Tuhan Dan Kemanusiaan dalam serat Syaikh Siti Jenar

View: New views
3 Messages — Rating Filter:   Alert me  

Tuhan Dan Kemanusiaan dalam serat Syaikh Siti Jenar

by Leonardo Rimba :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Oleh Mamonk Kosongtujuhkosong di facebook.


Pupuh III Dandanggula,30



Hyang widi, kalau dikatakan dalam bahasa didunia ini, baka
bersifat abadi, tanpa antara, tiada erat dengan sakit ataupun rasa
tidak enak, ia berada baik disana, maupun disini, bukan itu bukan ini,.
Oleh tingkah yang banyak dilakukan dan yang tidak wajar, menuruti raga,
adalah sesuatu yang baru. Segala sesuatu yang berwujud, yang tersebar
didunia ini, bertentangan dengan seluruh sifat seluruh yang diciptakan,
sebab isi bumi itu angkasa yang hampa.



Tuhan adalah maha meliputi. Keberadaannya tidak dibatasi oleh lingkup
ruang dan waktu, kegaiban atau kematerian. Hakikat keberadaan sesuatu
adalah ke-beradaan-Nya. Oleh karenanya keberadaan sesuatu dihadapan-Nya
sama dengan ketidak beradaan segala sesuatu, termasuk kedirian manusia.
Maka sikap yang selalu menuruti raga disebut sebagai “sesuatu yang
baru” dalam arti tidak mengikuti iradah-Nya. Sebab raga hanya sebagai
tempat wadag bagi keberadaan roh itu.



Pupuh III Dandanggula, 33-36



Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia.
Dimanakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilinglah
cakrawala dunia, membumbunglah kelangit yang tinggi, selamilah dalam
bumi sampai lapisan ketujuh, tiada ditemukan wujud yang Mulia.



Kemana saja sunyi senyap adanya; ke utara, ke selatan, barat, timur dan
tengah, yang ada disana hanya disini adanya. Yang ada disini bukan
wujud saya. Yang ada didalamku adalah hampa yang sunyi. Isi dalam
daging tubuh adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung bukan otak
yang pisah dari tubuh, laju pesat bagaikan anak panah lepas dari busur,
menjelajah Mekkah dan Madinah.



Saya ini bukan budi, bukan angan angan hati, bukan pikiran yang sadar,
bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas, bukan kekosongan
atau kehampaan. Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah,
busuk bercampur tanah dan debu. Nafas saya mengelilingi dunia, tah,
api, air dan udara kembali ketempat asalnya atau aslinya, sebab
semuanya barang baru, bukan asli.



Maka saya ini zat yang sejiwa, menyukma dalam Hyang Widi. Pangeran saya
bersifat jalal dan jamal. Artinya Maha Muliya dan Maha Indah. Ia tidak
mau sholat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintah kan untuk
shalat kepada siapapun. Adapun orang shalat, itu budi yang menyuruh,
budi yang laknat dan mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan diturut,
karena perintahnya berubah-ubah. Perkataanya tidak dapat dipegang,
tidak jujur, jika diturut tidak jadi dan selalu mengajak mencuri.



Pupuh III Dandanggula, 44



Zat wajibul maulana adalah yang menjadi pemimpin budi yang menuju
kesemua kebaikan. Citra manusia hanya ada dalam keinginan yang tunggal.
Satu keinginan saja belum tentu dapat dilaksanakan dengan tepat, apa
lagi dua. Nah, cobalah untuk memisahkan zat wajibul maulana dengan
budi, agar supaya manusia dapat menerima keinginan yang lain.



Manusia yang mendua adalah manusia yang tidak sampai pada derajad
kemanunggalan. Sementara manusia yang manunggal adalah pemilik jiwa
yang kodrat dan iradahnya telah pula menyatu dengan Ilahi. Sehingga
akibat terpecahnya jiwa dengan roh Ilahi, maka kehidupannya dikuasai
oleh keinginan yang lain, yang dalam Al-Quran disebut hawa nafsu. Maka
agar tidak terjadi split personality, dan tidak mengakibatkan kerusakan
dalam tatanan kehidupan, harus ada keterpaduan antara sang Zat Wajibul
Mulana dengan budi manusia. Dan zat Wajibul Maulana ini berada didalam
kedirian manusia, bukan diluarnya.





Catatan : penafsiran dan pengartian diatas merupakan penafsiran dan pengartian bebas.  

Sumber:  -    serat syekh siti jenar ki sasrawijaya

                     -    makna kematian oleh ahmad chodjim

                     -    kajian kitab serat dan suluk siti jenar oleh Muhammad sholikhin





wejangan syehk sitijenar tentang tuhan dan kemanusiaan



      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Re: Tuhan Dan Kemanusiaan dalam serat Syaikh Siti Jenar

by hera_gls20 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Beberapa hari sebelum kopdar Jogjakarta, antara sadar dan tidak sadar saya memejamkan mata dan melihat siluet seorang lelaki.
Memakai baju jawa.
Aku berkata, "Kok seperti sunan kalijaga?"
Lalu ketika meditasi di tempat Om Dodo, "dia" juga menghampiri lagi.
Setelah pulang dari Jogja, kubaca lagi buku syekh siti djenar.
Dan kudapati pengertian, "kita semua adalah bangkai".

=============================================================
Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu.
==============================================================

-hera-

--- In Spiritual-Indonesia@..., leonardo rimba <leonardo_rimba@...> wrote:

>
> Oleh Mamonk Kosongtujuhkosong di facebook.
>
>
> Pupuh III Dandanggula,30
>
>
>
> Hyang widi, kalau dikatakan dalam bahasa didunia ini, baka
> bersifat abadi, tanpa antara, tiada erat dengan sakit ataupun rasa
> tidak enak, ia berada baik disana, maupun disini, bukan itu bukan ini,.
> Oleh tingkah yang banyak dilakukan dan yang tidak wajar, menuruti raga,
> adalah sesuatu yang baru. Segala sesuatu yang berwujud, yang tersebar
> didunia ini, bertentangan dengan seluruh sifat seluruh yang diciptakan,
> sebab isi bumi itu angkasa yang hampa.
>
>
>
> Tuhan adalah maha meliputi. Keberadaannya tidak dibatasi oleh lingkup
> ruang dan waktu, kegaiban atau kematerian. Hakikat keberadaan sesuatu
> adalah ke-beradaan-Nya. Oleh karenanya keberadaan sesuatu dihadapan-Nya
> sama dengan ketidak beradaan segala sesuatu, termasuk kedirian manusia.
> Maka sikap yang selalu menuruti raga disebut sebagai “sesuatu yang
> baru” dalam arti tidak mengikuti iradah-Nya. Sebab raga hanya sebagai
> tempat wadag bagi keberadaan roh itu.
>
>
>
> Pupuh III Dandanggula, 33-36
>
>
>
> Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia.
> Dimanakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilinglah
> cakrawala dunia, membumbunglah kelangit yang tinggi, selamilah dalam
> bumi sampai lapisan ketujuh, tiada ditemukan wujud yang Mulia.
>
>
>
> Kemana saja sunyi senyap adanya; ke utara, ke selatan, barat, timur dan
> tengah, yang ada disana hanya disini adanya. Yang ada disini bukan
> wujud saya. Yang ada didalamku adalah hampa yang sunyi. Isi dalam
> daging tubuh adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung bukan otak
> yang pisah dari tubuh, laju pesat bagaikan anak panah lepas dari busur,
> menjelajah Mekkah dan Madinah.
>
>
>
> Saya ini bukan budi, bukan angan angan hati, bukan pikiran yang sadar,
> bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas, bukan kekosongan
> atau kehampaan. Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah,
> busuk bercampur tanah dan debu. Nafas saya mengelilingi dunia, tah,
> api, air dan udara kembali ketempat asalnya atau aslinya, sebab
> semuanya barang baru, bukan asli.
>
>
>
> Maka saya ini zat yang sejiwa, menyukma dalam Hyang Widi. Pangeran saya
> bersifat jalal dan jamal. Artinya Maha Muliya dan Maha Indah. Ia tidak
> mau sholat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintah kan untuk
> shalat kepada siapapun. Adapun orang shalat, itu budi yang menyuruh,
> budi yang laknat dan mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan diturut,
> karena perintahnya berubah-ubah. Perkataanya tidak dapat dipegang,
> tidak jujur, jika diturut tidak jadi dan selalu mengajak mencuri.
>
>
>
> Pupuh III Dandanggula, 44
>
>
>
> Zat wajibul maulana adalah yang menjadi pemimpin budi yang menuju
> kesemua kebaikan. Citra manusia hanya ada dalam keinginan yang tunggal.
> Satu keinginan saja belum tentu dapat dilaksanakan dengan tepat, apa
> lagi dua. Nah, cobalah untuk memisahkan zat wajibul maulana dengan
> budi, agar supaya manusia dapat menerima keinginan yang lain.
>
>
>
> Manusia yang mendua adalah manusia yang tidak sampai pada derajad
> kemanunggalan. Sementara manusia yang manunggal adalah pemilik jiwa
> yang kodrat dan iradahnya telah pula menyatu dengan Ilahi. Sehingga
> akibat terpecahnya jiwa dengan roh Ilahi, maka kehidupannya dikuasai
> oleh keinginan yang lain, yang dalam Al-Quran disebut hawa nafsu. Maka
> agar tidak terjadi split personality, dan tidak mengakibatkan kerusakan
> dalam tatanan kehidupan, harus ada keterpaduan antara sang Zat Wajibul
> Mulana dengan budi manusia. Dan zat Wajibul Maulana ini berada didalam
> kedirian manusia, bukan diluarnya.
>
>
>
>
>
> Catatan : penafsiran dan pengartian diatas merupakan penafsiran dan pengartian bebas.  
>
> Sumber:  -    serat syekh siti jenar ki sasrawijaya
>
>                      -    makna kematian oleh ahmad chodjim
>
>                      -    kajian kitab serat dan suluk siti jenar oleh Muhammad sholikhin
>
>
>
>
>
> wejangan syehk sitijenar tentang tuhan dan kemanusiaan
>
>
>
>       Get your preferred Email name!
> Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
>



Re: Tuhan Dan Kemanusiaan dalam serat Syaikh Siti Jenar

by hera_gls20 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Bagaimana dengan ini, adakah yg bisa sharing??

================================================================
Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia.
Dimanakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilinglah
cakrawala dunia, membumbunglah kelangit yang tinggi, selamilah dalam
bumi sampai lapisan ketujuh, tiada ditemukan wujud yang Mulia.


-hera-


--- In Spiritual-Indonesia@..., "hera_gls20" <hera_gls20@...> wrote:

>
> Beberapa hari sebelum kopdar Jogjakarta, antara sadar dan tidak sadar saya memejamkan mata dan melihat siluet seorang lelaki.
> Memakai baju jawa.
> Aku berkata, "Kok seperti sunan kalijaga?"
> Lalu ketika meditasi di tempat Om Dodo, "dia" juga menghampiri lagi.
> Setelah pulang dari Jogja, kubaca lagi buku syekh siti djenar.
> Dan kudapati pengertian, "kita semua adalah bangkai".
>
> =============================================================
> Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu.
> ==============================================================
>
> -hera-
>
> --- In Spiritual-Indonesia@..., leonardo rimba <leonardo_rimba@> wrote:
> >
> > Oleh Mamonk Kosongtujuhkosong di facebook.
> >
> >
> > Pupuh III Dandanggula,30
> >
> >
> >
> > Hyang widi, kalau dikatakan dalam bahasa didunia ini, baka
> > bersifat abadi, tanpa antara, tiada erat dengan sakit ataupun rasa
> > tidak enak, ia berada baik disana, maupun disini, bukan itu bukan ini,.
> > Oleh tingkah yang banyak dilakukan dan yang tidak wajar, menuruti raga,
> > adalah sesuatu yang baru. Segala sesuatu yang berwujud, yang tersebar
> > didunia ini, bertentangan dengan seluruh sifat seluruh yang diciptakan,
> > sebab isi bumi itu angkasa yang hampa.
> >
> >
> >
> > Tuhan adalah maha meliputi. Keberadaannya tidak dibatasi oleh lingkup
> > ruang dan waktu, kegaiban atau kematerian. Hakikat keberadaan sesuatu
> > adalah ke-beradaan-Nya. Oleh karenanya keberadaan sesuatu dihadapan-Nya
> > sama dengan ketidak beradaan segala sesuatu, termasuk kedirian manusia.
> > Maka sikap yang selalu menuruti raga disebut sebagai “sesuatu yang
> > baru” dalam arti tidak mengikuti iradah-Nya. Sebab raga hanya sebagai
> > tempat wadag bagi keberadaan roh itu.
> >
> >
> >
> > Pupuh III Dandanggula, 33-36
> >
> >
> >
> > Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia.
> > Dimanakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilinglah
> > cakrawala dunia, membumbunglah kelangit yang tinggi, selamilah dalam
> > bumi sampai lapisan ketujuh, tiada ditemukan wujud yang Mulia.
> >
> >
> >
> > Kemana saja sunyi senyap adanya; ke utara, ke selatan, barat, timur dan
> > tengah, yang ada disana hanya disini adanya. Yang ada disini bukan
> > wujud saya. Yang ada didalamku adalah hampa yang sunyi. Isi dalam
> > daging tubuh adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung bukan otak
> > yang pisah dari tubuh, laju pesat bagaikan anak panah lepas dari busur,
> > menjelajah Mekkah dan Madinah.
> >
> >
> >
> > Saya ini bukan budi, bukan angan angan hati, bukan pikiran yang sadar,
> > bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas, bukan kekosongan
> > atau kehampaan. Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah,
> > busuk bercampur tanah dan debu. Nafas saya mengelilingi dunia, tah,
> > api, air dan udara kembali ketempat asalnya atau aslinya, sebab
> > semuanya barang baru, bukan asli.
> >
> >
> >
> > Maka saya ini zat yang sejiwa, menyukma dalam Hyang Widi. Pangeran saya
> > bersifat jalal dan jamal. Artinya Maha Muliya dan Maha Indah. Ia tidak
> > mau sholat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintah kan untuk
> > shalat kepada siapapun. Adapun orang shalat, itu budi yang menyuruh,
> > budi yang laknat dan mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan diturut,
> > karena perintahnya berubah-ubah. Perkataanya tidak dapat dipegang,
> > tidak jujur, jika diturut tidak jadi dan selalu mengajak mencuri.
> >
> >
> >
> > Pupuh III Dandanggula, 44
> >
> >
> >
> > Zat wajibul maulana adalah yang menjadi pemimpin budi yang menuju
> > kesemua kebaikan. Citra manusia hanya ada dalam keinginan yang tunggal.
> > Satu keinginan saja belum tentu dapat dilaksanakan dengan tepat, apa
> > lagi dua. Nah, cobalah untuk memisahkan zat wajibul maulana dengan
> > budi, agar supaya manusia dapat menerima keinginan yang lain.
> >
> >
> >
> > Manusia yang mendua adalah manusia yang tidak sampai pada derajad
> > kemanunggalan. Sementara manusia yang manunggal adalah pemilik jiwa
> > yang kodrat dan iradahnya telah pula menyatu dengan Ilahi. Sehingga
> > akibat terpecahnya jiwa dengan roh Ilahi, maka kehidupannya dikuasai
> > oleh keinginan yang lain, yang dalam Al-Quran disebut hawa nafsu. Maka
> > agar tidak terjadi split personality, dan tidak mengakibatkan kerusakan
> > dalam tatanan kehidupan, harus ada keterpaduan antara sang Zat Wajibul
> > Mulana dengan budi manusia. Dan zat Wajibul Maulana ini berada didalam
> > kedirian manusia, bukan diluarnya.
> >
> >
> >
> >
> >
> > Catatan : penafsiran dan pengartian diatas merupakan penafsiran dan pengartian bebas.  
> >
> > Sumber:  -    serat syekh siti jenar ki sasrawijaya
> >
> >                      -    makna kematian oleh ahmad chodjim
> >
> >                      -    kajian kitab serat dan suluk siti jenar oleh Muhammad sholikhin
> >
> >
> >
> >
> >
> > wejangan syehk sitijenar tentang tuhan dan kemanusiaan
> >
> >
> >
> >       Get your preferred Email name!
> > Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
> > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
> >
>