Tarot Bali - XIII. Death

View: New views
5 Messages — Rating Filter:   Alert me  

Tarot Bali - XIII. Death

by Leonardo Rimba :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message



"XIII-Death

Kartu "XIII-Death" dalam Tarot Bali diambil dari
filosofi Upakara Pitra Yadnya atau di Bali sering dikenal dengan
"Upacara Ngaben".
Ngaben sendiri merupakan upakara yang memiliki
fungsi mempercepat kembalinya unsur Panca Maha Butha Sang Hyang Seda
(Orang Yang Meninggal).
Ada empat lontar utama yang memberi
petunjuk tentang adanya upacara Pitra Yadnya, yaitu Yama Purwa Tatwa
(mengenai sesajen yang digunakan), Yama Purana Tatwa (mengenai filsafat
pembebasan atau pencarian Atma dan hari baik-buruk melaksanakan
upacara), Yama Purwana Tatwa (mengenai susunan acara dan bentuk
rerajahan kajang), dan Yama Tatwa (mengenai bentuk-bentuk bangunan atau
sarana upacara).
Pitra Yadnya berasal dari bahasa Kawi dan secar
harfiah dapat diartikan Pitra artinya leluhur dan Yadnya berarti korban
suci yang tulus iklhas. Pitra Yadnya adalah suatu kewajiban dari preti
sentana sebagai wujud bakti kepada leluhur sesuai dengan Panca Srada
yaitu Widhi Tatwa, Atma Tatwa, Purnabhawa,Karma Phala dan Moksa. Anak
yang berbakti kepada orang tua dinamakan Putra, dalam bahasa sansekerta
‘Putt’ berarti neraka dan ‘Ra’ berarti menghindarkan atau
menyelamatkan. Maka putra berarti anak yang menghindarkan orang tua
atau leluhurnya dari neraka. Seorang Suputra (Su artinya baik) yang
melaksanakan Pitra Yadnya bertujuan mensucikan arwah atau roh atau Atma
leluhurnya yang telah meninggal dunia. Atma perlu disucikan terus agar
suatu ketika dapat manunggal (bersatu) dengan Parama Atma (Brahman atau
Hyang Widhi). Pensucian Atma setelah manusia meninggal dunia diartikan
sebagai upaya membebaskan Atma dari ikatan-ikatannya yaitu Stula Sarira
(Panca Maha Butha) dan Sukma Sarira (Panca Tan Matra). Panca Maha Butha
adalah badan atau tubuh yang terdiri atas unsur-unsur padat (yaitu
tulang dan daging), cair (yaitu darah,air seni,dan cairan dalam tubuh),
udara (yaitu paru-paru), panas atau cahaya (yaitu sinar mata dan panas
tubuh), ether atau langit-langit (yaitu urat saraf). Panca Tan Matra
adalah pengaruh semua panca indra (mata,telinga,hidung,lidah dan kulit)
terhadap Atma ketika masih hidup. Pensucian Atma ketika manusia masih
hidup dapat dilaksanakan oleh setiap manusia dengan cara tubuh
dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa
dibersihkan dengan ilmu pengetahuan dan tapa (pengendalian Sad Ripu),
akal dibersihkan dengan kedyatmikaan atau kebijaksanaan berdasarkan
ajaran agama Hindu.
Adapun pahala bagi seorang Suputra dapat dijabarkan sebagai berikut :
Kirti yaitu mendapat pujian dan kerahayuan atau kesejahteraan
Mahayusa yaitu umur panjang
Bala yaitu tangguh menghadapi gejolak kehidupan
Yasa Patitingal Rahayu yaitu jasa mulia yang dikenang, diteladani, serta membuat kesejahteraan bagi keturunannya.
Pitra
Yadnya terdiri atas tiga tahapan sebagai berikut : Ngaben,Nyekah, dan
Mapaingkup. Apabila ketiga tahapan ini diselesaikan dalam waktu 1 hari
atau 12 jam maka dinamakan Nandang Mantri. Sedangkan pada upacara yang
biasa ada tenggang waktu beberapa hari antara Ngaben, Nyekah dan
Mapaingkup. Ngaben dengan ngebet (menggali kuburan) tulang dinamakan
Asti Wedana, sedangkan yang tidak ngebet tulang atau langsung dari
jenazah yang baru meninggal dinamakan dunia disebut Sawa Sedana.
Upacara
Ngaben memiliki kata Ngaben yang berasal dari kata ‘Ngabuin’ (huruf u
dan i dipolahkan menjadi e) yang berarti menjadikan abu (diperabukan).
Upacara Ngaben merupakan serangkaian upacara untuk mengembalikan
unsur-unsur Panca Maha Butha ke tempatnya masing-masing yaitu unsur
padat ke tanah (Pertiwi), unsur cair ke Apah, unsur udara ke Bayu,
unsur panas atau cahaya ke Teja, dan unsur ether ke Akasa. Upacara ini
dimulai dengan Ngulapin di pura Dalem, memungkah di setra, Meseh lawang
di Catus Pata (Pempatan Agung) atau di Cangkem Setra, masiram, lalu
Ngaskara, Narpana, lalu ngeseng dan nganyut ke Segara Agung atau Alit.
Ngulapin di Pura Dalem bertujuan untuk memohon ijin Ida Bethara Durga
sebagai sakti Siwa bahwa Sang Suputra akan melaksanakan Pitra Yadnya.
Mamungkah di Setra bertujuan untuk membuat symbol Siwa berupa kayu
(cendana atau sebagai) atas ijin Ida Bethara Mrajapati. Bagi jenazah
baru simbol ini tidak digunakan. Meseh Lawang bertujuan untuk
memulihkan secara simbolis cacat-cacat tubuh jenazah yang diperoleh
semasa hidup. Masiram atau mabersih bertujuan untuk membersihkan sawa
(mayat) dengan cara memandikan mayat. Ngaskara adalah upacara pensucian
Atma tahap awal. Narpana adalah manghaturkan Sang Lina (yang meninggal)
sesajen seperlunya. Ngeseng Sawa adalah membakar Sawa di Setra
dirangkai dengan Nyepit, Nguyeg dan Ngereka abu jenazah. Upacara Ngaben
diakhiri dengan Nganyut abu ke Segara sebagai pengembalian unsur cair
ke apah. Setelah Ngaben status Sang Lina meningkat menjadi Sang Pitara.
Nyekah
disebut juga Nyekar karena nama Sang Pitra sudah diganti dengan nama
bunga, misal sandat, cempaka,j empiring dan sbeagainya (untuk sawa
wanita), sedangkan untuk Sawa pria memakai nama kayu yaitu cendana,
majagau, ketewel, damulir dan sebagainya. Sering juga upacara ini
dinamakan Ngeroras, yang berasal dari kata Ro (dua) dan Ras (pisah),
yang secara harfiah berarti pisah dua kali. Tujuan upacara ini adalah
menghilangkan Sukma Sarira atau Panca Tan Matra sebagai langkah kedua
mensucikan Atma. Nyekah diawali dengan Ngulapin di Segara, kemudian
Ngajum Sekah, lalu Ngaskara Sekah, Narpana Sekah, Ngeseng Sekah dan
Nganyut Sekah. Ngulapin di Segara bertujuan untuk mohon ijin Ida
Bethara Baruna sebagai penguasa laut untuk melanjutkan Upacara Pitra
Yadnya. Ngajum Sekah adalah membuat simbol Panca Tan Matra yang disebut
Puspa Lingga. Ngaskara Sekah adalah mendak dan mensucikan Puspa Lingga.
Narpana Sekah adalah menghaturkan sesajen kepada Atman yang sudah
disucikan. Ngeseng Sekah dilaksanakan dengan membakar Puspa Lingga
sebagai simbol menghilangkan Panca Tan Matra bertujuan agar Atma dapat
dengan damai menuju Khayangan, tidak lagi terikat dengan keduniawian.
Nganyut Sekah adalah kelanjutan dari membuang Panca Tan Matra serta
mensucikan Atma dengan air dari tujuh sungai yang ada di India (Sapta
Gangga), yaitu Gangga, Yamuna, Serayu, Kaweri, Sindu, Saraswati dan
Narmada. Ketujuh sungai suci itu bermuara ke laut, sehingga laut dapat
dipandang sebagai perwakilan ketujuh sungai tersebut. Setelah Nyekah,
ikatan Atma sudah terbebas dari Panca Maha Butha dan Panca Tan Matra,
sehingga yang masih melekat dan ditanggung jawabkan oleh Atman ke
hadapan Ida Sang Hyang Widhi adalah Karma Wasana, yaitu baik buruknya
Karma (Subha Asubha Karma) sewaktu masih hidup. Kondisi Karma Wasana
inilah yang menentukan baik buruknya kehidupan dimasa yang akan datang
setelah berinkarnasi (lahir kembali) ke dunia.
Upacara Mapaingkup
disebut juga sebagai Upacara Ngerajeg Linggih, karena mepaingkup
artinya menyatukan serta menstanakan, dalam hal ini menyatukan Atma
yang baru diupacarai dengan Atma-Atma yang yang sudah lama diupacarai
yang berstana di Sanggah Pamerajan. Upacara ini terdiri dari dua bagian
yaitu Masakapana Nilapati dan Nawur danda Kalepasan. Masakapan Nilapati
diawali dengan Ngulapin di Segara sebagai permohonan ijin kepada Ida
Bhatara Baruna, kemudian Nyegara Gunung yang tujuannya mohon
kesejahteraan kepada Hyang Widhi dan dilanjutkan di Sanggah Merajan
untuk proses panunggalan dan penstanaan disaksikan oleh Catur Dewata
(Iswara, Brahma, Mahadewa dan Wisnu). Bagian kedua upacara Mapaingkup
adalah Nawur Danda Kalepasan yang dilaksanakan dengan persembahyangan
oleh Preti Sentana, memohon kepada Hyang Widhi agar Atma yang telah
diupacarai mendapat tempat yang baik serta dimaafkan segala
kesalahannya ketika amsih hidup, termasukjanji-jani sesangi atau
saud-saud yang belum terbayar, agar dipulihkan serta tidak lagi menjadi
beban bagi Preti Sentana.Setelah mepangkur, status Atma sudah menjadi
Bethara Dewa Hyang atau Bethara Raja Dewata.
Setelah upacara
mapaingkup atau ngerajeg linggih,dilaksanakan upacara
maajar-ajar.Tujuannya adalah nagkilang Bhatara Raja Dewata ke Pura Pura
Stana Para Dewa (Hyang Widhi) agar mendapat restu serta dikenal sebagai
Atma yang sudah disucikan.Kemiripan upacara ini seperti pelaksanaan
TirtaGamana bagi manusia yang masih hidup. Adapun Pura-Pura yang wajib
dikunjungi ketika Meajar-Ajar antara lain :
1. Pura Khayangan Tiga setempat
2. Kelompok Pura di Lempuyang Stana Hyang Giri Jaya
3. Silayukti, Stana Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah
4. Dasar Bhuwana Gelgel stana Mpu Ghana
5. Pura Kawitan
6. Besakih, meliputi Pura Dalem Puri, Manik Mas, Pedharman masing-masing, Penataran Agung
Bilamana
ada kesempatan, alangkah baiknya jika dilanjutkan ke Pura Uluwatu,
Pulaki, Batur, Penulisan, Rambut Siwi dan sebagainya. Setelah
Meajar-Ajar,maka selesailah seluruh rangkaian upacara Pitra Yadnya.
Diambil dari Serial Upacara Panca Yadnya
Ida Pedanda Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi


By. Leonardo Rimba
Gede Jayadi Pramana Kusuma



      New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Re: Tarot Bali - XIII. Death

by hera_gls20 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Deskripsi yang menarik Pak Leo :)


--- In Spiritual-Indonesia@..., leonardo rimba <leonardo_rimba@...> wrote:

>
>
>
> "XIII-Death
>
> Kartu "XIII-Death" dalam Tarot Bali diambil dari
> filosofi Upakara Pitra Yadnya atau di Bali sering dikenal dengan
> "Upacara Ngaben".
> Ngaben sendiri merupakan upakara yang memiliki
> fungsi mempercepat kembalinya unsur Panca Maha Butha Sang Hyang Seda
> (Orang Yang Meninggal).
> Ada empat lontar utama yang memberi
> petunjuk tentang adanya upacara Pitra Yadnya, yaitu Yama Purwa Tatwa
> (mengenai sesajen yang digunakan), Yama Purana Tatwa (mengenai filsafat
> pembebasan atau pencarian Atma dan hari baik-buruk melaksanakan
> upacara), Yama Purwana Tatwa (mengenai susunan acara dan bentuk
> rerajahan kajang), dan Yama Tatwa (mengenai bentuk-bentuk bangunan atau
> sarana upacara).
> Pitra Yadnya berasal dari bahasa Kawi dan secar
> harfiah dapat diartikan Pitra artinya leluhur dan Yadnya berarti korban
> suci yang tulus iklhas. Pitra Yadnya adalah suatu kewajiban dari preti
> sentana sebagai wujud bakti kepada leluhur sesuai dengan Panca Srada
> yaitu Widhi Tatwa, Atma Tatwa, Purnabhawa,Karma Phala dan Moksa. Anak
> yang berbakti kepada orang tua dinamakan Putra, dalam bahasa sansekerta
> ‘Putt’ berarti neraka dan ‘Ra’ berarti menghindarkan atau
> menyelamatkan. Maka putra berarti anak yang menghindarkan orang tua
> atau leluhurnya dari neraka. Seorang Suputra (Su artinya baik) yang
> melaksanakan Pitra Yadnya bertujuan mensucikan arwah atau roh atau Atma
> leluhurnya yang telah meninggal dunia. Atma perlu disucikan terus agar
> suatu ketika dapat manunggal (bersatu) dengan Parama Atma (Brahman atau
> Hyang Widhi). Pensucian Atma setelah manusia meninggal dunia diartikan
> sebagai upaya membebaskan Atma dari ikatan-ikatannya yaitu Stula Sarira
> (Panca Maha Butha) dan Sukma Sarira (Panca Tan Matra). Panca Maha Butha
> adalah badan atau tubuh yang terdiri atas unsur-unsur padat (yaitu
> tulang dan daging), cair (yaitu darah,air seni,dan cairan dalam tubuh),
> udara (yaitu paru-paru), panas atau cahaya (yaitu sinar mata dan panas
> tubuh), ether atau langit-langit (yaitu urat saraf). Panca Tan Matra
> adalah pengaruh semua panca indra (mata,telinga,hidung,lidah dan kulit)
> terhadap Atma ketika masih hidup. Pensucian Atma ketika manusia masih
> hidup dapat dilaksanakan oleh setiap manusia dengan cara tubuh
> dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa
> dibersihkan dengan ilmu pengetahuan dan tapa (pengendalian Sad Ripu),
> akal dibersihkan dengan kedyatmikaan atau kebijaksanaan berdasarkan
> ajaran agama Hindu.
> Adapun pahala bagi seorang Suputra dapat dijabarkan sebagai berikut :
> Kirti yaitu mendapat pujian dan kerahayuan atau kesejahteraan
> Mahayusa yaitu umur panjang
> Bala yaitu tangguh menghadapi gejolak kehidupan
> Yasa Patitingal Rahayu yaitu jasa mulia yang dikenang, diteladani, serta membuat kesejahteraan bagi keturunannya.



Re: Re: Tarot Bali - XIII. Death

by Leonardo Rimba :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Itu semuanya masih ditulis oleh Gede Jayadi Pramana Kusuma di Denpasar, seorang anak indigo yg umurnya baru 21 tahun tapi sudah lulus dari Fakultas Arsitektur, UNUD.

Sudah saya coba jodohkan dengan seorang anak indigo lainnya yg bernama Ika Sari Puspita, 29 tahun, belum l;ulus-lulus juga dari dulu sampe sekarang.

Beda umurf 8 taon tidak ada artinya apa-apa di alam astral. Saya sendiri beda umur lebih dari 20 tahun dengan si oho oho...

Cihuy !

Leo
(tukang jodohin orang)





--- On Wed, 11/11/09, hera_gls20 <hera_gls20@...> wrote:

From: hera_gls20 <hera_gls20@...>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Tarot Bali - XIII. Death
To: Spiritual-Indonesia@...
Date: Wednesday, 11 November, 2009, 10:52 AM







 



 


   
     
     
      Deskripsi yang menarik Pak Leo :)



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, leonardo rimba <leonardo_rimba@ ...> wrote:

>

>

>

> "XIII-Death

>

> Kartu "XIII-Death" dalam Tarot Bali diambil dari

> filosofi Upakara Pitra Yadnya atau di Bali sering dikenal dengan

> "Upacara Ngaben".

> Ngaben sendiri merupakan upakara yang memiliki

> fungsi mempercepat kembalinya unsur Panca Maha Butha Sang Hyang Seda

> (Orang Yang Meninggal).

> Ada empat lontar utama yang memberi

> petunjuk tentang adanya upacara Pitra Yadnya, yaitu Yama Purwa Tatwa

> (mengenai sesajen yang digunakan), Yama Purana Tatwa (mengenai filsafat

> pembebasan atau pencarian Atma dan hari baik-buruk melaksanakan

> upacara), Yama Purwana Tatwa (mengenai susunan acara dan bentuk

> rerajahan kajang), dan Yama Tatwa (mengenai bentuk-bentuk bangunan atau

> sarana upacara).

> Pitra Yadnya berasal dari bahasa Kawi dan secar

> harfiah dapat diartikan Pitra artinya leluhur dan Yadnya berarti korban

> suci yang tulus iklhas. Pitra Yadnya adalah suatu kewajiban dari preti

> sentana sebagai wujud bakti kepada leluhur sesuai dengan Panca Srada

> yaitu Widhi Tatwa, Atma Tatwa, Purnabhawa,Karma Phala dan Moksa. Anak

> yang berbakti kepada orang tua dinamakan Putra, dalam bahasa sansekerta

> ‘Putt’ berarti neraka dan ‘Ra’ berarti menghindarkan atau

> menyelamatkan. Maka putra berarti anak yang menghindarkan orang tua

> atau leluhurnya dari neraka. Seorang Suputra (Su artinya baik) yang

> melaksanakan Pitra Yadnya bertujuan mensucikan arwah atau roh atau Atma

> leluhurnya yang telah meninggal dunia. Atma perlu disucikan terus agar

> suatu ketika dapat manunggal (bersatu) dengan Parama Atma (Brahman atau

> Hyang Widhi). Pensucian Atma setelah manusia meninggal dunia diartikan

> sebagai upaya membebaskan Atma dari ikatan-ikatannya yaitu Stula Sarira

> (Panca Maha Butha) dan Sukma Sarira (Panca Tan Matra). Panca Maha Butha

> adalah badan atau tubuh yang terdiri atas unsur-unsur padat (yaitu

> tulang dan daging), cair (yaitu darah,air seni,dan cairan dalam tubuh),

> udara (yaitu paru-paru), panas atau cahaya (yaitu sinar mata dan panas

> tubuh), ether atau langit-langit (yaitu urat saraf). Panca Tan Matra

> adalah pengaruh semua panca indra (mata,telinga, hidung,lidah dan kulit)

> terhadap Atma ketika masih hidup. Pensucian Atma ketika manusia masih

> hidup dapat dilaksanakan oleh setiap manusia dengan cara tubuh

> dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa

> dibersihkan dengan ilmu pengetahuan dan tapa (pengendalian Sad Ripu),

> akal dibersihkan dengan kedyatmikaan atau kebijaksanaan berdasarkan

> ajaran agama Hindu.

> Adapun pahala bagi seorang Suputra dapat dijabarkan sebagai berikut :

> Kirti yaitu mendapat pujian dan kerahayuan atau kesejahteraan

> Mahayusa yaitu umur panjang

> Bala yaitu tangguh menghadapi gejolak kehidupan

> Yasa Patitingal Rahayu yaitu jasa mulia yang dikenang, diteladani, serta membuat kesejahteraan bagi keturunannya.





   
     

   
   


 



 






      Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Re: Tarot Bali - XIII. Death

by hera_gls20 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Walagh... ternyata program biro jodoh sakinah masih lanjut ya?? ^.^

Ya.. ibarat perusahaan jika di akhir tahun pasti kejar target kejar omzet.. kita pun juga begitu pak Leo.. ^.^

Mosok akhir tahun 2009 ga dapet apa2 ??? Paling ga ya dapet kecengan baru dunk.. hihihihi... :p

(Kalo hra malah dapet makian mulu inih hahahaha... ^.^)

Nah, sukses wat program biro jodoh nya dah.. ^.^


-hera-


--- In Spiritual-Indonesia@..., leonardo rimba <leonardo_rimba@...> wrote:

>
> Itu semuanya masih ditulis oleh Gede Jayadi Pramana Kusuma di Denpasar, seorang anak indigo yg umurnya baru 21 tahun tapi sudah lulus dari Fakultas Arsitektur, UNUD.
>
> Sudah saya coba jodohkan dengan seorang anak indigo lainnya yg bernama Ika Sari Puspita, 29 tahun, belum l;ulus-lulus juga dari dulu sampe sekarang.
>
> Beda umurf 8 taon tidak ada artinya apa-apa di alam astral. Saya sendiri beda umur lebih dari 20 tahun dengan si oho oho...
>
> Cihuy !
>
> Leo
> (tukang jodohin orang)
>
>
>
>
>
> --- On Wed, 11/11/09, hera_gls20 <hera_gls20@...> wrote:
>
> From: hera_gls20 <hera_gls20@...>
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Tarot Bali - XIII. Death
> To: Spiritual-Indonesia@...
> Date: Wednesday, 11 November, 2009, 10:52 AM
>
>
>
>
>
>
>
>  
>
>
>
>  
>
>
>    
>      
>      
>       Deskripsi yang menarik Pak Leo :)
>
>
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, leonardo rimba <leonardo_rimba@ ...> wrote:
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > "XIII-Death
>
> >
>
> > Kartu "XIII-Death" dalam Tarot Bali diambil dari
>
> > filosofi Upakara Pitra Yadnya atau di Bali sering dikenal dengan
>
> > "Upacara Ngaben".
>
> > Ngaben sendiri merupakan upakara yang memiliki
>
> > fungsi mempercepat kembalinya unsur Panca Maha Butha Sang Hyang Seda
>
> > (Orang Yang Meninggal).
>
> > Ada empat lontar utama yang memberi
>
> > petunjuk tentang adanya upacara Pitra Yadnya, yaitu Yama Purwa Tatwa
>
> > (mengenai sesajen yang digunakan), Yama Purana Tatwa (mengenai filsafat
>
> > pembebasan atau pencarian Atma dan hari baik-buruk melaksanakan
>
> > upacara), Yama Purwana Tatwa (mengenai susunan acara dan bentuk
>
> > rerajahan kajang), dan Yama Tatwa (mengenai bentuk-bentuk bangunan atau
>
> > sarana upacara).
>
> > Pitra Yadnya berasal dari bahasa Kawi dan secar
>
> > harfiah dapat diartikan Pitra artinya leluhur dan Yadnya berarti korban
>
> > suci yang tulus iklhas. Pitra Yadnya adalah suatu kewajiban dari preti
>
> > sentana sebagai wujud bakti kepada leluhur sesuai dengan Panca Srada
>
> > yaitu Widhi Tatwa, Atma Tatwa, Purnabhawa,Karma Phala dan Moksa. Anak
>
> > yang berbakti kepada orang tua dinamakan Putra, dalam bahasa sansekerta
>
> > ‘Putt’ berarti neraka dan ‘Ra’ berarti menghindarkan atau
>
> > menyelamatkan. Maka putra berarti anak yang menghindarkan orang tua
>
> > atau leluhurnya dari neraka. Seorang Suputra (Su artinya baik) yang
>
> > melaksanakan Pitra Yadnya bertujuan mensucikan arwah atau roh atau Atma
>
> > leluhurnya yang telah meninggal dunia. Atma perlu disucikan terus agar
>
> > suatu ketika dapat manunggal (bersatu) dengan Parama Atma (Brahman atau
>
> > Hyang Widhi). Pensucian Atma setelah manusia meninggal dunia diartikan
>
> > sebagai upaya membebaskan Atma dari ikatan-ikatannya yaitu Stula Sarira
>
> > (Panca Maha Butha) dan Sukma Sarira (Panca Tan Matra). Panca Maha Butha
>
> > adalah badan atau tubuh yang terdiri atas unsur-unsur padat (yaitu
>
> > tulang dan daging), cair (yaitu darah,air seni,dan cairan dalam tubuh),
>
> > udara (yaitu paru-paru), panas atau cahaya (yaitu sinar mata dan panas
>
> > tubuh), ether atau langit-langit (yaitu urat saraf). Panca Tan Matra
>
> > adalah pengaruh semua panca indra (mata,telinga, hidung,lidah dan kulit)
>
> > terhadap Atma ketika masih hidup. Pensucian Atma ketika manusia masih
>
> > hidup dapat dilaksanakan oleh setiap manusia dengan cara tubuh
>
> > dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa
>
> > dibersihkan dengan ilmu pengetahuan dan tapa (pengendalian Sad Ripu),
>
> > akal dibersihkan dengan kedyatmikaan atau kebijaksanaan berdasarkan
>
> > ajaran agama Hindu.
>
> > Adapun pahala bagi seorang Suputra dapat dijabarkan sebagai berikut :
>
> > Kirti yaitu mendapat pujian dan kerahayuan atau kesejahteraan
>
> > Mahayusa yaitu umur panjang
>
> > Bala yaitu tangguh menghadapi gejolak kehidupan
>
> > Yasa Patitingal Rahayu yaitu jasa mulia yang dikenang, diteladani, serta membuat kesejahteraan bagi keturunannya.
>
>
>
>
>
>    
>      
>
>    
>    
>
>
>  
>
>
>
>  
>
>
>
>
>
>
>       Get your new Email address!
> Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
>



Re: Tarot Bali - XIII. Death

by Sunmoon-2 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Yei kenapa terima di maki2 ??
Gelung rambutmu, tinggalkan serambi tua itu


--- In Spiritual-Indonesia@..., "hera_gls20" <hera_gls20@...> wrote:

>
> Walagh... ternyata program biro jodoh sakinah masih lanjut ya?? ^.^
>
> Ya.. ibarat perusahaan jika di akhir tahun pasti kejar target kejar omzet.. kita pun juga begitu pak Leo.. ^.^
>
> Mosok akhir tahun 2009 ga dapet apa2 ??? Paling ga ya dapet kecengan baru dunk.. hihihihi... :p
>
> (Kalo hra malah dapet makian mulu inih hahahaha... ^.^)
>
> Nah, sukses wat program biro jodoh nya dah.. ^.^
>
>
> -hera-
>
>
> --- In Spiritual-Indonesia@..., leonardo rimba <leonardo_rimba@> wrote:
> >
> > Itu semuanya masih ditulis oleh Gede Jayadi Pramana Kusuma di Denpasar, seorang anak indigo yg umurnya baru 21 tahun tapi sudah lulus dari Fakultas Arsitektur, UNUD.
> >
> > Sudah saya coba jodohkan dengan seorang anak indigo lainnya yg bernama Ika Sari Puspita, 29 tahun, belum l;ulus-lulus juga dari dulu sampe sekarang.
> >
> > Beda umurf 8 taon tidak ada artinya apa-apa di alam astral. Saya sendiri beda umur lebih dari 20 tahun dengan si oho oho...
> >
> > Cihuy !
> >
> > Leo
> > (tukang jodohin orang)
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- On Wed, 11/11/09, hera_gls20 <hera_gls20@> wrote:
> >
> > From: hera_gls20 <hera_gls20@>
> > Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Tarot Bali - XIII. Death
> > To: Spiritual-Indonesia@...
> > Date: Wednesday, 11 November, 2009, 10:52 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >  
> >
> >
> >
> >  
> >
> >
> >    
> >      
> >      
> >       Deskripsi yang menarik Pak Leo :)
> >
> >
> >
> > --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, leonardo rimba <leonardo_rimba@ ...> wrote:
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > "XIII-Death
> >
> > >
> >
> > > Kartu "XIII-Death" dalam Tarot Bali diambil dari
> >
> > > filosofi Upakara Pitra Yadnya atau di Bali sering dikenal dengan
> >
> > > "Upacara Ngaben".
> >
> > > Ngaben sendiri merupakan upakara yang memiliki
> >
> > > fungsi mempercepat kembalinya unsur Panca Maha Butha Sang Hyang Seda
> >
> > > (Orang Yang Meninggal).
> >
> > > Ada empat lontar utama yang memberi
> >
> > > petunjuk tentang adanya upacara Pitra Yadnya, yaitu Yama Purwa Tatwa
> >
> > > (mengenai sesajen yang digunakan), Yama Purana Tatwa (mengenai filsafat
> >
> > > pembebasan atau pencarian Atma dan hari baik-buruk melaksanakan
> >
> > > upacara), Yama Purwana Tatwa (mengenai susunan acara dan bentuk
> >
> > > rerajahan kajang), dan Yama Tatwa (mengenai bentuk-bentuk bangunan atau
> >
> > > sarana upacara).
> >
> > > Pitra Yadnya berasal dari bahasa Kawi dan secar
> >
> > > harfiah dapat diartikan Pitra artinya leluhur dan Yadnya berarti korban
> >
> > > suci yang tulus iklhas. Pitra Yadnya adalah suatu kewajiban dari preti
> >
> > > sentana sebagai wujud bakti kepada leluhur sesuai dengan Panca Srada
> >
> > > yaitu Widhi Tatwa, Atma Tatwa, Purnabhawa,Karma Phala dan Moksa. Anak
> >
> > > yang berbakti kepada orang tua dinamakan Putra, dalam bahasa sansekerta
> >
> > > ‘Putt’ berarti neraka dan ‘Ra’ berarti menghindarkan atau
> >
> > > menyelamatkan. Maka putra berarti anak yang menghindarkan orang tua
> >
> > > atau leluhurnya dari neraka. Seorang Suputra (Su artinya baik) yang
> >
> > > melaksanakan Pitra Yadnya bertujuan mensucikan arwah atau roh atau Atma
> >
> > > leluhurnya yang telah meninggal dunia. Atma perlu disucikan terus agar
> >
> > > suatu ketika dapat manunggal (bersatu) dengan Parama Atma (Brahman atau
> >
> > > Hyang Widhi). Pensucian Atma setelah manusia meninggal dunia diartikan
> >
> > > sebagai upaya membebaskan Atma dari ikatan-ikatannya yaitu Stula Sarira
> >
> > > (Panca Maha Butha) dan Sukma Sarira (Panca Tan Matra). Panca Maha Butha
> >
> > > adalah badan atau tubuh yang terdiri atas unsur-unsur padat (yaitu
> >
> > > tulang dan daging), cair (yaitu darah,air seni,dan cairan dalam tubuh),
> >
> > > udara (yaitu paru-paru), panas atau cahaya (yaitu sinar mata dan panas
> >
> > > tubuh), ether atau langit-langit (yaitu urat saraf). Panca Tan Matra
> >
> > > adalah pengaruh semua panca indra (mata,telinga, hidung,lidah dan kulit)
> >
> > > terhadap Atma ketika masih hidup. Pensucian Atma ketika manusia masih
> >
> > > hidup dapat dilaksanakan oleh setiap manusia dengan cara tubuh
> >
> > > dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa
> >
> > > dibersihkan dengan ilmu pengetahuan dan tapa (pengendalian Sad Ripu),
> >
> > > akal dibersihkan dengan kedyatmikaan atau kebijaksanaan berdasarkan
> >
> > > ajaran agama Hindu.
> >
> > > Adapun pahala bagi seorang Suputra dapat dijabarkan sebagai berikut :
> >
> > > Kirti yaitu mendapat pujian dan kerahayuan atau kesejahteraan
> >
> > > Mahayusa yaitu umur panjang
> >
> > > Bala yaitu tangguh menghadapi gejolak kehidupan
> >
> > > Yasa Patitingal Rahayu yaitu jasa mulia yang dikenang, diteladani, serta membuat kesejahteraan bagi keturunannya.
> >
> >
> >
> >
> >
> >    
> >      
> >
> >    
> >    
> >
> >
> >  
> >
> >
> >
> >  
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >       Get your new Email address!
> > Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
> > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
> >
>