Re: perubahan iklim dunia

View: New views
2 Messages — Rating Filter:   Alert me  

Parent Message unknown Re: perubahan iklim dunia

by Anton Nurcahyo :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Tentang carbon trade.

Carbon trade ini sifatnya voluntary, artinya siapa mau bayar silahkan saja.
Carbon trade ini menjadi upaya untuk membangun "positive image" dari
perusahaan tertentu. Selama ini yg telah terjadi dalam skema carbon trade
ini adalah pembayaran sejumlah uang pada beberapa negara, seperti di
Finlandia, China dan Brazil. Pembayaran ini dilakukan oleh beberapa
perusahaan besar seperti misalnya Shell karena di beberapa negara tersebut
melakukan kegiatan yg mengurangi degradasi lahan karena perubahan tutupan
hutan.
Sehingga selama ini tidak pernah ada yg namanya suatu negara memberi uang ke
negara lain untuk masalah emisi.

Bicara mengenai emisi karbon bukan saja bicara mengenai kemampuan pohon
untuk fotosintesis, tetapi juga pelepasan gas2 ketika pembukaan hutan.

Pada awal hingga pertengahan Desember nanti di Copenhagen akan ada
pembicaraan mengenai emisi dan skema carbon trade. Yang dibahas salah
satunya adalah mengenai kemauan negara-negara untuk mengurangi emisinya.
Setiap negara sudah diwajibkan (melalui protocol kyoto dan COP 13) untuk
menghitung emisi yg dilepaskan. Nah di Copenhagen ini nanti akan dibahas
mengenai komitmen para negara tersebut untuk mengurangi emisinya. Skema REDD
(mengurangi emisi karbon dengan mengurangi deforestasi dan degradasi lahan)
juga menjadi bagian dari yg dibicarakan di Copenhagen.

Emisi di dunia, 18% adalah karena proses deforestasi/degradasi lahan
selebihnya karena industri dan otomotif, Indonesia sendiri pada peringkat
ke-3 dari bagian yg 18% ini setelah Brazil dan salah satu negara di Afrika.
Lucunya SBY, yg saat ini di Indonesia angka emisi karbon yg dilepaskan juga
belum jelas (KLH sudah memiliki angka tetapi departemen kehutanan masih
membahas komponen2 apa saja yg terlibat dalam emisi karbon karena perubahan
lahan) sudah berani memproklamasikan akan mengurangi 26% emisinya tanpa
bantuan negara lain, dan menantang untuk mengurangi hingga lebih dari 40%
jika ada dana bantuan dari negara lain. Hanya Indonesia yg saat ini sudah
mengeluarkan angka, negara lain belum ada. Entah karena "grusa-grusu" pengin
dapat image positive atau karena memang tulus punya komitmen tinggi.
Di level Indonesia, carbon trade ini menjdi agak "membingungkan", sebab
negara ingin semua "kompensasi" dari perusahaan2 tersebut masuk ke kas
negara dahulu baru didistribusikan ke daerah2 yg dianggap berbuat "baik"
karena menjaga hutannya dengan baik.

Kemudian apakah USA dan negera2 barat curang.
USA tidak pernah mau meratifikasi Kyoto protokol, tetapi Obama sudah
menerima COP 13, dan memiliki komitmen untuk menurunkan emisinya. Memang
terlihat curang ketika penghasil emisi terbesar tidak mau menurunkan
emisinya karena "bisnis" dalam negerinya nggak mau terganggu. Artinya
"kecurangan ini" pada bukan pada mekanisme carbon trade-nya. Sebab yaitu
tadi, carbon trade itu sifatnya voluntary dan pemainnya perusahaan bukan
negara. Mekanismenya memang kemudian melibatkan instistusi kenegaraan.
Tapi ya gambaran mudahnya mengenai carbon trade ini, jika kamu anak baik di
sekolah, kukasih uang jajan. Dan belum tentu anak semua anak baik akan
dikasih uang jajan.

tentang sikap nelayan dan petani menghadapi banjir dan kekeringan saya rasa
bukan sebuah "adaptasi", tetapi sebuah sikap pasrah, karena "tidak memiliki
pilihan lagi". Benar petani dan nelayan kemudian memiliki kemampuan bertahan
hidup yg tinggi, dengan bantuan istri jualan etc. Tapi kalo dilihat secara
mayoritas kehidupannya tidak berubah menjadi lebih baik secara ekonomi .
Jika kita bandingkan dengan kita misalnya, bicara mengenai kualitas hidup
untuk sebagian besar miliser di sini tentunya lebih melihat pada sisi
spiritualitas, karena tidak lagi memiliki masalah untuk memenuhi kebutuhan
perut. Para petani dan nelayan, saya lihat sendiri bisa nrimo dan pasrah
sehingga seolah2 memiliki daya tahan hidup yg tinggi, dibuktikan dengan
makan nasi dengan sambel saja masih bisa (di banyak pelosok Lampung, hal ini
sangat umum, saya pernah sempat mengunjungi beberapa gunung2 di Lampung,
dari Gunung Betung-Gunung Pengandaran, Rindingan hingga Gunung Pesagi), dari
Taman Nasional Way Kambas, Batu Tegi hingga Bukit Barisan. Kesehariannya ya
itu tadi nasi ama sambel, (plus ikan asin jika ada duit). Terkadang kalo
beruntung ya lauknya binatang hutan (nggak peduli dari yg jenis haram atau
nggak yg penting daging).

"adaptasi" para petani dan nelayan tadi, implikasinya saya lihat ya kualitas
kesehatan yg nggak sebagus yg punya duit di kota, sakit bisa berobat atau
menghindari bahan makanan berpestisida. Memang benar gaya hidup "sehat"
petani dan nelayan mungkin akan berperan dalam kualitas kesehatannya, tetapi
banyak lagi yg meninggal karena nggak punya duit untuk ngobatin penyakit
TBCnya, kankernya etc.
Jika kita berjalan di beberapa tempat di Kalimantan, "adaptasi" dari petani
sawit yg dimarjinalkan oleh mekanisme plasma, sebagian dengan menjadi
penambang emas liar, makan minum cebok menggunakan air yg sama dengan air yg
sudah mereka cemari dengan air raksa. Yang beli emas dan yg ngekspor kelapa
sawit mah nggak kena air raksa.

-a-

2009/10/26 Anton <anton.mondro@...>

> --- In Spiritual-Indonesia@..., Andjaradji Rooseno Prabowo
> <andjaradji.rooseno@...> wrote:
>
> Ada fenomena menarik dari kedua upaya tersebut.
>
> Negara-negara barat sangat ahli dalam hal konsep upaya mitigasi karena
> menguasai science dan technology. Namun dalam hal pelaksanaannya
> negara-negara maju terutama Amrik sangat culas dengan konsep carbon
> trade-nya.....yang intinya mereka tetap bertekad mencemari bumi dan akan
> membayar kompensasi-nya kepada negara-negara yang memiliki hutan di hitung
> berdasarkan luas hutan dan korelasinya dengan kemampuan pohon dalam
> menyerap
> carbon.
>
> Konsep carbon trade adalah konsep yang sangat culas dan tidak adil. Karena
> seberapa besarpun mereka membayar kompensasi tetap saja mereka akan meraih
> keuntungan yang lebih besar dari itu. Indonesia termasuk negara yang mau
> dan
> bersedia dibayar untuk tetap menjadi "orang hutan". Bahkan sekarang sedang
> giat-giatnya menggalakkan program tanam pohon. SeOrang SePohon. Beginilah
> jadinya punya pemimpin yang tanpa visi dan gak punya nyali.
>
> Mengenai upaya Adaptasi....Justru inilah kelebihan bangsa kita....yang
> sampai negara maju pun tak bisa mengimbanginya...
>
> Dari pengalaman saya beberapa minggu lalu melakukan survei akan
> vulnerability masyarakat dalam menghadapi dampak climate change terutama
> bencana alam di semarang dan lampung, memberikan insight yang sungguh
> menakjubkan terutama buat saya pribadi....masyarakat yang menurut data
> daerahnya selalu kebanjiran setiap tahunnya ketika ditanya apakah daerahnya
> kebanjiran menjawab..."yah paling cuma sampai segini (sambil menunjuk
> ketinggian sejengkal diatas mata kaki)...itu mah bukan banjir
> mas...biasa.."
>
> daerah lain yang lahan pertaniannya sering kekeringan justru
> menjawab..."Panas kayak gini sih udah biasa.....ya kalau gagal panen ya
> kita
> turun ke kota...cari kerjaan lain...jadi kuli kek..apa kek yang penting
> halal dan bisa makan mas....gak masalah mas.....namanya juga udah takdir"
>
> Ketika ditanya apa ada rencana mengungsi kalau banjir semakin besar dan
> kemarau semakin panjang..kebanyakan dari mereka menjawab..."Buat apa
> ngungsi
> mas...lha wong udah turun temurun disini...gak lah gak akan ada
> apa-apa...dari dulu juga ada kekeringan atau banjir....lha buktinya kita
> masih hidup beranak pinak disini...percaya aja mas sama gusti allah...."
>
> Sementara itu ada fenomena yang merupakan temuan saya pribadi (belum diolah
> secara statistik..baru hasil pengamatan pribadi) yaitu tingkat adaptasi
> petani dan nelayan berbeda jauh....kebanyakan petani yang saya wawancara
> memiliki rencana dan pengetahuan yang lebih untuk bertahan hidup terutama
> yang berkaitan dengan profesinya.....sementara para nelayan sepertinya
> lebih
> blank akan hal ini..contoh ketika berbulan-bulan angin besar di laut dan
> mereka tidak bisa melaut maka kebanyakan dari mereka lebih memilih diam di
> rumah dan tidak melakukan apa-pun..biasanya disinilah fungsi sang istri
> yang
> lebih aktif mencari pemasukan biasanya dengan berjualan baik warung atau
> makanan kecil seperti gorengan dan jajanan es.....
>
> Apakah hal tersebut merupakan dampak dari kebijakan tidak seimbang selama
> 32
> tahun orde baru yang memprioritaskan ekonomi agraris dan mengabaikan
> potensi
> ekonomi maritim kita?
>
> kita tahu pada masa itu lebih banyak program penyuluhan tani dan
> pembentukan
> kelompok tani dimana-mana....dan sang presiden pun sering disiarkan bertemu
> muka dengan para petani di desa-desa...
>
> mohon pencerahan akan hal ini......
>
> Salam,
> Andjar
>
>
>
> 2009/10/26 David Silalahi <davidfr766hi@...>
>
> >
> >
> > melihat gencarnya aksi untuk menyelamatkan kondisi lingkungan bumi yang
> > mulai memanas akibatnya ada global warming, maka semakin banyak
> bermunculan
> > pembahasan bahkan debat seputar isu ini.
> > anyway, jika memang isu ini terbukti benar dan memang vegetarian adalah
> > salah satu cara untuk membantu bumi ini untuk menuju kerusakan masif
> dalam
> > waktu singkat, saya ingin berikrar untuk mengurangi nafsu makan daging
> dan
> > berusaha menjadi vegetarian. untuk bumi dan untuk anak-cucu kita semua.
> >
> >
> > copy paste dari milis lain:
> > =================
> >
> > Lifestyle changes can curb climate change: IPCC chief
> > (AFP) – Jan 15, 2008
> > PARIS (AFP) — Don't eat meat, ride a bike, and be a frugal shopper --
> > that's how you can help brake global warming, the head of the United
> > Nation's Nobel Prize-winning scientific panel on climate change said
> > Tuesday.
> > The 2007 report of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC),
> > issued last year, highlights "the importance of lifestyle changes," said
> > Rajendra Pachauri at a press conference in Paris.
> > "This is something that the IPCC was afraid to say earlier, but now we
> have
> > said it."
> > A vegetarian, the Indian economist made a plea for people around the
> world
> > to tame their carnivorous impulses.
> > "Please eat less meat -- meat is a very carbon intensive commodity," he
> > said, adding that consuming large quantities was also bad for one's
> health.
> > Studies have shown that producing one kilo (2.2 pounds) of meat causes
> the
> > emissions equivalent of 36.4 kilos of carbon dioxide.
> > In addition, raising and transporting that slab of beef, lamb or pork
> > requires the same amount of energy as lighting a 100-watt bulb for nearly
> > three weeks.
> > In listing ways that individuals can contribute to the fight against
> global
> > warming, Pachauri praised the system of communal, subscriber-access bikes
> in
> > Paris and other French cities as a "wonderful development."
> > "Instead of jumping in a car to go 500 meters, if we use a bike or walk
> it
> > will make an enormous difference," he told journalists at a press
> > conference.
> > Another lifestyle change that can help, he continued, was not buying
> things
> > "simply because they are available." He urged consumers to only purchase
> > what they really need.
> > Since the Nobel was awarded in October to the IPCC and the former US vice
> > president Al Gore, Pachauri has criss-crossed the globe sounding the
> alarm
> > on the dangers of global warming.
> > "The picture is quite grim -- if the human race does not do anything,
> > climate change will have serious impacts," he warned Tuesday.
> > At the same time, however, he said he was encouraged by the outcome of
> > UN-brokered climate change negotiations in Bali last month, and by the
> > prospect of a new administration in Washington.
> > "The final statement clearly mentions deep cuts in emissions in
> greenhouse
> > gases. I don't think people can run away from that terminology," he said.
> > The Bali meeting set the framework for a global agreement on how to
> reduce
> > the output of carbon dioxide and other gases generated by human activity
> > that are driving climate change.
> > Pachauri also sees cause for optimism in the fact that, for the first
> time
> > since the world's nations began meeting over the issue of global warming
> in
> > 1994, "nobody questioned the findings of the IPCC."
> > "The science has clearly become the basis for action on climate change,"
> he
> > said.
> > In 2007, the IPCC issued a massive report the size of three phone books
> on
> > the reality and risks of climate change, its 4th assessment in 18 years.
> > Pachauri said it was too late for Washington to ratify the Kyoto
> Protocol,
> > the sole international treaty mandating cuts in CO2 emissions.
> > The United States is the only industrialised country not to have made
> such
> > commitments.
> > But he remained hopeful the US -- under a new administration -- would be
> a
> > "core signatory" of any new agreement.
> > "With the change that is taking place politically in the US, the chances
> of
> > that happening are certainly much better than was the case a few months
> > ago," he said.
> > At 67, Pachauri said he has not yet decided whether to take on a second
> > five-year mandate as IPCC head. Elections take place in September.
> > On the one hand, he said, the experience he has acquired would serve him
> > well.
> > But the advantage of retiring, he said with a smile, is that his carbon
> > footprint -- the amount of C02 emissions generated by all this travels --
> > would be greatly reduced.
> >
> > SELAMATKAN BUMI...
> > Peternakan menghasilkan lebih dari separuh gas rumah kaca di dunia
> > Laporan yang baru saja dirilis Watch Magazine edisi bulan
> November/Desember
> > menyatakan bahwa peternakan bertanggung jawab atas sedikitnya 51 persen
> dari
> > pemanasan global.
> > Penulisnya, Dr. Robert Goodland, mantan penasihat utama bidang lingkungan
> > untuk Bank Dunia, dan staf riset Bank Dunia Jeff Anhang, membuatnya
> > berdasarkan "Bayangan Panjang Peternakan", laporan yang diterbitkan pada
> > tahun 2006 oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Mereka
> menghitung
> > bidang yang sebelumnya  dan memperbarui hal lainnya, termasuk siklus
> hidup
> > emisi produksi ikan yang diternakkan, CO2 dari pernapasan hewan, dan
> koreksi
> > perhitungan sebenarnya yang menghasilkan lebih dari dua kali lipat jumlah
> > hewan ternak yang dilaporkan di planet ini. Emisi metana dari hewan
> ternak
> > juga berperan sebesar 72 kali lebih dalam menyerap panas di atmosfer
> > daripada CO2. Hal ini mewakili kenaikan yang lebih akurat dari
> perhitungan
> > asli FAO dengan potensi pemanasan sebesar 23 kali. Meskipun demikian,
> para
> > peneliti itu memberitahu bahwa perkiraan mereka adalah minimal, dan
> karena
> > itu total emisi 51 persen masih konservatif.  Dalam artikel tanya jawab
> di
> > situs web vegclimatealliance.org, penulisnya menyimpulkan: "Sekarang
> dapat
> > dipahami bahwa pengembangan dramatis sektor peternakan dalam dekade
> terakhir
> > dapat mengancam umat manusia sehingga mungkin tidak ada cara untuk
> menangani
> > risiko iklim dari industri pangan atau dunia secara luas selain dengan
> > mengganti produk peternakan dengan alternatif yang lebih baik."
> > Mengapa "jangan makan daging" berada di urutan pertama? Seperti laporan
> > yang dirilis Badan Pangan Dunia (FAO) pada 2006 dalam Livestock's Long
> > Shadow-Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas
> > penghasil emisi karbon paling intensif (18 persen), bahkan melebihi
> > kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor,
> mobil,
> > truk, pesawat, kapal, kereta api) di dunia (13,5 persen).
> > Peternakan juga penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan, 70
> > persen bekas hutan di Amazon, Amerika Selatan, telah dialihfungsikan
> > menjadi ladang ternak. Setiap tahun penebangan hutan untuk pembukaan
> lahan
> > peternakan mengontribusi emisi 2,4 miliar ton karbondioksida.
> > Bunuh Lingkungan
> > Selain menguras air, lahan, dan membebani atmosfer, konsumsi daging
> memukul
> > bumi dengan polusi air, udara dan hilangnya kesuburan tanah
> > serta kepunahan keanekaragaman hayati. Kotoran ternak adalah sumber
> > pencemaran air.
> > Untuk di Amerika, peternakan menyumbang 900 juta ton kotoran tinja setiap
> > tahun atau setara 130 kali kotoran manusia. Konversi
> > internasional mengidentifikasi 35 titik rawan global, dicirikan dengan
> > hilangnya habitat hingga level parah, 23 di antaranya disebabkan
> peternakan.
> > Saat ini, satwa yang sedang berjuang mati-matian bertahan dari pola
> > perubahan iklim yang semakin ekstrem adalah beruang kutub. Makin
> > meluasnya wilayah es mencair berarti makin berkurangnya habitat buruan
> > beruang kutub. Satu persatu beruang kutub mati mengenaskan, lelah
> > berenang bermil-mil jauhnya untuk mencari makan, tanpa hasil dan akhirnya
> > mati kelaparan.
> >
> > Sebuah studi dari NASA (National Aeronautics andSpace Administration)
> yang
> > diumumkan dalam majalah ilmiah Surat Penelitian Geofisika (Geophysical
> > Research Letters) terbitan bulan Februari 2005 mengungkapkan bahwa karena
> > pengaruh metana pada lapisan ozon di atmosfer, metana menimbulkan
> pemanasan
> > global dua kali lipat dari yang sebelumnya diperkirakan (10%), dan pola
> > makan daging bertanggung jawab atas sepertiga dari emisi metana biologis.
> >
> > Gerakan Vegetarian ;
> > Tindakan waras apa yang segera harus dilakukan? Gerakan vegetarian
> sebagai
> > solusi segera telah menjadi seruan global. Pertemuan G8 (Group
> > of Eight Environment Ministers) yang dilansir The Japan Times Online 26
> Mei
> > 2008, sepakat pada satu seruan : Eat less beef!
> >
> > DR. James Hansen, Peneliti Iklim Nasa ;
> > Kita telah melewati titik puncak, tetapi kita belum melewati titik tanpa
> > harapan. Kita masih dapat berputar balik, tetapi dibutuhkan putaran yang
> > cepat. Berbagai hal yang dapat dilakukan individu tentu bermanfaat.
> Tetapi
> > salah satu yang paling bermanfaat adalah pola makan vegetarian yang
> > menghasilkan gas rumah kaca jauh lebih sedikit dibandingkan pola makan
> > daging.
> >
> > Green Peace USA juga mengeluarkan seruan senada : On your plate! Yakni,
> > mengimbau masyarakat dunia untuk mengeluarkan daging dari piring makan,
> > karena makan daging bukan masalah pilihan personal lagi.
> > Kita tidak bebas memilih ketika pilihan itu nyata mengancam
> keberlangsungan
> > hidup setiap mahluk di muka bumi ini.
> >
> > Eksekutif Komite Kerangka Perubahan Iklim PBB, Yvo de Boer, telah
> > menunjukkan bahwa sebagian besar kenaikan harga makanan disebabkan oleh
> > biji-bijian yang dipakai sebagai makanan hewan ternak. Sekretaris de Boer
> > menyatakan, "Solusi terbaik bagi kita semua adalah dengan menjadi
> > vegetarian."
> >
> > Senator Queensland, Andrew Bartlett, seluruh dunia tidak mesti menjadi
> > vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus
> > mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi
> konsumsi
> > produksi hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim
> adalah
> > nihil.
> >
> > Presiden Taiwan Ma Ying-jeou dan Wapres Vincent Siew memimpin
> > penandatanganan deklarasi mengurangi karbondioksida dan aksi hemat
> > energi, termasuk didalamnya mengonsumsi produk lokal dan lebih banyak
> sayur
> > dan mengurangi daging.
> >
> > World Watch Institule, 2004 ; Daging! Kini bukan masalah pilihan personal
> > lagi, suka atau tidak suka, makan daging telah menjadi masalah yang
> > mengancam kelangsungan hidup setiap orang di muka Bumi ini.
> >
> > Mengikuti diet vegetarian bahkan lebih efektif dalam mengurangi emisi
> rumah
> > kaca daripada mengendarai sebuah kendaraan listrik hibrida,
> > menurut sebuah karya tulis yang diterbitkan pada tanggal 12 April 2006 di
> > Earth Interactions, sebuah jurnal dari Persatuan Geofisika Amerika.
> > Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago
> > menyimpulkan bahwa mengikuti diet vegan mengurangi emisi C02 sebanyak
> > 1,5 ton tiap tahun, dibanding 1 ton yang dihemat bila berpindah dari
> sebuah
> > mobil biasa (Toyota Camry) ke sebuah mobil hibrida (Toyota
> > Prius).[1]
> >
> > Majalah ilmiah Physics World
> > (Dunia Fisika) terbitan bulan Juli 2005, fisikawan Inggris, Alan Calverd,
> > mengusulkan suatu cara yang lebih sederhana untuk menghilangkan pemanasan
> > global---berhenti makan daging. Artikelnya "Suatu Pendekatan Radikal
> > terhadap Kyoto" telah tersebar dengan cepat melalui internet dan sedang
> > menjadi pembicaraan hangat di kalangan para ilmuwan.
> >
> > Wakil untuk Parlemen Jerman dan pemimpin Partai Hijau, Renate Künast,
> telah
> > menyuarakan kebijakan untuk melakukan perubahan dalam bidang pertanian
> demi
> > menghentikan perubahan iklim. Bagian yang direkomendasikan oleh Nn.
> Künast
> > dalam transformasi tersebut adalah mengurangi penggunaan produk susu dan
> > daging untuk konsumsi.
> >
> > Maneka Gandhi ( Menteri Keadilan Sosial India ) ; Kecuali kita
> > mengubahpilihan makanan kita,tiada lainnya yang penting,karena
> daginglahyang
> > menghancurkan sebagian besar hutan kita,daginglah yang mengotori
> > air,daginglah yang menimbulkanpenyakit yang menyebabkansemua makhluk
> > ber-uangdialihkan ke rumah sakit.Jadi, itu adalah pilihan pertamabagi
> siapa
> > pun yang inginmenyelamatkan Bumi.Kita sangat, sangat dekat pada garis
> merah,
> > sehinggamungkin kita bangun tidurbesok dan menemukan bahwatiada apa
> punyang
> > dapatdiselamatkan.
> >
> > Menteri Lingkungan Hidup Sigmar Gabriel telah menyuarakan kepeduliannya
> > tentang dampak dari mengonsumsi daging. Dia berkomentar tentang
> pengrusakan
> > hutan hujan untuk menanam kacang kedelai yang diekspor untuk memberi
> makan
> > ternak di Eropa.
> >
> > Anggota Parlemen Swedia menulis laporan yang berjudul  "The Livestock
> > Industry and Climate - Industri Peternakan dan Iklim." Di dalamnya, Bpk.
> > Holm mengkritik praktik menanam panen untuk diberi makan kepada ternak
> serta
> > alasan sektor peternakan menjadi salah satu penghasil emisi gas rumah
> kaca
> > terbesar. Laporan itu menyatakan: "Lebih dari sepertiga dari semua
> > biji-bijian yang dipanen menjadi makanan hewan. Apa itu rasional? Kenapa
> > kita tidak memproduksi lebih sedikit daging dan mengurangi hasil panen
> yang
> > diberikan untuk ternak sehingga tersedia biji-bijian untuk memberi makan
> > lebih banyak orang?" Laporan itu berakhir dengan dua saran utama untuk
> > Swedia dan Eropa: Pertama, hapus subsidi daging agar harga daging di
> pasar
> > mencerminkan biaya kerugian lingkungan yang sebenarnya. Kedua, anjurkan
> diet
> > modern kepada masyarakat yaitu diet vegetarian.
> >
> >
> >
> >
> > --
> > Belanja buku baru gramedia dengan diskon hingga 90%?
> > Lihat di: www.belanjaantar.multiply.com
> >
> > :: ...we should cherish the life we live... ::
> >
> >
>
> --- End forwarded message ---
>
>
>


--
-a-
"Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds
discuss people"
Eleanor Roosevelt

Re: perubahan iklim dunia

by blubps :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Pak Anjar:
Apakah hal tersebut merupakan dampak dari kebijakan tidak seimbang selama 32 tahun orde baru yang memprioritaskan ekonomi agraris dan mengabaikan potensi ekonomi maritim kita?

kita tahu pada masa itu lebih banyak program penyuluhan tani dan pembentukan kelompok tani dimana-mana....dan sang presiden pun sering disiarkan bertemu muka dengan para petani di desa-desa...


* lhah, kan, bagian dari program demi suksesnya revolusi hijau....
kaliii ... kali2 aja.


Bung Anton:
Jika kita bandingkan dengan kita misalnya, bicara mengenai kualitas hidup untuk sebagian besar miliser di sini tentunya lebih melihat pada sisi spiritualitas, karena tidak lagi memiliki masalah untuk memenuhi kebutuhan perut. Para petani dan nelayan, saya lihat sendiri bisa nrimo dan pasrah sehingga seolah2 memiliki daya tahan hidup yg tinggi, dibuktikan dengan makan nasi dengan sambel saja masih bisa (di banyak pelosok Lampung, hal ini sangat umum, saya pernah sempat mengunjungi beberapa gunung2 di Lampung, dari Gunung Betung-Gunung Pengandaran, Rindingan hingga Gunung Pesagi), dari Taman Nasional Way Kambas, Batu Tegi hingga Bukit Barisan. Kesehariannya ya itu tadi nasi ama sambel, (plus ikan asin jika ada duit). Terkadang kalo beruntung ya lauknya binatang hutan (nggak peduli dari yg jenis haram atau nggak yg penting daging).


* kalo cerita soal "urusan perut" orang miskin (istilah romo mangun: kecil-lemah-miskin-tersingkir), mah, di mana2, ya, memang begitu langgamnya. nggak di jawa, nggak di luar jawa, nggak di desa, nggak di pusat kota.... di jakarta aja, persis di belakang sebuah perumahan elit, misalnya, banyak yang sehari makan sekali dengan lauk seadanya: sambel doang, kecap doang, garem doang, kerupuk doang, ato sayur (yang banyakan kuahnya ketimbang "ampasnya") doang.... nggak yang tua, nggak yang muda, nggak yang anak2 yang masih "wajib" belajar....  


blub!



--- In Spiritual-Indonesia@..., Anton Nurcahyo <anton.mondro@...> wrote:

>
> Tentang carbon trade.
>
> Carbon trade ini sifatnya voluntary, artinya siapa mau bayar silahkan saja.
> Carbon trade ini menjadi upaya untuk membangun "positive image" dari
> perusahaan tertentu. Selama ini yg telah terjadi dalam skema carbon trade
> ini adalah pembayaran sejumlah uang pada beberapa negara, seperti di
> Finlandia, China dan Brazil. Pembayaran ini dilakukan oleh beberapa
> perusahaan besar seperti misalnya Shell karena di beberapa negara tersebut
> melakukan kegiatan yg mengurangi degradasi lahan karena perubahan tutupan
> hutan.
> Sehingga selama ini tidak pernah ada yg namanya suatu negara memberi uang ke
> negara lain untuk masalah emisi.
>
> Bicara mengenai emisi karbon bukan saja bicara mengenai kemampuan pohon
> untuk fotosintesis, tetapi juga pelepasan gas2 ketika pembukaan hutan.
>
> Pada awal hingga pertengahan Desember nanti di Copenhagen akan ada
> pembicaraan mengenai emisi dan skema carbon trade. Yang dibahas salah
> satunya adalah mengenai kemauan negara-negara untuk mengurangi emisinya.
> Setiap negara sudah diwajibkan (melalui protocol kyoto dan COP 13) untuk
> menghitung emisi yg dilepaskan. Nah di Copenhagen ini nanti akan dibahas
> mengenai komitmen para negara tersebut untuk mengurangi emisinya. Skema REDD
> (mengurangi emisi karbon dengan mengurangi deforestasi dan degradasi lahan)
> juga menjadi bagian dari yg dibicarakan di Copenhagen.
>
> Emisi di dunia, 18% adalah karena proses deforestasi/degradasi lahan
> selebihnya karena industri dan otomotif, Indonesia sendiri pada peringkat
> ke-3 dari bagian yg 18% ini setelah Brazil dan salah satu negara di Afrika.
> Lucunya SBY, yg saat ini di Indonesia angka emisi karbon yg dilepaskan juga
> belum jelas (KLH sudah memiliki angka tetapi departemen kehutanan masih
> membahas komponen2 apa saja yg terlibat dalam emisi karbon karena perubahan
> lahan) sudah berani memproklamasikan akan mengurangi 26% emisinya tanpa
> bantuan negara lain, dan menantang untuk mengurangi hingga lebih dari 40%
> jika ada dana bantuan dari negara lain. Hanya Indonesia yg saat ini sudah
> mengeluarkan angka, negara lain belum ada. Entah karena "grusa-grusu" pengin
> dapat image positive atau karena memang tulus punya komitmen tinggi.
> Di level Indonesia, carbon trade ini menjdi agak "membingungkan", sebab
> negara ingin semua "kompensasi" dari perusahaan2 tersebut masuk ke kas
> negara dahulu baru didistribusikan ke daerah2 yg dianggap berbuat "baik"
> karena menjaga hutannya dengan baik.
>
> Kemudian apakah USA dan negera2 barat curang.
> USA tidak pernah mau meratifikasi Kyoto protokol, tetapi Obama sudah
> menerima COP 13, dan memiliki komitmen untuk menurunkan emisinya. Memang
> terlihat curang ketika penghasil emisi terbesar tidak mau menurunkan
> emisinya karena "bisnis" dalam negerinya nggak mau terganggu. Artinya
> "kecurangan ini" pada bukan pada mekanisme carbon trade-nya. Sebab yaitu
> tadi, carbon trade itu sifatnya voluntary dan pemainnya perusahaan bukan
> negara. Mekanismenya memang kemudian melibatkan instistusi kenegaraan.
> Tapi ya gambaran mudahnya mengenai carbon trade ini, jika kamu anak baik di
> sekolah, kukasih uang jajan. Dan belum tentu anak semua anak baik akan
> dikasih uang jajan.
>
> tentang sikap nelayan dan petani menghadapi banjir dan kekeringan saya rasa
> bukan sebuah "adaptasi", tetapi sebuah sikap pasrah, karena "tidak memiliki
> pilihan lagi". Benar petani dan nelayan kemudian memiliki kemampuan bertahan
> hidup yg tinggi, dengan bantuan istri jualan etc. Tapi kalo dilihat secara
> mayoritas kehidupannya tidak berubah menjadi lebih baik secara ekonomi .
> Jika kita bandingkan dengan kita misalnya, bicara mengenai kualitas hidup
> untuk sebagian besar miliser di sini tentunya lebih melihat pada sisi
> spiritualitas, karena tidak lagi memiliki masalah untuk memenuhi kebutuhan
> perut. Para petani dan nelayan, saya lihat sendiri bisa nrimo dan pasrah
> sehingga seolah2 memiliki daya tahan hidup yg tinggi, dibuktikan dengan
> makan nasi dengan sambel saja masih bisa (di banyak pelosok Lampung, hal ini
> sangat umum, saya pernah sempat mengunjungi beberapa gunung2 di Lampung,
> dari Gunung Betung-Gunung Pengandaran, Rindingan hingga Gunung Pesagi), dari
> Taman Nasional Way Kambas, Batu Tegi hingga Bukit Barisan. Kesehariannya ya
> itu tadi nasi ama sambel, (plus ikan asin jika ada duit). Terkadang kalo
> beruntung ya lauknya binatang hutan (nggak peduli dari yg jenis haram atau
> nggak yg penting daging).
>
> "adaptasi" para petani dan nelayan tadi, implikasinya saya lihat ya kualitas
> kesehatan yg nggak sebagus yg punya duit di kota, sakit bisa berobat atau
> menghindari bahan makanan berpestisida. Memang benar gaya hidup "sehat"
> petani dan nelayan mungkin akan berperan dalam kualitas kesehatannya, tetapi
> banyak lagi yg meninggal karena nggak punya duit untuk ngobatin penyakit
> TBCnya, kankernya etc.
> Jika kita berjalan di beberapa tempat di Kalimantan, "adaptasi" dari petani
> sawit yg dimarjinalkan oleh mekanisme plasma, sebagian dengan menjadi
> penambang emas liar, makan minum cebok menggunakan air yg sama dengan air yg
> sudah mereka cemari dengan air raksa. Yang beli emas dan yg ngekspor kelapa
> sawit mah nggak kena air raksa.
>
> -a-
>
> 2009/10/26 Anton <anton.mondro@...>
>
> > --- In Spiritual-Indonesia@..., Andjaradji Rooseno Prabowo
> > <andjaradji.rooseno@> wrote:
> >
> > Ada fenomena menarik dari kedua upaya tersebut.
> >
> > Negara-negara barat sangat ahli dalam hal konsep upaya mitigasi karena
> > menguasai science dan technology. Namun dalam hal pelaksanaannya
> > negara-negara maju terutama Amrik sangat culas dengan konsep carbon
> > trade-nya.....yang intinya mereka tetap bertekad mencemari bumi dan akan
> > membayar kompensasi-nya kepada negara-negara yang memiliki hutan di hitung
> > berdasarkan luas hutan dan korelasinya dengan kemampuan pohon dalam
> > menyerap
> > carbon.
> >
> > Konsep carbon trade adalah konsep yang sangat culas dan tidak adil. Karena
> > seberapa besarpun mereka membayar kompensasi tetap saja mereka akan meraih
> > keuntungan yang lebih besar dari itu. Indonesia termasuk negara yang mau
> > dan
> > bersedia dibayar untuk tetap menjadi "orang hutan". Bahkan sekarang sedang
> > giat-giatnya menggalakkan program tanam pohon. SeOrang SePohon. Beginilah
> > jadinya punya pemimpin yang tanpa visi dan gak punya nyali.
> >
> > Mengenai upaya Adaptasi....Justru inilah kelebihan bangsa kita....yang
> > sampai negara maju pun tak bisa mengimbanginya...
> >
> > Dari pengalaman saya beberapa minggu lalu melakukan survei akan
> > vulnerability masyarakat dalam menghadapi dampak climate change terutama
> > bencana alam di semarang dan lampung, memberikan insight yang sungguh
> > menakjubkan terutama buat saya pribadi....masyarakat yang menurut data
> > daerahnya selalu kebanjiran setiap tahunnya ketika ditanya apakah daerahnya
> > kebanjiran menjawab..."yah paling cuma sampai segini (sambil menunjuk
> > ketinggian sejengkal diatas mata kaki)...itu mah bukan banjir
> > mas...biasa.."
> >
> > daerah lain yang lahan pertaniannya sering kekeringan justru
> > menjawab..."Panas kayak gini sih udah biasa.....ya kalau gagal panen ya
> > kita
> > turun ke kota...cari kerjaan lain...jadi kuli kek..apa kek yang penting
> > halal dan bisa makan mas....gak masalah mas.....namanya juga udah takdir"
> >
> > Ketika ditanya apa ada rencana mengungsi kalau banjir semakin besar dan
> > kemarau semakin panjang..kebanyakan dari mereka menjawab..."Buat apa
> > ngungsi
> > mas...lha wong udah turun temurun disini...gak lah gak akan ada
> > apa-apa...dari dulu juga ada kekeringan atau banjir....lha buktinya kita
> > masih hidup beranak pinak disini...percaya aja mas sama gusti allah...."
> >
> > Sementara itu ada fenomena yang merupakan temuan saya pribadi (belum diolah
> > secara statistik..baru hasil pengamatan pribadi) yaitu tingkat adaptasi
> > petani dan nelayan berbeda jauh....kebanyakan petani yang saya wawancara
> > memiliki rencana dan pengetahuan yang lebih untuk bertahan hidup terutama
> > yang berkaitan dengan profesinya.....sementara para nelayan sepertinya
> > lebih
> > blank akan hal ini..contoh ketika berbulan-bulan angin besar di laut dan
> > mereka tidak bisa melaut maka kebanyakan dari mereka lebih memilih diam di
> > rumah dan tidak melakukan apa-pun..biasanya disinilah fungsi sang istri
> > yang
> > lebih aktif mencari pemasukan biasanya dengan berjualan baik warung atau
> > makanan kecil seperti gorengan dan jajanan es.....
> >
> > Apakah hal tersebut merupakan dampak dari kebijakan tidak seimbang selama
> > 32
> > tahun orde baru yang memprioritaskan ekonomi agraris dan mengabaikan
> > potensi
> > ekonomi maritim kita?
> >
> > kita tahu pada masa itu lebih banyak program penyuluhan tani dan
> > pembentukan
> > kelompok tani dimana-mana....dan sang presiden pun sering disiarkan bertemu
> > muka dengan para petani di desa-desa...
> >
> > mohon pencerahan akan hal ini......
> >
> > Salam,
> > Andjar
> >
> >
> >
> > 2009/10/26 David Silalahi <davidfr766hi@>
> >
> > >
> > >
> > > melihat gencarnya aksi untuk menyelamatkan kondisi lingkungan bumi yang
> > > mulai memanas akibatnya ada global warming, maka semakin banyak
> > bermunculan
> > > pembahasan bahkan debat seputar isu ini.
> > > anyway, jika memang isu ini terbukti benar dan memang vegetarian adalah
> > > salah satu cara untuk membantu bumi ini untuk menuju kerusakan masif
> > dalam
> > > waktu singkat, saya ingin berikrar untuk mengurangi nafsu makan daging
> > dan
> > > berusaha menjadi vegetarian. untuk bumi dan untuk anak-cucu kita semua.
> > >
> > >
> > > copy paste dari milis lain:
> > > =================
> > >
> > > Lifestyle changes can curb climate change: IPCC chief
> > > (AFP) – Jan 15, 2008
> > > PARIS (AFP) — Don't eat meat, ride a bike, and be a frugal shopper --
> > > that's how you can help brake global warming, the head of the United
> > > Nation's Nobel Prize-winning scientific panel on climate change said
> > > Tuesday.
> > > The 2007 report of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC),
> > > issued last year, highlights "the importance of lifestyle changes," said
> > > Rajendra Pachauri at a press conference in Paris.
> > > "This is something that the IPCC was afraid to say earlier, but now we
> > have
> > > said it."
> > > A vegetarian, the Indian economist made a plea for people around the
> > world
> > > to tame their carnivorous impulses.
> > > "Please eat less meat -- meat is a very carbon intensive commodity," he
> > > said, adding that consuming large quantities was also bad for one's
> > health.
> > > Studies have shown that producing one kilo (2.2 pounds) of meat causes
> > the
> > > emissions equivalent of 36.4 kilos of carbon dioxide.
> > > In addition, raising and transporting that slab of beef, lamb or pork
> > > requires the same amount of energy as lighting a 100-watt bulb for nearly
> > > three weeks.
> > > In listing ways that individuals can contribute to the fight against
> > global
> > > warming, Pachauri praised the system of communal, subscriber-access bikes
> > in
> > > Paris and other French cities as a "wonderful development."
> > > "Instead of jumping in a car to go 500 meters, if we use a bike or walk
> > it
> > > will make an enormous difference," he told journalists at a press
> > > conference.
> > > Another lifestyle change that can help, he continued, was not buying
> > things
> > > "simply because they are available." He urged consumers to only purchase
> > > what they really need.
> > > Since the Nobel was awarded in October to the IPCC and the former US vice
> > > president Al Gore, Pachauri has criss-crossed the globe sounding the
> > alarm
> > > on the dangers of global warming.
> > > "The picture is quite grim -- if the human race does not do anything,
> > > climate change will have serious impacts," he warned Tuesday.
> > > At the same time, however, he said he was encouraged by the outcome of
> > > UN-brokered climate change negotiations in Bali last month, and by the
> > > prospect of a new administration in Washington.
> > > "The final statement clearly mentions deep cuts in emissions in
> > greenhouse
> > > gases. I don't think people can run away from that terminology," he said.
> > > The Bali meeting set the framework for a global agreement on how to
> > reduce
> > > the output of carbon dioxide and other gases generated by human activity
> > > that are driving climate change.
> > > Pachauri also sees cause for optimism in the fact that, for the first
> > time
> > > since the world's nations began meeting over the issue of global warming
> > in
> > > 1994, "nobody questioned the findings of the IPCC."
> > > "The science has clearly become the basis for action on climate change,"
> > he
> > > said.
> > > In 2007, the IPCC issued a massive report the size of three phone books
> > on
> > > the reality and risks of climate change, its 4th assessment in 18 years.
> > > Pachauri said it was too late for Washington to ratify the Kyoto
> > Protocol,
> > > the sole international treaty mandating cuts in CO2 emissions.
> > > The United States is the only industrialised country not to have made
> > such
> > > commitments.
> > > But he remained hopeful the US -- under a new administration -- would be
> > a
> > > "core signatory" of any new agreement.
> > > "With the change that is taking place politically in the US, the chances
> > of
> > > that happening are certainly much better than was the case a few months
> > > ago," he said.
> > > At 67, Pachauri said he has not yet decided whether to take on a second
> > > five-year mandate as IPCC head. Elections take place in September.
> > > On the one hand, he said, the experience he has acquired would serve him
> > > well.
> > > But the advantage of retiring, he said with a smile, is that his carbon
> > > footprint -- the amount of C02 emissions generated by all this travels --
> > > would be greatly reduced.
> > >
> > > SELAMATKAN BUMI...
> > > Peternakan menghasilkan lebih dari separuh gas rumah kaca di dunia
> > > Laporan yang baru saja dirilis Watch Magazine edisi bulan
> > November/Desember
> > > menyatakan bahwa peternakan bertanggung jawab atas sedikitnya 51 persen
> > dari
> > > pemanasan global.
> > > Penulisnya, Dr. Robert Goodland, mantan penasihat utama bidang lingkungan
> > > untuk Bank Dunia, dan staf riset Bank Dunia Jeff Anhang, membuatnya
> > > berdasarkan "Bayangan Panjang Peternakan", laporan yang diterbitkan pada
> > > tahun 2006 oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Mereka
> > menghitung
> > > bidang yang sebelumnya  dan memperbarui hal lainnya, termasuk siklus
> > hidup
> > > emisi produksi ikan yang diternakkan, CO2 dari pernapasan hewan, dan
> > koreksi
> > > perhitungan sebenarnya yang menghasilkan lebih dari dua kali lipat jumlah
> > > hewan ternak yang dilaporkan di planet ini. Emisi metana dari hewan
> > ternak
> > > juga berperan sebesar 72 kali lebih dalam menyerap panas di atmosfer
> > > daripada CO2. Hal ini mewakili kenaikan yang lebih akurat dari
> > perhitungan
> > > asli FAO dengan potensi pemanasan sebesar 23 kali. Meskipun demikian,
> > para
> > > peneliti itu memberitahu bahwa perkiraan mereka adalah minimal, dan
> > karena
> > > itu total emisi 51 persen masih konservatif.  Dalam artikel tanya jawab
> > di
> > > situs web vegclimatealliance.org, penulisnya menyimpulkan: "Sekarang
> > dapat
> > > dipahami bahwa pengembangan dramatis sektor peternakan dalam dekade
> > terakhir
> > > dapat mengancam umat manusia sehingga mungkin tidak ada cara untuk
> > menangani
> > > risiko iklim dari industri pangan atau dunia secara luas selain dengan
> > > mengganti produk peternakan dengan alternatif yang lebih baik."
> > > Mengapa "jangan makan daging" berada di urutan pertama? Seperti laporan
> > > yang dirilis Badan Pangan Dunia (FAO) pada 2006 dalam Livestock's Long
> > > Shadow-Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas
> > > penghasil emisi karbon paling intensif (18 persen), bahkan melebihi
> > > kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor,
> > mobil,
> > > truk, pesawat, kapal, kereta api) di dunia (13,5 persen).
> > > Peternakan juga penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan, 70
> > > persen bekas hutan di Amazon, Amerika Selatan, telah dialihfungsikan
> > > menjadi ladang ternak. Setiap tahun penebangan hutan untuk pembukaan
> > lahan
> > > peternakan mengontribusi emisi 2,4 miliar ton karbondioksida.
> > > Bunuh Lingkungan
> > > Selain menguras air, lahan, dan membebani atmosfer, konsumsi daging
> > memukul
> > > bumi dengan polusi air, udara dan hilangnya kesuburan tanah
> > > serta kepunahan keanekaragaman hayati. Kotoran ternak adalah sumber
> > > pencemaran air.
> > > Untuk di Amerika, peternakan menyumbang 900 juta ton kotoran tinja setiap
> > > tahun atau setara 130 kali kotoran manusia. Konversi
> > > internasional mengidentifikasi 35 titik rawan global, dicirikan dengan
> > > hilangnya habitat hingga level parah, 23 di antaranya disebabkan
> > peternakan.
> > > Saat ini, satwa yang sedang berjuang mati-matian bertahan dari pola
> > > perubahan iklim yang semakin ekstrem adalah beruang kutub. Makin
> > > meluasnya wilayah es mencair berarti makin berkurangnya habitat buruan
> > > beruang kutub. Satu persatu beruang kutub mati mengenaskan, lelah
> > > berenang bermil-mil jauhnya untuk mencari makan, tanpa hasil dan akhirnya
> > > mati kelaparan.
> > >
> > > Sebuah studi dari NASA (National Aeronautics andSpace Administration)
> > yang
> > > diumumkan dalam majalah ilmiah Surat Penelitian Geofisika (Geophysical
> > > Research Letters) terbitan bulan Februari 2005 mengungkapkan bahwa karena
> > > pengaruh metana pada lapisan ozon di atmosfer, metana menimbulkan
> > pemanasan
> > > global dua kali lipat dari yang sebelumnya diperkirakan (10%), dan pola
> > > makan daging bertanggung jawab atas sepertiga dari emisi metana biologis.
> > >
> > > Gerakan Vegetarian ;
> > > Tindakan waras apa yang segera harus dilakukan? Gerakan vegetarian
> > sebagai
> > > solusi segera telah menjadi seruan global. Pertemuan G8 (Group
> > > of Eight Environment Ministers) yang dilansir The Japan Times Online 26
> > Mei
> > > 2008, sepakat pada satu seruan : Eat less beef!
> > >
> > > DR. James Hansen, Peneliti Iklim Nasa ;
> > > Kita telah melewati titik puncak, tetapi kita belum melewati titik tanpa
> > > harapan. Kita masih dapat berputar balik, tetapi dibutuhkan putaran yang
> > > cepat. Berbagai hal yang dapat dilakukan individu tentu bermanfaat.
> > Tetapi
> > > salah satu yang paling bermanfaat adalah pola makan vegetarian yang
> > > menghasilkan gas rumah kaca jauh lebih sedikit dibandingkan pola makan
> > > daging.
> > >
> > > Green Peace USA juga mengeluarkan seruan senada : On your plate! Yakni,
> > > mengimbau masyarakat dunia untuk mengeluarkan daging dari piring makan,
> > > karena makan daging bukan masalah pilihan personal lagi.
> > > Kita tidak bebas memilih ketika pilihan itu nyata mengancam
> > keberlangsungan
> > > hidup setiap mahluk di muka bumi ini.
> > >
> > > Eksekutif Komite Kerangka Perubahan Iklim PBB, Yvo de Boer, telah
> > > menunjukkan bahwa sebagian besar kenaikan harga makanan disebabkan oleh
> > > biji-bijian yang dipakai sebagai makanan hewan ternak. Sekretaris de Boer
> > > menyatakan, "Solusi terbaik bagi kita semua adalah dengan menjadi
> > > vegetarian."
> > >
> > > Senator Queensland, Andrew Bartlett, seluruh dunia tidak mesti menjadi
> > > vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus
> > > mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi
> > konsumsi
> > > produksi hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim
> > adalah
> > > nihil.
> > >
> > > Presiden Taiwan Ma Ying-jeou dan Wapres Vincent Siew memimpin
> > > penandatanganan deklarasi mengurangi karbondioksida dan aksi hemat
> > > energi, termasuk didalamnya mengonsumsi produk lokal dan lebih banyak
> > sayur
> > > dan mengurangi daging.
> > >
> > > World Watch Institule, 2004 ; Daging! Kini bukan masalah pilihan personal
> > > lagi, suka atau tidak suka, makan daging telah menjadi masalah yang
> > > mengancam kelangsungan hidup setiap orang di muka Bumi ini.
> > >
> > > Mengikuti diet vegetarian bahkan lebih efektif dalam mengurangi emisi
> > rumah
> > > kaca daripada mengendarai sebuah kendaraan listrik hibrida,
> > > menurut sebuah karya tulis yang diterbitkan pada tanggal 12 April 2006 di
> > > Earth Interactions, sebuah jurnal dari Persatuan Geofisika Amerika.
> > > Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago
> > > menyimpulkan bahwa mengikuti diet vegan mengurangi emisi C02 sebanyak
> > > 1,5 ton tiap tahun, dibanding 1 ton yang dihemat bila berpindah dari
> > sebuah
> > > mobil biasa (Toyota Camry) ke sebuah mobil hibrida (Toyota
> > > Prius).[1]
> > >
> > > Majalah ilmiah Physics World
> > > (Dunia Fisika) terbitan bulan Juli 2005, fisikawan Inggris, Alan Calverd,
> > > mengusulkan suatu cara yang lebih sederhana untuk menghilangkan pemanasan
> > > global---berhenti makan daging. Artikelnya "Suatu Pendekatan Radikal
> > > terhadap Kyoto" telah tersebar dengan cepat melalui internet dan sedang
> > > menjadi pembicaraan hangat di kalangan para ilmuwan.
> > >
> > > Wakil untuk Parlemen Jerman dan pemimpin Partai Hijau, Renate Künast,
> > telah
> > > menyuarakan kebijakan untuk melakukan perubahan dalam bidang pertanian
> > demi
> > > menghentikan perubahan iklim. Bagian yang direkomendasikan oleh Nn.
> > Künast
> > > dalam transformasi tersebut adalah mengurangi penggunaan produk susu dan
> > > daging untuk konsumsi.
> > >
> > > Maneka Gandhi ( Menteri Keadilan Sosial India ) ; Kecuali kita
> > > mengubahpilihan makanan kita,tiada lainnya yang penting,karena
> > daginglahyang
> > > menghancurkan sebagian besar hutan kita,daginglah yang mengotori
> > > air,daginglah yang menimbulkanpenyakit yang menyebabkansemua makhluk
> > > ber-uangdialihkan ke rumah sakit.Jadi, itu adalah pilihan pertamabagi
> > siapa
> > > pun yang inginmenyelamatkan Bumi.Kita sangat, sangat dekat pada garis
> > merah,
> > > sehinggamungkin kita bangun tidurbesok dan menemukan bahwatiada apa
> > punyang
> > > dapatdiselamatkan.
> > >
> > > Menteri Lingkungan Hidup Sigmar Gabriel telah menyuarakan kepeduliannya
> > > tentang dampak dari mengonsumsi daging. Dia berkomentar tentang
> > pengrusakan
> > > hutan hujan untuk menanam kacang kedelai yang diekspor untuk memberi
> > makan
> > > ternak di Eropa.
> > >
> > > Anggota Parlemen Swedia menulis laporan yang berjudul  "The Livestock
> > > Industry and Climate - Industri Peternakan dan Iklim." Di dalamnya, Bpk.
> > > Holm mengkritik praktik menanam panen untuk diberi makan kepada ternak
> > serta
> > > alasan sektor peternakan menjadi salah satu penghasil emisi gas rumah
> > kaca
> > > terbesar. Laporan itu menyatakan: "Lebih dari sepertiga dari semua
> > > biji-bijian yang dipanen menjadi makanan hewan. Apa itu rasional? Kenapa
> > > kita tidak memproduksi lebih sedikit daging dan mengurangi hasil panen
> > yang
> > > diberikan untuk ternak sehingga tersedia biji-bijian untuk memberi makan
> > > lebih banyak orang?" Laporan itu berakhir dengan dua saran utama untuk
> > > Swedia dan Eropa: Pertama, hapus subsidi daging agar harga daging di
> > pasar
> > > mencerminkan biaya kerugian lingkungan yang sebenarnya. Kedua, anjurkan
> > diet
> > > modern kepada masyarakat yaitu diet vegetarian.
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > --
> > > Belanja buku baru gramedia dengan diskon hingga 90%?
> > > Lihat di: www.belanjaantar.multiply.com
> > >
> > > :: ...we should cherish the life we live... ::
> > >
> > >
> >
> > --- End forwarded message ---
> >
> >
> >
>
>
> --
> -a-
> "Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds
> discuss people"
> Eleanor Roosevelt
>