Syari'at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun kehidupan kolektif dengan substansi yang bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (spiritualisme), karakter perorangan, akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.
Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu.
one liner 27/5-2008
insya-Allah akan diposting hingga no.800
no.terakhir 829
Ada yang termpaui pada 25/5-2008, semestinya Seri 055, bukan Seri 059 seperti yang telah saya posting. Jadi dalam postingan ini saya postingkan bersamaan, Seri 055 dan Seri 057
********************************************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
055. Kriteria dan Gaya Kepemimpinan serta Output yang didambakan
Sesudah shalat Jum'at Drs H.Abdurrahman, yang dosen IAIN bertanya kepada saya, apa saya telah dapat undangan sarasehan tentang kriteria kepemimpinan daerah. Setelah saya menjawab tidak, ia berkata nama saya ada di antara yang akan diundang, artinya undangan belum sempat disampaikan. Sampai hari petang undangan belum sampai juga. Saya putuskan untuk tidak hadir, lebih-lebih saya belum menulis untuk FAJAR. Saya pikir lebih baik kalau saya tulis saja untuk FAJAR, dan saya tambahkan gaya di samping kriteria, karena kepribadian dan watak seseorang akan mewarnai gaya kepemimpinannya. Lagi pula yang penting adalah output yang diinginkan dari kepemimpinan itu bagi rakyat yang dipimpin.
Lebih baik saya bercerita tentang Khalifah 'Umar ibn al Khattab radhiyaLlaahu 'anhu. Dan yang akan diceritakan tentu saja fragmen-fragmen yang relevan. Yang dari fragmen itu akan dapat disauk keluar tentang kriteria dan gaya kepemimpinan yang masih aktual, yang masih cocok sampai sekarang ini, dan tentang output yang dihasilkan oleh kepemimpinan itu.
***
Kita mulai dari fragmen waktu 'Umar akan hijrah. Jadi tentu saja cerita ini jauh sebelum 'Umar menjadi khalifah. Sebelum meninggalkan Mekah, 'Umar lebih dahulu mendatangi orang-orang Quraisy yang sedang hadir di Ka'bah, yang waktu itu Ka'bah masih dikotori dengan patung-patung berhala. Dengan lantang 'Umar berpidato singkat di hadapan orang-orang Quraisy itu. Pidato singkat itu dibuka Umar dengan memuliakan Allah dan menghinakan berhala-berhala itu. Dan pidatonya ditutup dengan tantangan.
"Barang siapa yang ingin isterinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim, maka tunggulah 'Umar di luar Makkah, karena 'Umar akan hijrah sekarang ini."
***
Pada waktu 'Umar terpilih menjadi khalifah yang kedua, maka isi pidato "pengukuhannya" antara lain seperti berikut.
"Sekiranya saya ketahui ada yang lebih cakap dan lebih baik dari saya, maka demi Allah saya tidak akan memangku jabatan ini."
Namun pidato pengukuhannya itu diinterupsi, disanggah oleh seorang asysyabab, pemuda dengan hunusan pedang. Yaitu pada waktu 'Umar berucap:
"Apabila tindakan saya benar, ikutlah saya dan apabila saya menyimpang luruskanlah saya."
Asysyabab itu menghunus pedangnya dan dengan suara lantang ia berkata:
"Hai 'Umar, apabila engkau menyimpang, akan saya luruskan engkau dengan pedang saya ini." Lalu bagaimana reaksi 'Umar? Dengan senyum 'Umar berkata:
"AlhamduliLlah, puji bagi Allah yang telah memberikan keberanian kepada seorang hambaNya, seorang asysyabab, yang bersedia meluruskan 'Umar dengan pedangnya."
***
'Umar tidak begitu senang dengan laporan bawahannya. Ia lebih senang mendapatkan data primer ketimbang data sekunder. Lalu apakah 'Umar punya cukup waktu, punya cukup kesempatan untuk meliput semua itu secara langsung? Kalau zaman sekarang ada ilmu statistik, tidak perlu populasi itu diliput secara keseluruhan, cukup dengan mengambil sample saja, biasanya dengan acakan, kalau perlu didahului dengan stratifikasi. Di zamannya 'Umar ilmu itu tentu belum ada. Lalu 'Umar pakai apa? 'Umar tidak pakai ilmu zhahir, melainkan ilmu kejernihan bathin dan intuisi yang tajam. Dia akan mendapatkan sample yang tepat-tepat. Di bawah ini ada dua fragmen tentang hasil liputan Umar secara langsung, data primer.
***
Suatu malam di daerah pinggiran Umar mendapatkan dialog yang menarik. Suatu data primer tentang akhlaq rakyatnya, rakyat kalangan kecil, kalangan daerah pinggiran.
"Yah, ibu mengapa engkau akan mencampur susu dagangan kita ini dengan air, keluh anak gadis sang ibu."
"Supaya jumlahnya banyak, kita akan dapatkan pula hasil dengan harga yang banyak."
"Akan tetapi bukankah hai ibu itu suatu perbuatan yang melanggar hukum," menyanggah sang anak yang gadis itu.
"Ah, mana Umar akan tahu pelanggaran ini."
"Ibu, jangan lupa, 'Umar barangkali tidak akan tahu, akan tetapi Pencipta 'Umar niscaya tahu pelanggaran ini."
Dialog terputus dan Umar kembali, mencari anaknya Abdullah, yang kebetulan sedang nyenyak tidur. 'Umar membangunkan Abdullah lalu berucap.
"Hai Abdullah saya sudah dapatkan jodoh yang baik buat kamu, seorang gadis miskin yang mulia akhlaqnya."
Abdullah menuruti pilihan ayahnya. Ia tentu tidak berpikir seperti pemuda kontemporer yang bersikap yang dinyatakan dengan untaian kata mengejek: Bayangkan, seorang anak kepala negara bersedia menikah dengan "gadis pinggiran". Dari perkawinan Abdullah ini dengan gadis itu menurunkan seorang anak yang terkenal pula dalam sejarah, Khalifah 'Umar ibn 'Abdul 'Aziz.
***
Suatu hari 'Umar menemukan seorang anak yang sedang menggembalakan sekelompok biri-biri. 'Umar ingin menguji kejujuran anak itu.
"Hai anak, saya ingin membeli biri-biri seekor. Sang gembala menjawab:
"Saya ini hanya seorang budak penggembala. Biri-biri ini bukan milik saya, tetapi tanggung jawab saya. Kalau tuan ingin membeli barang seekor, temuilah tuan saya yang rumahnya di balik bukit itu."
"Ya, anak, 'Umar berujar pula, terlalu jauh ke sana. Saya berikan saja uang, sebutkan harganya, lalu laporkan kepada tuanmu."
"Hai tuan sudah kukatakan tadi, saya ini bukan pemilik, jadi saya tidak berhak mengambil keputusn untuk menjualnya.
"Yah, katakan saja, kepada tuanmu itu bahwa biri-biri yang saya beli itu diterkam binatang buas, dan uangnya engkau ambil."
"Tuan, saya ini bukan saudaranya Nabi Yusuf AS." Dan dengan mata yang membelalak budak gembala itu membentak 'Umar:
"Fa ayna Llah? Maka di manakah Allah?" Budak itu tidak mengenal bahwa yang dibentaknya itu adalah Kepala Negara, Khalifah 'Umar ibn al Khattab radhiyaLlaahu 'anhu.
***
Dari fragmen-fragmen di atas kita dapat menimba sendiri kriteria dan gaya kepemimpinan, serta hasil pembangunan manusia sebagai output kepemimpinan itu. Nah pembaca, silakan menyauk sendiri kriteria kepemimpinan itu, gaya kepemimpinan itu dan output produk kepemimpinan itu. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 15 November 1992
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/1992/11/055-kriteria-dan-gaya-kepemimpinan.html-----------------------------------------------------------------------
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN LMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
057. Sekali Lagi Kriteria
Sebenarnya kriteria itu dalam bahasa asalnya criteria berbentuk jamak, yang bentuk tunggalnya criterium. Jadi semestinya kalau yang dimaksud itu tunggal, seharusnya ditulis kriterium. Namun setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia, baik jamak maupun tunggal disebutlah kritria. Maka yang dimaksud dalam judul di atas adalah bentuk tunggal dan jamak.
Kita mulai dengan yang jamak dahulu. Sebenarnya dalam memajukan kriteria untuk apa saja tidak boleh terlalu cerewet, artinya jangan terlalu keliwat banyak menuntut kriteria. Ingat, manusia itu bukanlah superman. Superman hanya ada dalam cerita untuk anak-anak, sedangkan dalam alam realitas yang ada hanya Suparman.
Dalam Al Quran Allah mengisahkan kepada pembaca Al Quran kisah tentang Bani Israil yang terlalu cerewet tentang kriteria. Dengarlah FirmanNya:
-- Wa Idz Qaala Muwsa- liQawmihi- Inna Lla-ha Ya^murukum an Tadzbahuw Baqaratan, artinya:
-- ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu sekalian untuk menyembelih lembu (S. Al Baqarah 67).
Dalam ayat berikunya dapat kita baca, yaitu mereka memajukan kriteria mengenai lembu itu.
-- Qaaluw D'ulanaa Rabbaka Yubayyin laNaa Maa Hiya, artinya:
-- mereka berkata cobalah (hai Musa) meminta kepada Tuhanmu bagaimana tentang lembu itu, lalu Allah memberikan krieria:
-- Innahaa Baqaratun Laa Faaridhun wa Laa Bikrun, artinya:
-- sesungguhnya lembu itu tidak terlalu tua, namun tidak pula terlalu muda. Dalam ayat berikutnya dapat kita baca lagi mereka itu minta satu kriteria pula
-- Maa Lawnuhaa, artinya:
-- bagaimana warnanya. Kemudian Allah memberikan kriteria yang diminta itu,
-- Innahaa Baqaratun Shafraau Faaqi'un Lawnuhaa Tasurru nNaazhiriyn, artinya:
-- sesungguhnya lembu itu berwarna kuning, sangat kuning, menyenangkan bagi yang melihatnya. Dalam ayat yang berikut kita dapat baca pula bahwa mereka itu belum puas dengan kriteria yang telah dikemukakan tadi, mereka masih mengemukakan pula lagi tambahan krieria.
-- Maa Hiya Inna lBaqara Tasyabaha 'Alaynaa, artinya:
-- Bagaimana keadaan yang sebenarnya, karena buat kami (dengan kriteria yang tadi) masih belum jelas. Maka dalam ayat berikutnya Allah menambah beberapa kriteria lagi.
-- Innahaa Baqaratun Laa Dzaluwlun Tutsiyru lArdha wa Laa Tasqi lHartsa Musallamatun Laa Syiyata Fiyhaa, artinya:
-- Sesungguhnya lembu itu tidak pernah dipakai untuk mengolah lahan, tidak cacat dan tidak belang. Dan ayat itu ditutup dengan dan hampir saja mereka tidak dapat melakukannya.
Itulah sebenarnya apa yang terjadi jika terlalu cerewet minta terlalu banyak kriteria. Itu tidak berarti bahwa mengemukakan sejumlah kriteria tidak benar, melainkan kemukakanlah kriteria yang wajar-wajar saja. Ya, artinya jangan keliwat batas, jangan terlalu cerewet.
***
Terkadang dalam hal kriteria ini dibutuhkan satu saja dari sekian banyak kriteria. Maka mengambil salah satu di antaranya itulah yang disebut dengan memilih. Yaitu memilih yang terbaik di antara yang baik, yang akan dijadikan tolok ukur guna kepentingan evaluasi. Tetapi tidak selamanya pemilihan kriteria itu untuk dipakai sebagai tolok ukur. Dalam Hukum Islam kita kenal skala prioritas antara dua hal: Mengerjakan yang baik dengan menolak yang buruk. Kalau mesti mengadakan pilihan, artinya jika tidak memungkinkan untuk mengerjakan kedua kriteria itu sekali gus, maka yang mana mesti didahulukan? Dalam Hukum Islam menolak yang buruk lebih diprioritaskan ketimbang mengerjakan yang baik.
Di bawah ini akan diberikan contoh dari hasil liputan saya sendiri, jadi data primer. Boleh dikatakan setiap hari saya meliwati Jalan Sunu. Trotoarnya seperti juga dengan trotoar jalan-jalan yang lain kelihatannya indah. Ini memenuhi salah satu kriteria dalam Bersinar, yargon kotamadya kita itu. Sekarang menjelang musim hujan, Jalan Sunu dibenahi, ditinggikan. Maka tertutuplah lubang, semacam riool kecil untuk mengalirkan genangan air hujan dari jalan raya ke selokan. Jadi disain trotoar yang tinggi, yang indah itu, menyebabkan genangan air tidak dapat mengalir keselokan. Maka untuk menanggulangi permasalahan ini, trotoar mesti diubah disainnya Karena kalau tidak maka Jalan Sunu akan menjadi anak sungai pada waktu lebat-lebatnya hujan.
Jadi ada dua kriteria yang saling diperhadapkan, trotoar yang indah atau Jalan Sunu tidak rusak. Menolak yang buruk diprioritaskan ketimbang mengambil yang indah. Jadi menghindarkan Jalan Sunu menjadi sungai harus diprioritaskan ketimbang trotoar yang indah. Dan Jalan Sunu hanya sebuah sample, tentu masih ada di Kota Makassar ini yang bernasib seperti Jalan Sunu ini. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 29 November 1992
http://waii-hmna.blogspot.com/1992/11/057-sekali-lagi-kriteria.html