semarnya kafir
Semar bukan Tuhan, tapi semar adalah simbolisasi Tuhan. Sebab Semar
memang tidak ada. Itulah sebabnya ia diberi nama Hyang Ismaya. Maya
artinya tidak ada. Tokoh semar itu digunakan oleh orang Jawa untuk
menggambarkan Tuhan yang sulit digambarkan (tidak dapat dibandingkan
dengan apa pun - tan kena kinaya ngapa). Bagi orang Kejawen, Tuhan
itu tan kena kinaya ngapa, berbeda dengan Allah Islam yang serba
pasti.
Coba kita lihat gambaran semar:
Tuhan itu Esa. Semar putra dari Hyang Tunggal (Hyang Tunggal
yang dimaksud disini adalah Hyang Tunggal sebelum Islam masuk ke Jawa
- yaitu istilah yang sama dengan yang digunakan oleh agama Tirta,
sama dengan penyebutan bagi Hyang Widhi atau Ekam eva adwityam
Brahman)
Sang Maha Pencipta (yang ditokohkan oleh Hyang Tunggal) itu
ada, sementara Semar itu tidak ada. Maka dapat dikatakan Semar adalah
penggambaran dari Hyang Tunggal itu sendiri.
semar itu bukan lelaki dan bukan perempuan (pengertian sebelum
Islam masuk ke Jawa)
Ia tidak berkelamin. Maka bentuk tubuhnya digambarkan seperti
perempuan, berpayudara dan berpantat besar, namun ia berkekuatan
besar, melebihi kekuatan para dewa.
santri gagal wrote:
maskulin: kaki(kakek) semar
Tidak. Semar tidak bersifat maskulin saja. Semar bersifat
maskulin sekaligus feminin. Ia sakti sekaligus pengasih.
Lagipula dia bukan kakek-kakek (kaki), bukan pula nenek-nenek.
Semar berasal dari kekekalan, tidak berumur. Kemudaan Semar
disimbolkan dengan kuncungnya, ketuaan semar digambarkan dengan
kerutan wajahnya. Semar berkuncung seperti kanak-kanak, namun juga
berwajah sangat tua.
semar itu kakak dari tejamaya (teja = cahaya). Artinya, dia ada
terlebih dahulu, sebelum terang/ cahaya diciptakan, sebelum segala-
sesuatu --> menyerupai pengertian di atas, yaitu berasal dari
kekekalan.
Semar itu kakak dari batara guru / manikmaya (batara guru =
pemimpin para dewa). Artinya, dia lebih berkuasa dari para dewa.
semar itu misteri (samar).
Maka digambarkan warna kulitnya hitam. Hitam adalah lambang/
simbol misteri, ketidaktahuan mutlak. Penggambaran orang Kejawen
bahwa Tuhan adalah misteri bagi manusia, sulit digambarkan/
dijelaskan.
Simbolisasi dari Tuhan yang tak terbandingkan dengan apa pun
digambarkan dengan berbagai paradoks dari semar:
-wajahnya tertawa sekaligus menangis
-profilnya berdiri sekaligus jongkok
Semar juga menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, dengan:
-statusnya sebagai kawula, namun hakikatnya sebagai Gusti
-kesuciannya, menggambarkan ia sebagai sosok yang telah menep
eberadaan Semar sebagai bagian dari tokoh wayang terdapat pada kitab-
kitab kuno, relief-relief candi, maupun ceritera-ceritera lisan yang
disampaikan secara turun temurun.
Relief / arca candi yang menggambarkan tokoh Semar, antara lain:
- Candi Panataran di Blitar (+/- 1197 - 1454) yang memuat ceritera
Sawitri, dalam gambar berupa relief diperlihatkan Semar menyertai
Setiawan
- Candi Jago (+/- 1286), para punakawan ditampilkan berupa arca.
- Candi Tegalwangi di Kediri (+/- 1370) yang memuat ceritera
Sudamala, dalam gambar berupa relief diperlihatkan Semar mengiringi
Sadewa.
- dll
Kitab-kitab kuno memuat tokoh semar, antara lain:
- Kitab Gatotkacasraya, ditulis oleh Mpu Panuluh th 1188 M
- Kitab Korawaçrama, ditulis antara th 1200-1500
- Kitab Sudamala, ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (kira-kira
seumur dengan Korawaçrama)
- Kitab Tantu Panggelaran, kira-kira seumur dengan kitab Sudamala dan
Korawaçrama
- Kitab Manik Maya, ditulis oleh Karta Mursadah pada abad ke 19
- Kitab Kanda, ditulis oleh Narawita pada abad ke 19
- Kitab Paramayoga, ditulis oleh Ranggawarsita
Dalam kitab Korawaçrama dan Sudamala, dikatakan Semar merupakan anak
dari Hyang Tunggal, sementara dalam kitab Tantu Panggelaran dikatakan
Semar merupakan anak dari Sang Hyang Wenang. Kitab-kitab berikutnya,
ceritera-ceritera wayang menjadi aneh termasuk mengenai Semar. Dalam
kitab- kitab terakhir ini (Manik Maya, Kanda, dan Paramayoga) dewa-
dewa secara keseluruhan ditempatkan di bawah "nabi" Adam. Aneh
memang, Purbacaraka saja protes...
Dalam Kitab Manik Maya, dikatakan Semar merupakan anak dari Sang
Hyang Wisesa. Diceritakan bahwa Hyang Manik menjadi Batara Guru,
sedang Hyang Maya menjadi Semar. Tapi dalam Kitab Kanda diterangkan
bahwa Manik Maya adalah iblis yang bernama Ijajil dan mengaku sebagai
Tuhan.
Dalam Kitab Paramayoga diceritakan bahwa Batara Maya dan Batara Manik
terjadi dari keajaiban telur dalam tiga kejadian. Kejadian pertama
menggambarkan bahwa kulit telur menjelma menjadi Batara Hantaga
(Togog) atau Tejamantri, dewa yang gagah perkasa. Kejadian kedua
menggambarkan penjelmaan putih telur menjadi Batara Ismaya atau
Semar, sedang kejadian ketiga menggambarkan perubahan kuning telur
menjadi Batara Manik atau Batara Guru.
Akibat perebutan kekuasaan antara Hantaga dan Ismaya atas tahta
Kahyangan yang menyebabkan murkanya Hyang Wenang, akhirnya Togog
diperintahkan menjadi pamong para raksasa dan Semar menjadi pamong
para satria di Marcapada, sedang Guru menetap di Kahyangan.
Sementara ceritera yang umum yang saya ketahui, Hyang Tunggal
melemparkan telur, dan kemudian telur itu bagian-bagiannya menjelma
secara bersamaan:
- Putihnya menjadi Semar (Ismaya)
- Kuningnya menjadi Batara Guru (Manikmaya)
- Kulitnya menjadi Togog (Tejamaya)
Putih telur menyimbolkan kesucian, sehingga Semar mewakili kesucian.
Kuning telur/inti menyimbolkan kekuasaan, sehingga Batara guru
mewakili para penguasa /pemerintah
Kulit telur menyimbolkan keduniawian, sehingga Togog menjadi pamomong
/ mewakili orang-orang yang mementingkan keduniawian (para Kurawa /
raksasa).
Kalau dihubungkan dengan simbolisasi burung sebagai roh dalam
Kejawen, maka ceritera ini cukup "nyambung". Karena ketika orang
meninggal, ia akan meninggalkan jasad dan segala keduniawian
sedangkan ketika telur menetas menjadi burung ia akan meninggalkan
kulit.
somad wrote:
Batara guru diciptakan dari sinar yang terang sedangkan Semar dari
sinar yang gelap dan merpresentasikan seburuk buruknya manusia dan
bertugas untuk mebimbing Pandawa lima?
Mengenai itu saya rasanya memang pernah mendengar. Kalau tidak salah
di Kitab Kanda (jaman Islam) yang melukiskan semar sebagai iblis.
Orang islam agaknya suka mengubah-ubah kitab agama lain, mengikuti
nabi gila mereka. Kalau saya pribadi sih, jika ada dua kitab yang
isinya bertentangan, tentu saya lebih percaya kitab yang umurnya
lebih tua sebagai yang lebih asli.
somad wrote:
Kalau Tuhan kan direpresentasikan oleh Sang Hyang Tunggal. yang tidak
pernah dijewantahkan dalam bentuk Wayang
Ya, memang begitulah seharusnya Mbah, tapi ketika Islam masuk maka
tokoh Hyang Tunggal tidak lagi sakral. Dia, kedudukannya diturunkan
di bawah "nabi" Adam, kemudian dia dikawinkan dengan Dewi Wirandi,
kemudian lagi, tokoh ini dibuat penggambarannya dalam wayang.
_________________
sebenarnya landasan ajaran Kejawen itu juga adalah yang disimbolkan
oleh tokoh Semar sendiri. Semar adalah tokoh yang welas asih, ia
tidak pernah membunuh, seberapa pun jahat orang yang dihadapinya.
Namun ia tegas. Ia hanya akan mengeluarkan "senjata" kentutnya jika
orang yang dihadapi sudah tidak dapat lagi dinasehati dengan kata-
kata. Dan kentut tersebut hanya akan membuat lawannya pingsan
(sehingga dengan demikian masih ada kesempatan bagi lawannya untuk
bertobat).
Gambar Pranata Mangsa yang saya post-kan beberapa waktu yang lalu
tidak ada maknanya, Mbah. Hanya sekedar diagram untuk hari-hari dalam
kalender tetanen. Mengenai hubungan Pranata Mangsa dengan Kejawen...
yach, selain digunakan sebagai patokan hari-hari bekerja bagi petani,
kalender tersebut adakalanya juga digunakan untuk perhitungan
primbon. Untuk informasi lebih lengkap mengenai kalender tetanen
tersebut, nanti akan saya pm-kan alamat, no telepon, dan email dari
penerbitnya.
Mengenai kitab-kitab Kejawen, sekarang ini kita hanya tinggal sisa-
sisa saja, karena semua naskah hasil karya sastra Jawa kuno, sejak
jatuhnya Majapahit akhir abad 15 banyak yang dibakar. Naskah-naskah
yang masih bisa diselamatkan adalah naskah-naskah yang disimpan oleh
kalangan kerajaan yang masih punya power untuk mempertahankan buku-
buku kafir tersebut, dan naskah-naskah yang dilarikan ke luar pulau
Jawa.