelas. Karena akan tahan lama dan punya peluang bertumbuh >>> lebih besar diikuti permain lain. >>> >>> Kalo cuma program pengabdian masyarakat kayakna gak akan bertahan lama. >>> Inovasi yang benar-benar berdampak itu kejadiannya jarang, jadi ekosistemnya >>> harus bisa bertahan hidup cukup lama sampai Inovasi itu udah datang, dan itu >>> mungkin tahunan atau puluhan tahun. Untuk jangka waktu sepanjang ini >>> kayaknya hanya sesuatu yang eonomis yang akan mampu bertahan >>> >>> Singkatnya setelah sekian tahun telkom award tidak menghasilkan sesuatu >>> yang fenomenal mungkin mereka akan kehabisan energi duluan dan berhenti >>> melakukan ini. Inovasi sulit diramal akan muncul dimana, kapan dan dalam >>> bentuk apa. Jadi lingkungan yang pas untuk inivasi adalah lingkungan yang >>> siap menunggu SELAMANYA >>> >>> 2009/10/28 dwicahyo yulianto <dwicahyoyulianto@...> >>> >>> >>>> >>>> mungkin yang tepat di kita itu sistem koperasi atau sistem syariah. >>>> >>>> yang saya lihat, pemenang award (indigo, ristek&telkom award, dll) >>>> mengenai kreatifitas di bidang IT sepertinya tidak akan menjadi milyarder >>>> muda. atau penyedia konten seperti bubu, dagdigdug, astaga.com, >>>> kapanlagi.com, atau detik.com tidak seperti yahoo atau yg sejenisnya >>>> yang harganya berjuta-juta USD. >>>> >>>> >>>> >>>> --- On *Wed, 10/28/09, Rudi Har <Rudi.Har@...>* wrote: >>>> >>>> >>>> From: Rudi Har <Rudi.Har@...> >>>> Subject: [JUG-Indonesia] OOT - Model Venture Capital yang cocok di >>>> Indonesia >>>> To: jug-indonesia@... >>>> Date: Wednesday, October 28, 2009, 1:49 AM >>>> >>>> >>>> >>>> Nah mumpung lagi ngomongin Venture Capital, disambung deh... >>>> Udah lama juga gua mikirin masalah Venture Capital yang cocok untuk >>>> Indonesia ini. >>>> >>>> Pastinya kalau persis sama dengan di US, terutama Sillicon Valley, gak >>>> akan bisa karena environment nya beda. Tapi konsep dan prinsip-prinsip dasar >>>> nya mungkin bisa sama. >>>> >>>> Kalau gua lihat secara bisnis, model Venture Capital di SV bisa jalan >>>> karena: >>>> #1) >>>> Dari sisi investor cukup menarik, perusahaan VC memodali banyak >>>> perusahaan startups yang mayoritas akan gagal, katakanlah angkanya 1 banding >>>> 25, Dari 25 yang dimodali hanya 1 berhasil. Yang 1 berhasil ini bisa >>>> menutupi kegagalan 24 investasi yang lain yang returnnya NOL besar. Biasanya >>>> 1 yang berhasil adalah perusahaanya di beli oleh perusahaan lain yang lebih >>>> besar atau IPO (listing saham di bursa efek). >>>> Dengan model ini, perusahaan startups bisa menguntungkan buat investor >>>> padahal perusahaan nya sendiri BELUM TENTU menguntungkan. Ingat contoh kasus >>>> FACEBOOK, terakhir gua check 6 bulan lalu (sekarang belum check lagi) >>>> facebook itu BELUM menguntungkan secara bisnis. Penghasilan dari bisnisnya >>>> gak bisa menutupi operasional. Tapi mereka bisa hidup karena suntikan dana >>>> semacam dari Microsoft ngasih duit US $ 250 juta, alias Rp 2,5 triliyun. >>>> Mereka cukup hidup dari situ dansudah untung malah, gak perlu untung dari >>>> revenue perusahaan Facebook nya sendiri. Nanti kalau Facebook listing >>>> dibursa saham atau bahkan sekedar di beli perusahan lain nilainya dipastikan >>>> sudah akan diangka billion US dollar, atau diangka puluhan sampai ratusan >>>> triliyun rupiah. >>>> >>>> Konsep disini adalah: INVESTOR punya kesempatan mendapatkan HIGH gain >>>> berupa return investasi ribuan % sehingga mau melakukan investasi yang HIGH >>>> risk karena perusahaan startups yang dibiayai kebanyakan agak gagal. >>>> Investor juga punya punya exit door yaitu dengan menjual perusahaan yang >>>> sukses atau melakukan IPO. Jadi dia tak perlu menunggu perusahaan mencapai >>>> balik modal dan untung dulu baru dia bisa untung. >>>> >>>> #2) >>>> Secara teknologi, hanya perusahaan yang melakukan INOVASI yang cocok >>>> dengan konsep diatas, karena hanya perusahaan inovasi yang bisa menghasilkan >>>> return of investment ratusan atau ribuan %. Perusahaan IT kecil yang tidak >>>> menghasilkan model bisnis baru semacam google. facebook, twiter, viaweb dan >>>> broadcast.com jaman dot com bubble dulu , dll akan gak menarik buat >>>> investor. Alas, perusahaan startups Indonesia kalau hanya mengikuti model >>>> bisnis lama standar seperti IT system/software development dan lain-lain >>>> akan susah masuk model ini. >>>> >>>> Nah dari 2 faktor ini saling mendukung sebenarnya. Kalau ada model nomor >>>> 1 dimana environment INVESTASI ada, maka yang nomor #2 gua yakin akan >>>> mengikuti, perusahaan-perusaha an inovasi akan bisa lahir karena ada >>>> peluang. However kalau yang nomor #2 belum ada sebagai pioneer, mungkin >>>> belum ada INVESTOR atau VC yang akan tertarik melakukan #1. >>>> >>>> Ini masalah telur ayam-telur ayam. Harus adabsatu "power of the force" >>>> kayaknya yang mampu menghasilkan quantum leap dan salah satu dari #1 atau #2 >>>> bisa terjadi tanpa ada faktor yang salah satunya dulu. >>>> >>>> Atau mungkin juga yang lebih tepat Indonesia gak meniru model diatas? >>>> Mungkin pihak-pihak yang concern atau punya misi memajukan >>>> enterpreneurship di Indonesia bisa memikirkan model baru dengan konsep atau >>>> prinsip-prinsip yang mirip. Jtechnoprener dan semacamnya mungkin bisa >>>> melangkah ke langkah selanjutnya? Gua melihat ekosistem ini yang harus >>>> dibangun dulu. >>>> >>>> Rudi Har >>>> >>>> >>>> >>>> >>>> >>>> 2009/10/24 Frans Thamura <frans@meruvian. org<http://mc/compose?to=frans@...> >>>> > >>>> >>>>> >>>>> >>>>> Kalau tidak efektif distop dan diganti mungkin yang lebih konstruktif : >>>>>> membuat badan venture capital untuk anak2 muda atau calon pengusaha yang >>>>>> memiliki kesemua persyaratan awal jadi pengusaha yang bergerak di bidang IT. >>>>>> >>>>>> >>>>> baru aja diskusi dg teman (dokter) yang buka usaha sutra, dan bahas >>>>> masalah ini, ada orang sun indonesia juga ikutan :0 >>>>> >>>>> negara ini masih jauh untuk kesana ;) infrastruktur, korupsi, rupiah >>>>> yang volatile. >>>>> >>>>> distop ganti jadi program pembokat ... karena negara ini emang cocok >>>>> jadi pembokat doang.. >>>>> >>>>> >>>>> >>>>> >>>>> >>>>> >>>>> >>>> >>>> >>>> >>>> >>> >>> >>> >> >> >> > > > > |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesiaketinggalan
dg karakter indonesia, makanya gue merasa program jtechnopreneur ini ok banget ;) secara statistika karena jumlah orang indo banyak walaupun output presentase kecil, peluang ada :) malah dg trend internet mobile yang meledak, makin prospectus F |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia2009/10/29 Frans Thamura <frans@...>
>> >> Lebih gampang buka warung bakmi kali ya langsung datang duitnya di hari pertama buka. > > sepupu gue buka bakmie jalan di binus, lumayan 40kg katanya sehari, ini artinya dalam 10 tahun dah bisa beli rumah, mobil > tapi ternyata kawin dg orang lain yang lebih beruang lbh ok :) > indonesia banget kan :) >> >> Ya gua ngerti deh kalo orang yang udah mengalami jungkir balik jadi enterpreneneur di Indonesia. Disini yang di bidik bertahan hidup dulu kali ya. > > yah karena banyak faktor di negara ini bro. > 1. negara ini baru berdiri gak ada tujuan , pemerintah aja gak tahu mau ngapain, lihat aja... > 2. ekosistem industri merugikan industri, konon beban pemecatan pegawai itu harusnya tanggung jawab negara, bukan perusahaan. di indo beban perusahaan > 3. pungli dimana2 > 4. SDM yang do-er, pasif, tidak kritis, lo lihat aja di milis ini :) super pasif community ... > 5. hak dan kewajiban tidak balance, perlu sebuah seni bela diri yang tinggi memecahkan masalah ini > 6. gue gak tahu negara ini mau jadi replicator atau pirate atau inovator :) china kan jelas replicator dan imitator expert. > 7. bunga usaha kecil lebih besar dari usaha besar, yang notabene usaha besar di indoensia sejak 2007, merger become one big family, jadi indonesia dah seperti singapore (own by lee kwan you familiy). di indonesia by what familiy, :) lo mention all group, they are related. Menarik Frans poin-poin yang lu cantumin di atas. Itu membuka mata kita untuk berbuat sesuatu. Harus ada yang berubah supaya Indonesia maju, mengejar ketertinggalan dari negara2 tetangga. Poin nomor 7 tentang Singapore memang bener, kebanyakan dikuasai LKY. Tapi bedanya di sini mayoritas penduduknya punya kehidupan yang layak. Komplen dari rakyat ya tetap ada. Government beginilah, begitulah, bla bla bla. Tapi tidak terlalu nyangkut urusan perut. Soalnya kalo ud urusan perut berabe. Di Indonesia gap antara kaya dan miskin jauh banget. Ekonomi dikontrol sama yang punya duit dan orangnya itu2 aja. Idealnya middle class, entrepreneur muda dibanyakin. Tapi gw bener2 bingung harus mulai dari mana. Diskusi kaya gini kan uda sering banget. Kita butuh sesuatu yang bisa dijalanin secara konkrit. Tapi sekali lagi gw bener2 buta soal ini. - Jecki - blog: http://jecki.wordpress.com/ |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia> Poin nomor 7 tentang Singapore memang bener, kebanyakan dikuasai LKY.
> Tapi bedanya di sini mayoritas penduduknya punya kehidupan yang layak. > Komplen dari rakyat ya tetap ada. Government beginilah, begitulah, bla > bla bla. Tapi tidak terlalu nyangkut urusan perut. Soalnya kalo ud > urusan perut berabe. yah tapi rakyat singapore telah dibutakan :0 lihat orang kaya di sing vs indo, banyakan indo kan ;) hu hu > Di Indonesia gap antara kaya dan miskin jauh banget. Ekonomi dikontrol > sama yang punya duit dan orangnya itu2 aja. Idealnya middle class, > entrepreneur muda dibanyakin. Tapi gw bener2 bingung harus mulai dari > mana. betul jauh banget, tetapi keluarga LKY dg rakyat sing lebih jauh lagi, dan kesempatan orang sing jadi kaya LKY bisa kalau tidurin keluarganya atau jadi familiynya ;) ckckckc kalau di indonesia, banyak under dog, orang gak jelas yang naik jadi dg 7 poin buruk indo, tetap lebih baik dari singapore atau malaysia malah :0 > > Diskusi kaya gini kan uda sering banget. Kita butuh sesuatu yang bisa > dijalanin secara konkrit. Tapi sekali lagi gw bener2 buta soal ini. > > - Jecki - > blog: http://jecki.wordpress.com/ > > > ------------------------------------ > > Kalau mau keluar dari mailing list ini, caranya kirim sebuah email ke jug-indonesia-unsubscribe@.... > > Jangan lupa, website JUG Indonesia adalah http://www.jug.or.id > > Yahoo! Groups Links > > > > |
|
|
Db yg cocokDear Teman,
Mau tau database yg paling baik utk mass data itu apa ya ? Sejauh ini saya masih penjajakan di db derby dan progresssql, ada comment lain ? Lalu utk jenis koneksi database yg cepat apa ya ? selama ini saya menggunakan hibernate... Apa ada jenis koneksi lain yg mungkin akses menjadi lebih cepat ? dgn asumsi mass data... / datanya banyak Tq Ali G |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia2009/10/29 Frans Thamura <frans@...>
> > > Poin nomor 7 tentang Singapore memang bener, kebanyakan dikuasai LKY. > > Tapi bedanya di sini mayoritas penduduknya punya kehidupan yang layak. > > Komplen dari rakyat ya tetap ada. Government beginilah, begitulah, bla > > bla bla. Tapi tidak terlalu nyangkut urusan perut. Soalnya kalo ud > > urusan perut berabe. > > yah tapi rakyat singapore telah dibutakan :0 > > lihat orang kaya di sing vs indo, banyakan indo kan ;) > > hu hu > Iy banyak org kaya indo lari ke sing :D. Makanya stigma org sing kalo liat org indo (terutama yg mata sipit) pasti kaya. padahal kan ga juga. Banyak yg harus struggle buat hidup, kasih makan keluarga. > > Di Indonesia gap antara kaya dan miskin jauh banget. Ekonomi dikontrol > > sama yang punya duit dan orangnya itu2 aja. Idealnya middle class, > > entrepreneur muda dibanyakin. Tapi gw bener2 bingung harus mulai dari > > mana. > > betul jauh banget, tetapi keluarga LKY dg rakyat sing lebih jauh lagi, > dan kesempatan orang sing jadi kaya LKY bisa kalau tidurin keluarganya > atau jadi familiynya ;) ckckckc > > kalau di indonesia, banyak under dog, orang gak jelas yang naik > > jadi dg 7 poin buruk indo, tetap lebih baik dari singapore atau > malaysia malah :0 > Masa sih? Berapa banyak orang miskin di Indonesia? Berapa banyak orang rebutan BLT, sedekah sampai ga mikiran keselamatan jiwa? Berapa banyak yang ga bisa sekolah tinggi? Berapa banyak yang menghabiskan waktu nonton sinetron ga mutu karena kurang edukasi? IMO indo jelas lebih buruk. Ya, memang kita punya resource alam yang besar. Tapi bukan berarti makmur kan. Kita kebanyakan dicekokin slogan "Indonesia negara yang makmur dan kaya". Apa saran loe Frans supaya lebih maju lagi? Gw liat loe punya ide2 yang banyak. Tapi jujur aja kadang gw ga nangkep ide loe, hehe.. ketinggian kayanya. Pemikiran gw sih harus mulai dengan memperbanyak entrepreneur muda. Konkritnya kalau buat kita java user ya bikin company ISV. Sepertinya harus ada network antar ISV yang kuat. Ga melihat ISV lain sebagai saingan aja, tapi bangun environment yang bagus supaya ISV bisa grow. Real-nya kaya apa, gw bener2 buta. Semoga pemikiran ini ga cupu2 amat. - Jecki - blog: http://jecki.wordpress.com/ |
|
|
Re: Db yg cocokpake file text ajah.
2009/10/29 Ali Gunawan <gunlee77@...> > > > Dear Teman, > > > > Mau tau database yg paling baik utk mass data itu apa ya ? > > Sejauh ini saya masih penjajakan di db derby dan progresssql, ada comment > lain ? > > > > Lalu utk jenis koneksi database yg cepat apa ya ? selama ini saya > menggunakan hibernate….. > > Apa ada jenis koneksi lain yg mungkin akses menjadi lebih cepat ? dgn > asumsi mass data... / datanya banyak > > > > Tq > > Ali G > > -- Abdul Arfan http://arfan86.blogspot.com |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia2009/10/28 Daniel Baktiar <dbaktiar@...>
> > > masalah lain, mungkin infrastruktur juga ya. > kalau di lembah silikon, kan nempel dengan banyak tier-1 backbone. > kalau di lembah sungai ciliwung, backbone-nya masih nempel sama kursi. > yang menarik, mark shuttleworth kok bisa juga ya, dari afrika selatan? apa di sana bagus juga infrastrukturnya? --> Daniel, soalnya si mark shuttleworth itu duitnya gak abis-abis :P. Kalo gak salah sampe sekarang ubuntu itu gak profit kan yah ? Jadi memang dari awal orientasinya memang bukan profit secara income/revenue. Mungkin perlu dilihat dari culture juga jauh beda kali yah, orang indonesia itu gemar berbagi, gotong-royong. Makanya daripada disuruh beli, lebih prefer nyari yang gratisan. Kalo dulu gratisan-nya dari bajakan, mudah2an sekarang udah banyak yang beralih ke yang halal, pake opensource :P Jadi kalau kultur yang seperti itu mau dipaksakan ke-arah dimana Intelektual Property jadi commodity/revenue untuk dijual, sepertinya berat. Jadi satu-satunya cara untuk VP menarik keuntungan adalah dengan cara company yang disupport itu menjual services. Tapi seperti yang daniel bilang, untuk hal seperti itu butuh infrastruktur bagus , yang sayangnya disini belum mendukung :( ~palapaRIngKabarnyaGimanaYah |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia2009/10/29 Frans Thamura <frans@...>
> > Rudi Har wrote: > >> >> Ya gua ngerti deh kalo orang yang udah mengalami jungkir balik jadi >> enterpreneneur di Indonesia. Disini yang di bidik bertahan hidup dulu kali >> ya. >> > > yah karena banyak faktor di negara ini bro. > > 1. negara ini baru berdiri gak ada tujuan , pemerintah aja gak tahu mau > ngapain, lihat aja... > Tujuan pasti adalah broer, itu kata-kata masyarakat adil makmur ada ditulis. Cuma gua juga ngelihat sering antara tujuan dengan yang kita kerjakan gak sinkron, kadang ada conflicting minds kayaknya, jadinya kita gak tau apa yang kita mau. Kalau mau jadi makmur misalnya, semua orang harus dibiarkan mengakumulasi kemakmuran sebesar-besarnya. Jangan ditahan-tahan, dan hasilnya bisa jadi ada yang makmur sekali ada yang sekedar bertahan hidup, ini makmur juga kan. Tapi ini kan kesenjangan, kita gak mau itu. Jadinya kita gak suka ngeliat orang yang sangat-sangat berhasil mengakumulasi kemakmuran. Ini kan conflicting of minds? something like that lah bro, you got the point. Dan butuh waktu untuk mengurai benang-benang kusut mindset kayak gini, sehingga kita bisa memiliki mindset yang benar sehingga gak conflict kayak orang linglung, mau makmur tapi gak suka kaya. Maunya apa wakakaka > 2. ekosistem industri merugikan industri, konon beban pemecatan pegawai > itu harusnya tanggung jawab negara, bukan perusahaan. di indo beban > perusahaan > Ini another debat for another time aja kali yah. Yang jelas kalau pemecatan tanggung jawab negara, perusahaan akan pecat karyawan sesuka hati. Waktu ada project karyawan 1000 orang, project selesai 2 bulan kemudian, tinggal 2 orang. 998 IT expert jadi tukang becak. Kalau pemecatan tanggung jawab perusahaan sering kejasian orang sengaja ngelunjak biar di PHK dan dapat pesangon dapat golden parachute. > 3. pungli dimana2 > Ini memang paling menyedihkan, lama-lama udah gak sedih lagi malah, udah biasa rasanya. Menyedihkan, yang menyedihkan bukan punglinya, tapi menyedihkan karena kita lama-lama jadi kebal dan gak mampu sedih lagi :-D Masih lama kayaknya point ini bisa benar. Buat sementara ya musti jumpalitan lah memang. Take it of leave it katanya. Dan selalu aja akan ada orang yang akan mau ngamgil pilihan take it. Yang gak tahan silahkan melupakan cita-citanya dan hidup untuk sekedar bernafas saja untuk the next 60 years :-) Alam tidak selalu ramah pada kehidupan, tapi selalu ada makhluk yang bertahan hidup, dan banyak yang punah. 4. SDM yang do-er, pasif, tidak kritis, lo lihat aja di milis ini :) super > pasif community ... > Ada juga yang kritis, super kritis juga ada. Tapi gua setuju kebanyakan orang indonesia belum berpikiran terbuka. Kita gak terbiasa berpikir melepaskan semua dogma dulu dan membuka semua kemungkinan. Buat kita itu masih mengerikan. Tapi gak semua orang gitu. Anyway, gak cukup lah dilihat cuma berdasarkan di milis ini aja. Kali aja kebetulan di milis ini kumpul yang gak kritis semua, karena Frans moderatornya apes kali hahaha. You got the point... > 5. hak dan kewajiban tidak balance, perlu sebuah seni bela diri yang tinggi > memecahkan masalah ini > Ya mungkin ada benarnya kayak nomor 3. Trus mau apa lagi, mau menyerah total juga pasti pada gak mau. Naturally, kita akan selalu mencari jalan keluar. Itu nature manusia. Dan biasanya selalu ada jalan keluar. 6. gue gak tahu negara ini mau jadi replicator atau pirate atau inovator :) > china kan jelas replicator dan imitator expert. > Nah kalau ini gual ngelihat Indonesia ini akan banyak macamnya. Ini kelihatan kalau kita ke Jakarta, jalan lintas Sumatera, atau kalimantan. Kontras. Kita penduduk 300 juta, gak gampang memakmurkan ini semua. Kita akan bertambah maju, trus ada setback lagi, maju lagi setack lagi dan seterusnya. Tapi in the long term akan makin baik. Sejarah menunjukkan itu, civilation is always get better not worst. Cuma mungkin tiap bangsa beda kecepatan kemajuannya. Kalau kita bertambah kaya 10% tiap tahun, dan bangsa lain semua bertambah kaya 20%, 5 tahun lagi kita akan merasa kita lebih miskin 50% walaupun realnya kita lebih kaya 50% > 7. bunga usaha kecil lebih besar dari usaha besar, yang notabene usaha > besar di indoensia sejak 2007, merger become one big family, jadi indonesia > dah seperti singapore (own by lee kwan you familiy). di indonesia by what > familiy, :) lo mention all group, they are related. > Kalau negara lain gimana ya? Mungkin bisa dilihat sebagai referensi. Rasanya kebanyakan memang gini, agak kurang make sense memang. Orang kaya biasanya pajaknya lebih rendah dari orang miskin. Duit gaji gua yang gua cari dengan banting tulang sebulan penuh jam 8 pagi sampai jam 5 sore kena pajak 10%. Tapi kalau gua jual saham gua yang sudah profit lebih dari 100% dengan cuma ongkang-ongkang kaki, pajaknya adalah 0,25%. Ini asli gua alami :-) Tapi gua gak mau persimis ah, udah banyak yang pesimis gak butuh ditambahi >> :-) Gua gak yakin Indonesia selamanya jadi pembokat doang bisanya. >> > > makanya coba start, lo aja di thailan cuman jadi listener disini :( sama > aja dg yang ada disini > Pak Onno ada dimilis ini loh, dan jadi listener. Hati-hati ngomong :-p Loe kebiasaan bikin ukuran gak reliable :-p Tiap orang punya target beda bro, caranya beda, medianya beda, prioritasnya beda, dan area nya beda. Kalau ada bangsa didalamnya semua orang sama kayak Frans Thamura, gua berani taruhan negara naya akan tambah miskin tiap tahun. Kehidupan adalah rangkian banyak part yang berbeda-beda, kalau semua part sama maka hasilnya adalah deretan pasir seluas alam semesta yang terlihat sama tapi gak ada artinya :-) Anyway kalau gua simpulin point gua, kita hidup di environment yang tidak lebih baik. Tapi US, Europe juga pernah berada dimasa kegelapan. Kalau mereka bisa lebih baik sekarang kita juga bisa. Malah sebenarnya juga kita sudah lebih baik, lihat point diatas. Tapi kita menjadi lebih baik lebih lambat dari mereka. Yes we, can... kata siapa itu. Virus Obama nih :-) Rudi Har |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di IndonesiaThomas, ini ada orang promosi diban aja wakaka.
2009/10/29 Frans Thamura <frans@...> > > > ketinggalan > > dg karakter indonesia, makanya gue merasa program jtechnopreneur ini ok > banget ;) > > secara statistika karena jumlah orang indo banyak walaupun output > presentase kecil, peluang ada :) > > malah dg trend internet mobile yang meledak, makin prospectus > > F > |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia> --> Daniel, soalnya si mark shuttleworth itu duitnya gak abis-abis :P.
> Kalo gak salah sampe sekarang ubuntu itu gak profit kan yah ? Jadi > memang dari awal orientasinya memang bukan profit secara > income/revenue. gue gak percaya itu :) lihat aja.... he is smart :) dia menggunakan posisi uang yang banyak dari dirinya untuk get something melawan microsoft harus berani napas panjang.. dan he is the one.. > Mungkin perlu dilihat dari culture juga jauh beda kali yah, orang > indonesia itu gemar berbagi, gotong-royong. Makanya daripada disuruh > beli, lebih prefer nyari yang gratisan. Kalo dulu gratisan-nya dari > bajakan, mudah2an sekarang udah banyak yang beralih ke yang halal, kalau ekosistem seperti ini.. pake gratisan tapi gak ada jiwa kontribusi, itu seperti monyet dikasih pisang.. main makan terus lari lihat aja akhirnya jadi topeng monyet dipinggir jalan kan, di abuse this is very stupid way.. gak ada kekuatan sebab gue lihat di indo lebih cenderung suka buat aplikasi sampe jadi dan orang luar yang buat kernel atau platform atau komponennya. > > ~palapaRIngKabarnyaGimanaYah nah ini contoh pemeirhta kita goblok, palaparing ini penuh politik dan emang diciptakan memeras rakyatnya, gara-gara ini, kita semua gak competitive lo list deh, banyaknyaknya gak terkira.. :0 bad hole everywhere so... kita pergi jadi warga negara kelas 2, tetap tinggal jadi monyet. we must have smart mvoe |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia2009/10/29 Jecki <jecki.go@...>:
> 2009/10/29 Frans Thamura <frans@...> >> 7. bunga usaha kecil lebih besar dari usaha besar, yang notabene usaha besar di indoensia sejak 2007, merger become one big family, jadi indonesia dah seperti singapore (own by lee kwan you familiy). di indonesia by what familiy, :) lo mention all group, they are related. > > Menarik Frans poin-poin yang lu cantumin di atas. Itu membuka mata > kita untuk berbuat sesuatu. Harus ada yang berubah supaya Indonesia > maju, mengejar ketertinggalan dari negara2 tetangga. > > Poin nomor 7 tentang Singapore memang bener, kebanyakan dikuasai LKY. > Tapi bedanya di sini mayoritas penduduknya punya kehidupan yang layak. > Komplen dari rakyat ya tetap ada. Government beginilah, begitulah, bla > bla bla. Tapi tidak terlalu nyangkut urusan perut. Soalnya kalo ud > urusan perut berabe. Ini benar, gua sering dengar sendiri dari orang Sing nya. Mereka sering ngomel-ngomel dengan Singapore. Jangan kira itu di Singapore hidup enak. Disana itu sekarang usia pensiun terpaksa dinaikkan, karena mereka gak mampu menghidupi kaum tuanya. Disana orang sangat susah bisa pensiun diumur 65-an. Disana orang umur 70 dan 75 terpaksa masih kerja karena biaya hidup disana mahal. Bukan hal aneh disana mantan Direktur jadi pembersih WC setelah pensiun. Hidup di singapore itu high tension. Hidup mereka di ujung tanduk tiap hari. Mereka gak punya resource yang cukup untuk hidup. Jadi harus memonetize service untuk ditukar dengan kebutuhan hidup yang dibeli dari negara tetangga. Ya makanan, ya air, ya pasir, import semua. Dibayar dari uang service. Yang beruntung uang nya dari service Investment Management. Yang gak beruntung menjual service membersihkan toilet. Yang ada malah orang Singapore nya bilang ke gua: "Negara loe enak, mau hidup gampang. Mau beli rumah dan mobil masih lebih bisa dijangkau daripada di Singapore". Waktu dia tau gua di Indonesia ke kantor bawa mobil, dia takjub sekali. Gua balas dengan ketakjuban gua ngelihat dia kok bisa takjub gitu. Anyway ini jadi melebar kemana-mana. Kalau diskusi dengan Frans biasanya memang jadi melebar kemana-mana. Habis itu lupa tadinya mau diskusiin apa :-) Rudi Har |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia2009/10/30 Rudi Har <Rudi.Har@...>
> Ini another debat for another time aja kali yah. Yang jelas kalau > pemecatan tanggung jawab negara, perusahaan akan pecat karyawan sesuka hati. > Waktu ada project karyawan 1000 orang, project selesai 2 bulan kemudian, > tinggal 2 orang. 998 IT expert jadi tukang becak. Kalau pemecatan tanggung > jawab perusahaan sering kejasian orang sengaja ngelunjak biar di PHK dan > dapat pesangon dapat golden parachute. > ada regulasi di US, buat perusahaan gampang, tapi kalau tutup, lo harus urus dg baik, dan mecat ada costnya juga.. gue lg belajar ;0 ada plus minusnya, plusnya di indo emang diciptakan pegawai dibawah standard global gajinya.. dan harus gitu. kalau gak perusahannyanya mati.. kalau gak mau dibawah standard, juga tetap dibawah standard, pertumbuhan penduduk indonesia sangat tinggi setahu gue, dan kelaparan itu didepan mata bro... 2015 konon 250 juta, orang, gila ini negara kaya marmut aja, > Masih lama kayaknya point ini bisa benar. Buat sementara ya musti > jumpalitan lah memang. Take it of leave it katanya. Dan selalu aja akan ada > orang yang akan mau ngamgil pilihan take it. Yang gak tahan silahkan > melupakan cita-citanya dan hidup untuk sekedar bernafas saja untuk the next > 60 years :-) Alam tidak selalu ramah pada kehidupan, tapi selalu ada makhluk > yang bertahan hidup, dan banyak yang punah. > pelajari yang survive, cenderung ke trader bukan ke technology.. >> Ada juga yang kritis, super kritis juga ada. Tapi gua setuju kebanyakan > orang indonesia belum berpikiran terbuka. Kita gak terbiasa berpikir > melepaskan semua dogma dulu dan membuka semua kemungkinan. Buat kita itu > masih mengerikan. Tapi gak semua orang gitu. Anyway, gak cukup lah dilihat > cuma berdasarkan di milis ini aja. Kali aja kebetulan di milis ini kumpul > yang gak kritis semua, karena Frans moderatornya apes kali hahaha. You got > the point... > back to statitistics dibawah 3% :) >> Cuma mungkin tiap bangsa beda kecepatan kemajuannya. Kalau kita bertambah > kaya 10% tiap tahun, dan bangsa lain semua bertambah kaya 20%, 5 tahun lagi > kita akan merasa kita lebih miskin 50% walaupun realnya kita lebih kaya 50% > so jadi :) makanya gak cocok teknologi, cocoknya entertainment, spa ++ :) > > Pak Onno ada dimilis ini loh, dan jadi listener. Hati-hati ngomong :-p > > suruh reply aja ;) > Kalau ada bangsa didalamnya semua orang sama kayak Frans Thamura, gua > berani taruhan negara naya akan tambah miskin tiap tahun. Kehidupan adalah > rangkian banyak part yang berbeda-beda, kalau semua part sama maka hasilnya > adalah deretan pasir seluas alam semesta yang terlihat sama tapi gak ada > artinya :-) > yah gue merendahkan manusianya tetapi mengagungkan produknya :0 diluar juga modelnya gini, gue dapat masukan ini dari temen2 dibrazil, mereka menyesal dg program SDM bagus tapi no product, dan disini sedang terjadi |
|
|
Re: OOT - Model Venture Capital yang cocok di Indonesia> Ini benar, gua sering dengar sendiri dari orang Sing nya. Mereka
> sering ngomel-ngomel dengan Singapore. Jangan kira itu di Singapore > hidup enak. Disana itu sekarang usia pensiun terpaksa dinaikkan, > karena mereka gak mampu menghidupi kaum tuanya. Disana orang sangat > susah bisa pensiun diumur 65-an. Disana orang umur 70 dan 75 terpaksa > masih kerja karena biaya hidup disana mahal. Bukan hal aneh disana > mantan Direktur jadi pembersih WC setelah pensiun. makanya gue gak jelas kenapa banyak orang indo (binus khususnya) tergila-gila kerja di singapore, dan share flat sampe umur 35-an keatas. gak nangkep gue. jelas2 itu merusak hidup mereka :) kecuali dia bisa sustain buat usaha sendiri disana dan go asia pasific, kalau tetap programmer sampe hari ini, return back aja dude let start together > Hidup di singapore itu high tension. Hidup mereka di ujung tanduk tiap > hari. Mereka gak punya resource yang cukup untuk hidup. Jadi harus > memonetize service untuk ditukar dengan kebutuhan hidup yang dibeli > dari negara tetangga. Ya makanan, ya air, ya pasir, import semua. makanya jelek-jelek gini, cw di indo lebih cakep dari disana ;0 jakarta is pleasure city dude, tanya thomas. > Yang ada malah orang Singapore nya bilang ke gua: "Negara loe enak, > mau hidup gampang. Mau beli rumah dan mobil masih lebih bisa dijangkau > daripada di Singapore". Waktu dia tau gua di Indonesia ke kantor bawa > mobil, dia takjub sekali. Gua balas dengan ketakjuban gua ngelihat dia > kok bisa takjub gitu. nah, rudi, kapan balik > Anyway ini jadi melebar kemana-mana. Kalau diskusi dengan Frans > biasanya memang jadi melebar kemana-mana. Habis itu lupa tadinya mau > diskusiin apa :-) kembalikan ke titik awal ;) gue masih percaya indo ada harapan, dan kekuatan ada, tapi urat harus panjang tahu gak kongsi papa gue, sekarang peternak ayam salah satu terbesar di jawa :) perlu 27 tahun untuk mencapai posisi itu, dan perjalanan awalnya tragis, dia ada pacar, harus diputus karena sang ortu pacarnya bilang, lo gak layak kawinin anak gue, punya apa :) sekarang dia buat pabrik 200 miliar cash bro :0 cash dan edannya temen gue (partner meruvian) yang tajir, aja keluarin uang segede gitu masih mikir, dan kongsi bokap gue keluari 6x200 miliar bro, cash cash cash.. dan kemana2 naik kijang gue inget satu kepala cabang bca kayanya atau lippo, gara-gara adik bokap gue gak boleh datang ke bank, gara-gara pake sendal dan celana pendek, dikeluarin tebak kenapa, karena ada uang di banknya, dan pas gak boleh ke bank itu ditarik uangnya, bank itu goyang, itu ekosistem di indonesia ;0 beliau, itu umur 15 jualan dipinggir jalan, dipukulin tibum, dari kaki lima, sekarang sih yah hidup jualan intelektual design sepatu.. anaknya gak ada yang di indo :) F |
| < Prev | 1 - 2 | Next > |
| Free embeddable forum powered by Nabble | Forum Help |