to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

View: New views
9 Messages — Rating Filter:   Alert me  

to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

by Sudrajat IDSRG Ass MGR OPS :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message



saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
kesatuan Indonesia...

=== >>

Thanks, mas Wawan.
Ya….setuju dengan pernyataan tersebut diatas. Cukup paham.

Karena BK juga pernah bilang..bahwa Revolusi belum selesai / belum
berakhir. Dan Revolusi akan menelan korban (anak anak bangsa ? ).., maka
BK merelakan dirinya jadi tumbal peristiwa G 30 S PKI. (pasukan AU dan
Marinir sudah siap siap tinggal tunggu perintah komando untuk gempur
pasukan AD / RPKAD ).

Yang di bawah ini..juga pernah dapat.., dari bapak Suratal ( Dosen fak
Ekonomi Undip – mantan ketua DPD PDI Jateng ).

Rumusan Pancasila

Kebangsaan Indonesia
Internasionalisme,-atau peri-kemanusiaan [sic!]
Mufakat,-atau demokrasi [sic!]
Kesejahteraan sosial
ke-Tuhanan yang berkebudayaan [sic!]

Rumusan Trisila
Socio-nationalisme [sic!]
Socio-demokratie [sic!]
ke-Tuhanan [sic!]

Rumusan Ekasila
Gotong-Royong [sic!]

---------- >>

yang perlu di waspadai.., dan hati hati…tidak sekedar me revisi PANCA
SILA…pada saat dan waktu yang amat tepat.

Tapi …negara ber dasarkan syariat agama. Itu..loh…sudah dekat dengan
kekuasaan. Sebentar lagi..akan dapat kursi Mentri..cukup banyak…= dana
kampanye untuk pemilu 2014. target ..Presiden dari partai itu. Sejalan
dengan keberhasilan memperoleh kursi DPR.  -->  Wuuiiiittt …ya harus ada
GORO GORO ..dulu.

Akankah Sejarah hitam akan terulang kembali…di negeri ini ?  semoga
‘NGEH”  akan sejarah pemberontakan berdasarkan atas suatu ajaran syariat
agama…meskipun dari kelompok tertentu.., minoritas. Tapi sekarang
..sudah besar…,loh.

Tapi..saya akan melihat seperti apa adanya ( kalau di kasih jatah umur
.panjang ? ).
 Dan ..kemampuan saya Cuma menulis.., bersama teman teman..yang
BERNAFASKAN UNIVERSAL di millist Beceka, PU , SI.
 UNIVERSAL..berarti tidak boleh ada keterikatan ..kemelekatan..dari
bendera apapun dan tidak boleh ada doktrin indoktrinasi apapun kepada
siapapun dengan alasan apapun kepada jiwa manusia yang dari
sananya..BEBAS MERDEKA ber ibadah..ber kerokhanian..ber spiritual.

Ya..wis….

Buat teman teman --> PEJUANG PEMIKIR – PEMIKIR PEJUANG. Ingat paham
perjuangan kita.., faham kemasyarakatan dan kenegaraan yang sekaligus
adalah ideologi dan teori perjuangan rakyat indonesia.

1. Ketuhanan YME , landasan kerokhanian yang menjiwai dan
mengilhami kedua dasar berikut :
2. Sosio Nasionalisme ialah Persatuan Indonesia yang adil ,beradab
dan berkemanusiaan dengan di dijiwai dan di ilhami landasan kerokhanian
ke – Tuhanan YME
3. Sosio Demokrasi, demokrasi yang adil dan berperikemanusiaan
dengan memperjuangkan Demokrasi Ekonomi, Demokrasi Sosial , Demokrasi
Politik atas dasar prinsip keadilan , kemerdekaan dan persamaan antar
manusia dan bangsa yang dijiwai / di ilhami landasan kerokhanian Ke
Tuhanan yang maha esa.

Salam Persaudaraan
Sudrajat


-----Original Message-----
From: Spiritual-Indonesia@...
[mailto:Spiritual-Indonesia@...] On Behalf Of selarasmilis
Sent: Thursday, July 02, 2009 2:18 PM
To: Spiritual-Indonesia@...
Subject: Re: to mas Wawan - [Spiritual-Indonesia] Apa kata Bung Karno
dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...





Dear Mas Sudrajad

saya melihat bung karno dari perspektive marxisme saja, karena bung
karno juga mengaku dirinya marxist.

sedikit cerita thd bung hatta
Untuk bung Hatta sejak soviet madiun dia berseteru dengan orang-orang
kiri, bahkan sama-sama orang minang bung Hatta dan Tan Malaka berseteru.

Perlu diketahui konflik ini berkepanjangan, warisan Bung Karno
sebenarnya kepada Tan Malaka, bung Karno memberikan warisan penerus
revolusi kepada Tan Malaka tapi diveto oleh Bung Hatta.

Ada sebab juga mengapa keduanya berbeda aliran, Tan Malaka meski punya
gelar datuk, tapi hidupnya miskin, jadi dia adaptasi ke komunis cepat
sekali, sedangkan Bung Hatta dari kalangan kelas borjuasi dan mampu
bersekolah di belanda, lain dengan Tan Malaka bisa sekolah di Belanda
atas permintaan gurunya yang menganggapnya anak cerdas. Tan Malaka
sebenarnya tidak berhak bersekolah karena miskin, namun kecerdasannya
yang membuat dia mampu sampai ke Belanda, Soviet, China dan
negeri-negeri lainnya menggerakan revolusi.

Kembali kepada Bung Karno dalam perspektive marxisme...

marxisme hukum utamanya adalah yang sejati adalah perubahan...

nggak heran bung karno bilang revolusi belum selesai, atau permanent
revolusi...ini ditulis oleh Leon Trotsky dan sudah terbit edisi
Indonesia. Saya belum baca detilnya tapi asumsi saya mudah...bahwa
perubahan akan bergerak terus menerus sehingga yang namanya adaptasi
perubahan pastilah berjalan terus menerus.

kembali kepada Pancasila, saya kira bung karno tidak ingin ini
dikultuskan...mudah saja menebaknya, bung karno sudah menulis wasiat
kalau dirinya meninggal yang meneruskan revolusi adalah tan malaka, dan
jelas tan malaka itu adalah seorang komunis moscow.

tan malaka lebih tua daripada bung karno, bahkan bung karno mengaku
beberapa ide didapatnya dari tan malaka, seperti konsep republik
indonesia, ini yang menulis adalah tan malaka dengan bukunya naar de
republik indonesia, dan itu dibaca bung karno. Tan Malaka sekarang
digelari bapak Republik Indonesia atas jasanya memberikan ide Indonesia
berbentuk republik.

mohon dipahami bung karno tidak bersekolah di belanda, jadi akses ke
buku-buku dan wawasannya lebih terbatas daripada tan malaka

tan malaka mempunyai kelemahan utama, yaitu mungkin gangguan kejiwaan,
karena tan malaka sangat paranoid karena seringnya dipenjara bahkan
untuk bertemu bung karno dia tidak mengenalkan dirinya sebagai tan
malaka, orang hanya tahu dia tan malaka ketika dia bisa menjelaskan apa
yang ditulisnya, dan bung karno mengenalinya karena membaca tulisannya.

saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
kesatuan Indonesia...

lebih penting Indonesia-nya daripada Pancasilanya...

pancasila itu hanya konsepnya...seperti setirnya...perahu besarnya
adalah Republik Kesatuan Indonesia...nahkodanya dulu bung karno...

kira-kira bukankah begitu mas sudrajad???

--- In Spiritual-Indonesia@...
<mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> , "Sudrajat"
<sudrajat@...> wrote:

>
>
>
> Dear mas Wawan….Marxis. (tulisane..salah apa betul ? )
>
> Numpang tanya…,
>
> Banyak orang yang tidak tahu.arah jalan pikiran Gusdur. Ada tokoh
> nasional ..dianataranya mantan sekjen Golkar Sarwono K .., menyatakan
> bahwa untuk mengerti jalan pikiran Gusdur..baru akan diketahui / ter
> deteksi..setelah sekian tahun kemudian.
>
> Berangkat dari asumsi pemikiran tersebut diatas, ini mungkin yang
> terjadi antara Bung Hatta ..saat ber seteru ..tidak sependapat akan
> kebijakasanaan BK terlalu dekat dengan KOMUNIS.
>
> Ggguiiiimmmaaannna ????
>
> Kalau iyaaaa , siapa orang Indonesia…yang cukup mumpuni..untuk
> menyatakan diri..: saya cukup paham apa yang dimaui ..di inginkan
> BK..perihal PANCA SILA.
>
> Terima kasih
> Sudrajat
>
>


Re: to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

by wawan-3 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message


ada satu hal yang masih perlu kita cari ...

yaitu adalah...

mengapa Russia dan China tidak turun tangan membantu bung Karno disaat sulit???

padahal waktu BK minta kapal perang buat merebut irian barat mereka kirimkan...

pertanyaan ini yg layak diajukan dan dicari jawabannya, pada saat itu PKI adalah kekuatan komunis terbesar setelah Soviet dan China...

lalu mengapa kedua negara itu membiarkan PKI dihabisi...


--- In Spiritual-Indonesia@..., "Sudrajat" <sudrajat@...> wrote:
>
>
>
> saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
> Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
> kesatuan Indonesia...
>
> === >>
>



Re: to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

by kanthi_asih :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

emang kalo russia-china bantuin pki, mereka masih punya kemungkinan bakal menangin perang dingin?

blub2....


--- In Spiritual-Indonesia@..., "selarasmilis" <selarasmilis@...> wrote:

>
>
> ada satu hal yang masih perlu kita cari ...
>
> yaitu adalah...
>
> mengapa Russia dan China tidak turun tangan membantu bung Karno disaat sulit???
>
> padahal waktu BK minta kapal perang buat merebut irian barat mereka kirimkan...
>
> pertanyaan ini yg layak diajukan dan dicari jawabannya, pada saat itu PKI adalah kekuatan komunis terbesar setelah Soviet dan China...
>
> lalu mengapa kedua negara itu membiarkan PKI dihabisi...
>
>
> --- In Spiritual-Indonesia@..., "Sudrajat" <sudrajat@> wrote:
> >
> >
> >
> > saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
> > Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
> > kesatuan Indonesia...
> >
> > === >>
> >
>



Re: to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

by wawan-3 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message


yang saya tahu ini yg dikatakan stalin

benteng perjuangan proletariat adalah Soviet, kalau Soviet hancur maka gerakan sosialisme dunia akan hancur...

dan memang benar Soviet dan China memikirkan negaranya sendiri dulu...

justru BK yang terlalu aktif memikirkan politik luar negeri....padahal doktrin stalin jelas...pikirkan kepentingan nasionalismenya dulu dan stalin menjaga benteng soviet dari perang dingin.

--- In Spiritual-Indonesia@..., "kanthi_asih" <kanthi_asih@...> wrote:

>
> emang kalo russia-china bantuin pki, mereka masih punya kemungkinan bakal menangin perang dingin?
>
> blub2....
>
>
> --- In Spiritual-Indonesia@..., "selarasmilis" <selarasmilis@> wrote:
> >
> >
> >


Parent Message unknown Re: to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

by kanthi_asih :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

ya, sisi "romantis" (baca: menggebu-gebu) bk rupanya suka menjebaknya menjadi sosok yang kurang realistis....

blub3....


--- On Thu, 7/2/09, selarasmilis <selarasmilis@...> wrote:

From: selarasmilis <selarasmilis@...>
Subject: Re: to mas Wawan  -  [Spiritual-Indonesia] Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...
To: Spiritual-Indonesia@...
Date: Thursday, July 2, 2009, 5:33 PM











   
           
           


     
     

yang saya tahu ini yg dikatakan stalin



benteng perjuangan proletariat adalah Soviet, kalau Soviet hancur maka gerakan sosialisme dunia akan hancur...



dan memang benar Soviet dan China memikirkan negaranya sendiri dulu...



justru BK yang terlalu aktif memikirkan politik luar negeri....padahal doktrin stalin jelas...pikirkan kepentingan nasionalismenya dulu dan stalin menjaga benteng soviet dari perang dingin.



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "kanthi_asih" <kanthi_asih@ ...> wrote:

>

> emang kalo russia-china bantuin pki, mereka masih punya kemungkinan bakal menangin perang dingin?

>

> blub2....

>

>

> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "selarasmilis" <selarasmilis@ > wrote:

> >

> >

> >




 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     

Re: to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

by wawan-3 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message


tapi pendukung BK nggak kalah fanatis ama FPI...
menelan mentah2 doktrin BK, padahal mestinya hakekatnya yang diambil...


--- In Spiritual-Indonesia@..., kanthi asih <kanthi_asih@...> wrote:
>
> ya, sisi "romantis" (baca: menggebu-gebu) bk rupanya suka menjebaknya menjadi sosok yang kurang realistis....
>
> blub3....
>


Re: to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

by Anton Nurcahyo :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Dear All,
Petikan dibawah tulisan dari Joshua Barker
Kalo berminat baca utuh japri saja, sudah kebanyakan file di files-nya milis dan juga mempertimbangkan copyright, serta file2 yg semalam dan kemaren saya upload dalam waktu dekat akan saya delete.

Beyond Bandung: developmental nationalism and (multi)cultural nationalism in Indonesia
Third World Quarterly, Volume 29, Issue 3 April 2008 , pages 521 - 540

Soekarno's own nationalist party was formed several years after the split between the si and the pki. In 1926 Soekarno published a paper in which he identified what he viewed to be the three most powerful streams of anti-colonial ideology within the political elite at the time: nationalism, Islam and Marxism.18 Proponents of these different ideological streams often clashed: the split between Muslims and communists in the 1920s was followed in the early 1930s by a conflict between Muslims and nationalists. All three groups maintained their bases of support and, after the Japanese occupation and the subsequent revolution, these streams became a core triad in Indonesian politics:19 they were the main ways in which Indonesia's small political elite connected to the larger mass of the Indonesian people.20 A sense of the relative strength of these various streams is provided by the results of Indonesia's first elections in 1955. In that election four major parties emerged: the Nationalist Party with 22.3% of the vote, the Islamic reformist party (Masyumi) with 20.9% of the vote, the traditionalist Islamic Nahdatul Ulama with 18.4% of the vote, and the pki with 16.4% of the vote.21 Given that the two main Islamic parties had quite different ideological orientations, it was clearly a highly fractious political environment.

The shift within Soekarno's developmental nationalism during the period of Guided Democracy coincided with a power shift within the Indonesian elite. In the 1960s Soekarno had used the Darul Islam rebellions as a pretext to ban the largest Islamic party at the time, the modernist Masyumi party. The Indonesian Socialist Party (psi) was also banned. The elimination or weakening of political parties at the elite level was accompanied by a dramatic increase in the power of the army, which along with the president, was the main beneficiary of the imposition of martial law. The success of the army at putting down regional rebellions and incorporating Papua into the republic also greatly enhanced its power and prestige. The only other group that enjoyed an increase in power during this period was the pki, whose efforts at organising workers and peasants helped it to become the third largest communist party in the world.
Despite this sort of authoritarian strengthening, Soekarno's developmental nationalism proved to be a failure. According to Robison, the main goal of the Guided Economy had been 'to construct a national industrial economy around state-owned capital'.39 During the late 1950s the government had moved strongly in the direction of state ownership of the means of production by expropriating Dutch enterprises and banks and handing them over to the military. However, poor management of state enterprises and their use for personal gain, together with conflicts and competition among bureaucratic capitalists, led to a serious decline in production, a balance of payments crisis, and high rates of inflation. The private sector bourgeoisie, which included both pribumi capitalists (many of whom had been associated with Masyumi) and Chinese capitalists, was far too weak to pick up the slack, and the economy stagnated. Thus, rather than creating a healthy and self-sufficient national economy in which ordinary people enjoyed a new level of material prosperity, Soekarno ended up presiding over a 'ramshackle, underpowered form of state capitalism operated by, and largely for, the benefit of the politico-bureaucrats who dominated the state apparatus, notably the military themselves'.40



--- In Spiritual-Indonesia@..., "Sudrajat" <sudrajat@...> wrote:

>
>
>
> saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
> Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
> kesatuan Indonesia...
>
> === >>
>
> Thanks, mas Wawan.
> Ya….setuju dengan pernyataan tersebut diatas. Cukup paham.
>
> Karena BK juga pernah bilang..bahwa Revolusi belum selesai / belum
> berakhir. Dan Revolusi akan menelan korban (anak anak bangsa ? ).., maka
> BK merelakan dirinya jadi tumbal peristiwa G 30 S PKI. (pasukan AU dan
> Marinir sudah siap siap tinggal tunggu perintah komando untuk gempur
> pasukan AD / RPKAD ).
>
> Yang di bawah ini..juga pernah dapat.., dari bapak Suratal ( Dosen fak
> Ekonomi Undip – mantan ketua DPD PDI Jateng ).
>
> Rumusan Pancasila
>
> Kebangsaan Indonesia
> Internasionalisme,-atau peri-kemanusiaan [sic!]
> Mufakat,-atau demokrasi [sic!]
> Kesejahteraan sosial
> ke-Tuhanan yang berkebudayaan [sic!]
>
> Rumusan Trisila
> Socio-nationalisme [sic!]
> Socio-demokratie [sic!]
> ke-Tuhanan [sic!]
>
> Rumusan Ekasila
> Gotong-Royong [sic!]
>
> ---------- >>
>
> yang perlu di waspadai.., dan hati hati…tidak sekedar me revisi PANCA
> SILA…pada saat dan waktu yang amat tepat.
>
> Tapi …negara ber dasarkan syariat agama. Itu..loh…sudah dekat dengan
> kekuasaan. Sebentar lagi..akan dapat kursi Mentri..cukup banyak…= dana
> kampanye untuk pemilu 2014. target ..Presiden dari partai itu. Sejalan
> dengan keberhasilan memperoleh kursi DPR.  -->  Wuuiiiittt …ya harus ada
> GORO GORO ..dulu.
>
> Akankah Sejarah hitam akan terulang kembali…di negeri ini ?  semoga
> `NGEH"  akan sejarah pemberontakan berdasarkan atas suatu ajaran syariat
> agama…meskipun dari kelompok tertentu.., minoritas. Tapi sekarang
> ..sudah besar…,loh.
>
> Tapi..saya akan melihat seperti apa adanya ( kalau di kasih jatah umur
> .panjang ? ).
>  Dan ..kemampuan saya Cuma menulis.., bersama teman teman..yang
> BERNAFASKAN UNIVERSAL di millist Beceka, PU , SI.
>  UNIVERSAL..berarti tidak boleh ada keterikatan ..kemelekatan..dari
> bendera apapun dan tidak boleh ada doktrin indoktrinasi apapun kepada
> siapapun dengan alasan apapun kepada jiwa manusia yang dari
> sananya..BEBAS MERDEKA ber ibadah..ber kerokhanian..ber spiritual.
>
> Ya..wis….
>
> Buat teman teman --> PEJUANG PEMIKIR – PEMIKIR PEJUANG. Ingat paham
> perjuangan kita.., faham kemasyarakatan dan kenegaraan yang sekaligus
> adalah ideologi dan teori perjuangan rakyat indonesia.
>
> 1. Ketuhanan YME , landasan kerokhanian yang menjiwai dan
> mengilhami kedua dasar berikut :
> 2. Sosio Nasionalisme ialah Persatuan Indonesia yang adil ,beradab
> dan berkemanusiaan dengan di dijiwai dan di ilhami landasan kerokhanian
> ke – Tuhanan YME
> 3. Sosio Demokrasi, demokrasi yang adil dan berperikemanusiaan
> dengan memperjuangkan Demokrasi Ekonomi, Demokrasi Sosial , Demokrasi
> Politik atas dasar prinsip keadilan , kemerdekaan dan persamaan antar
> manusia dan bangsa yang dijiwai / di ilhami landasan kerokhanian Ke
> Tuhanan yang maha esa.
>
> Salam Persaudaraan
> Sudrajat
>
>
> -----Original Message-----
> From: Spiritual-Indonesia@...
> [mailto:Spiritual-Indonesia@...] On Behalf Of selarasmilis
> Sent: Thursday, July 02, 2009 2:18 PM
> To: Spiritual-Indonesia@...
> Subject: Re: to mas Wawan - [Spiritual-Indonesia] Apa kata Bung Karno
> dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...
>
>
>
>
>
> Dear Mas Sudrajad
>
> saya melihat bung karno dari perspektive marxisme saja, karena bung
> karno juga mengaku dirinya marxist.
>
> sedikit cerita thd bung hatta
> Untuk bung Hatta sejak soviet madiun dia berseteru dengan orang-orang
> kiri, bahkan sama-sama orang minang bung Hatta dan Tan Malaka berseteru.
>
> Perlu diketahui konflik ini berkepanjangan, warisan Bung Karno
> sebenarnya kepada Tan Malaka, bung Karno memberikan warisan penerus
> revolusi kepada Tan Malaka tapi diveto oleh Bung Hatta.
>
> Ada sebab juga mengapa keduanya berbeda aliran, Tan Malaka meski punya
> gelar datuk, tapi hidupnya miskin, jadi dia adaptasi ke komunis cepat
> sekali, sedangkan Bung Hatta dari kalangan kelas borjuasi dan mampu
> bersekolah di belanda, lain dengan Tan Malaka bisa sekolah di Belanda
> atas permintaan gurunya yang menganggapnya anak cerdas. Tan Malaka
> sebenarnya tidak berhak bersekolah karena miskin, namun kecerdasannya
> yang membuat dia mampu sampai ke Belanda, Soviet, China dan
> negeri-negeri lainnya menggerakan revolusi.
>
> Kembali kepada Bung Karno dalam perspektive marxisme...
>
> marxisme hukum utamanya adalah yang sejati adalah perubahan...
>
> nggak heran bung karno bilang revolusi belum selesai, atau permanent
> revolusi...ini ditulis oleh Leon Trotsky dan sudah terbit edisi
> Indonesia. Saya belum baca detilnya tapi asumsi saya mudah...bahwa
> perubahan akan bergerak terus menerus sehingga yang namanya adaptasi
> perubahan pastilah berjalan terus menerus.
>
> kembali kepada Pancasila, saya kira bung karno tidak ingin ini
> dikultuskan...mudah saja menebaknya, bung karno sudah menulis wasiat
> kalau dirinya meninggal yang meneruskan revolusi adalah tan malaka, dan
> jelas tan malaka itu adalah seorang komunis moscow.
>
> tan malaka lebih tua daripada bung karno, bahkan bung karno mengaku
> beberapa ide didapatnya dari tan malaka, seperti konsep republik
> indonesia, ini yang menulis adalah tan malaka dengan bukunya naar de
> republik indonesia, dan itu dibaca bung karno. Tan Malaka sekarang
> digelari bapak Republik Indonesia atas jasanya memberikan ide Indonesia
> berbentuk republik.
>
> mohon dipahami bung karno tidak bersekolah di belanda, jadi akses ke
> buku-buku dan wawasannya lebih terbatas daripada tan malaka
>
> tan malaka mempunyai kelemahan utama, yaitu mungkin gangguan kejiwaan,
> karena tan malaka sangat paranoid karena seringnya dipenjara bahkan
> untuk bertemu bung karno dia tidak mengenalkan dirinya sebagai tan
> malaka, orang hanya tahu dia tan malaka ketika dia bisa menjelaskan apa
> yang ditulisnya, dan bung karno mengenalinya karena membaca tulisannya.
>
> saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
> Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
> kesatuan Indonesia...
>
> lebih penting Indonesia-nya daripada Pancasilanya...
>
> pancasila itu hanya konsepnya...seperti setirnya...perahu besarnya
> adalah Republik Kesatuan Indonesia...nahkodanya dulu bung karno...
>
> kira-kira bukankah begitu mas sudrajad???
>
> --- In Spiritual-Indonesia@...
> <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> , "Sudrajat"
> <sudrajat@> wrote:
> >
> >
> >
> > Dear mas Wawan….Marxis. (tulisane..salah apa betul ? )
> >
> > Numpang tanya…,
> >
> > Banyak orang yang tidak tahu.arah jalan pikiran Gusdur. Ada tokoh
> > nasional ..dianataranya mantan sekjen Golkar Sarwono K .., menyatakan
> > bahwa untuk mengerti jalan pikiran Gusdur..baru akan diketahui / ter
> > deteksi..setelah sekian tahun kemudian.
> >
> > Berangkat dari asumsi pemikiran tersebut diatas, ini mungkin yang
> > terjadi antara Bung Hatta ..saat ber seteru ..tidak sependapat akan
> > kebijakasanaan BK terlalu dekat dengan KOMUNIS.
> >
> > Ggguiiiimmmaaannna ????
> >
> > Kalau iyaaaa , siapa orang Indonesia…yang cukup mumpuni..untuk
> > menyatakan diri..: saya cukup paham apa yang dimaui ..di inginkan
> > BK..perihal PANCA SILA.
> >
> > Terima kasih
> > Sudrajat
> >
> >
>



Re: to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

by wawan-3 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

bung antonius

bisa minta tolong kirim ke wawanatmediaselarasdotnet

tx sebelumnya

--- In Spiritual-Indonesia@..., "Antonius Nurcahyo" <anton.mondro@...> wrote:

>
> Dear All,
> Petikan dibawah tulisan dari Joshua Barker
> Kalo berminat baca utuh japri saja, sudah kebanyakan file di files-nya milis dan juga mempertimbangkan copyright, serta file2 yg semalam dan kemaren saya upload dalam waktu dekat akan saya delete.
>
> Beyond Bandung: developmental nationalism and (multi)cultural nationalism in Indonesia
> Third World Quarterly, Volume 29, Issue 3 April 2008 , pages 521 - 540
>
> Soekarno's own nationalist party was formed several years after the split between the si and the pki. In 1926 Soekarno published a paper in which he identified what he viewed to be the three most powerful streams of anti-colonial ideology within the political elite at the time: nationalism, Islam and Marxism.18 Proponents of these different ideological streams often clashed: the split between Muslims and communists in the 1920s was followed in the early 1930s by a conflict between Muslims and nationalists. All three groups maintained their bases of support and, after the Japanese occupation and the subsequent revolution, these streams became a core triad in Indonesian politics:19 they were the main ways in which Indonesia's small political elite connected to the larger mass of the Indonesian people.20 A sense of the relative strength of these various streams is provided by the results of Indonesia's first elections in 1955. In that election four major parties emerged: the Nationalist Party with 22.3% of the vote, the Islamic reformist party (Masyumi) with 20.9% of the vote, the traditionalist Islamic Nahdatul Ulama with 18.4% of the vote, and the pki with 16.4% of the vote.21 Given that the two main Islamic parties had quite different ideological orientations, it was clearly a highly fractious political environment.
>
> The shift within Soekarno's developmental nationalism during the period of Guided Democracy coincided with a power shift within the Indonesian elite. In the 1960s Soekarno had used the Darul Islam rebellions as a pretext to ban the largest Islamic party at the time, the modernist Masyumi party. The Indonesian Socialist Party (psi) was also banned. The elimination or weakening of political parties at the elite level was accompanied by a dramatic increase in the power of the army, which along with the president, was the main beneficiary of the imposition of martial law. The success of the army at putting down regional rebellions and incorporating Papua into the republic also greatly enhanced its power and prestige. The only other group that enjoyed an increase in power during this period was the pki, whose efforts at organising workers and peasants helped it to become the third largest communist party in the world.
> Despite this sort of authoritarian strengthening, Soekarno's developmental nationalism proved to be a failure. According to Robison, the main goal of the Guided Economy had been 'to construct a national industrial economy around state-owned capital'.39 During the late 1950s the government had moved strongly in the direction of state ownership of the means of production by expropriating Dutch enterprises and banks and handing them over to the military. However, poor management of state enterprises and their use for personal gain, together with conflicts and competition among bureaucratic capitalists, led to a serious decline in production, a balance of payments crisis, and high rates of inflation. The private sector bourgeoisie, which included both pribumi capitalists (many of whom had been associated with Masyumi) and Chinese capitalists, was far too weak to pick up the slack, and the economy stagnated. Thus, rather than creating a healthy and self-sufficient national economy in which ordinary people enjoyed a new level of material prosperity, Soekarno ended up presiding over a 'ramshackle, underpowered form of state capitalism operated by, and largely for, the benefit of the politico-bureaucrats who dominated the state apparatus, notably the military themselves'.40
>
>
>
> --- In Spiritual-Indonesia@..., "Sudrajat" <sudrajat@> wrote:
> >
> >
> >
> > saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
> > Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
> > kesatuan Indonesia...
> >
> > === >>
> >
> > Thanks, mas Wawan.
> > Ya….setuju dengan pernyataan tersebut diatas. Cukup paham.
> >
> > Karena BK juga pernah bilang..bahwa Revolusi belum selesai / belum
> > berakhir. Dan Revolusi akan menelan korban (anak anak bangsa ? ).., maka
> > BK merelakan dirinya jadi tumbal peristiwa G 30 S PKI. (pasukan AU dan
> > Marinir sudah siap siap tinggal tunggu perintah komando untuk gempur
> > pasukan AD / RPKAD ).
> >
> > Yang di bawah ini..juga pernah dapat.., dari bapak Suratal ( Dosen fak
> > Ekonomi Undip – mantan ketua DPD PDI Jateng ).
> >
> > Rumusan Pancasila
> >
> > Kebangsaan Indonesia
> > Internasionalisme,-atau peri-kemanusiaan [sic!]
> > Mufakat,-atau demokrasi [sic!]
> > Kesejahteraan sosial
> > ke-Tuhanan yang berkebudayaan [sic!]
> >
> > Rumusan Trisila
> > Socio-nationalisme [sic!]
> > Socio-demokratie [sic!]
> > ke-Tuhanan [sic!]
> >
> > Rumusan Ekasila
> > Gotong-Royong [sic!]
> >
> > ---------- >>
> >
> > yang perlu di waspadai.., dan hati hati…tidak sekedar me revisi PANCA
> > SILA…pada saat dan waktu yang amat tepat.
> >
> > Tapi …negara ber dasarkan syariat agama. Itu..loh…sudah dekat dengan
> > kekuasaan. Sebentar lagi..akan dapat kursi Mentri..cukup banyak…= dana
> > kampanye untuk pemilu 2014. target ..Presiden dari partai itu. Sejalan
> > dengan keberhasilan memperoleh kursi DPR.  -->  Wuuiiiittt …ya harus ada
> > GORO GORO ..dulu.
> >
> > Akankah Sejarah hitam akan terulang kembali…di negeri ini ?  semoga
> > `NGEH"  akan sejarah pemberontakan berdasarkan atas suatu ajaran syariat
> > agama…meskipun dari kelompok tertentu.., minoritas. Tapi sekarang
> > ..sudah besar…,loh.
> >
> > Tapi..saya akan melihat seperti apa adanya ( kalau di kasih jatah umur
> > .panjang ? ).
> >  Dan ..kemampuan saya Cuma menulis.., bersama teman teman..yang
> > BERNAFASKAN UNIVERSAL di millist Beceka, PU , SI.
> >  UNIVERSAL..berarti tidak boleh ada keterikatan ..kemelekatan..dari
> > bendera apapun dan tidak boleh ada doktrin indoktrinasi apapun kepada
> > siapapun dengan alasan apapun kepada jiwa manusia yang dari
> > sananya..BEBAS MERDEKA ber ibadah..ber kerokhanian..ber spiritual.
> >
> > Ya..wis….
> >
> > Buat teman teman --> PEJUANG PEMIKIR – PEMIKIR PEJUANG. Ingat paham
> > perjuangan kita.., faham kemasyarakatan dan kenegaraan yang sekaligus
> > adalah ideologi dan teori perjuangan rakyat indonesia.
> >
> > 1. Ketuhanan YME , landasan kerokhanian yang menjiwai dan
> > mengilhami kedua dasar berikut :
> > 2. Sosio Nasionalisme ialah Persatuan Indonesia yang adil ,beradab
> > dan berkemanusiaan dengan di dijiwai dan di ilhami landasan kerokhanian
> > ke – Tuhanan YME
> > 3. Sosio Demokrasi, demokrasi yang adil dan berperikemanusiaan
> > dengan memperjuangkan Demokrasi Ekonomi, Demokrasi Sosial , Demokrasi
> > Politik atas dasar prinsip keadilan , kemerdekaan dan persamaan antar
> > manusia dan bangsa yang dijiwai / di ilhami landasan kerokhanian Ke
> > Tuhanan yang maha esa.
> >
> > Salam Persaudaraan
> > Sudrajat
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Spiritual-Indonesia@...
> > [mailto:Spiritual-Indonesia@...] On Behalf Of selarasmilis
> > Sent: Thursday, July 02, 2009 2:18 PM
> > To: Spiritual-Indonesia@...
> > Subject: Re: to mas Wawan - [Spiritual-Indonesia] Apa kata Bung Karno
> > dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...
> >
> >
> >
> >
> >
> > Dear Mas Sudrajad
> >
> > saya melihat bung karno dari perspektive marxisme saja, karena bung
> > karno juga mengaku dirinya marxist.
> >
> > sedikit cerita thd bung hatta
> > Untuk bung Hatta sejak soviet madiun dia berseteru dengan orang-orang
> > kiri, bahkan sama-sama orang minang bung Hatta dan Tan Malaka berseteru.
> >
> > Perlu diketahui konflik ini berkepanjangan, warisan Bung Karno
> > sebenarnya kepada Tan Malaka, bung Karno memberikan warisan penerus
> > revolusi kepada Tan Malaka tapi diveto oleh Bung Hatta.
> >
> > Ada sebab juga mengapa keduanya berbeda aliran, Tan Malaka meski punya
> > gelar datuk, tapi hidupnya miskin, jadi dia adaptasi ke komunis cepat
> > sekali, sedangkan Bung Hatta dari kalangan kelas borjuasi dan mampu
> > bersekolah di belanda, lain dengan Tan Malaka bisa sekolah di Belanda
> > atas permintaan gurunya yang menganggapnya anak cerdas. Tan Malaka
> > sebenarnya tidak berhak bersekolah karena miskin, namun kecerdasannya
> > yang membuat dia mampu sampai ke Belanda, Soviet, China dan
> > negeri-negeri lainnya menggerakan revolusi.
> >
> > Kembali kepada Bung Karno dalam perspektive marxisme...
> >
> > marxisme hukum utamanya adalah yang sejati adalah perubahan...
> >
> > nggak heran bung karno bilang revolusi belum selesai, atau permanent
> > revolusi...ini ditulis oleh Leon Trotsky dan sudah terbit edisi
> > Indonesia. Saya belum baca detilnya tapi asumsi saya mudah...bahwa
> > perubahan akan bergerak terus menerus sehingga yang namanya adaptasi
> > perubahan pastilah berjalan terus menerus.
> >
> > kembali kepada Pancasila, saya kira bung karno tidak ingin ini
> > dikultuskan...mudah saja menebaknya, bung karno sudah menulis wasiat
> > kalau dirinya meninggal yang meneruskan revolusi adalah tan malaka, dan
> > jelas tan malaka itu adalah seorang komunis moscow.
> >
> > tan malaka lebih tua daripada bung karno, bahkan bung karno mengaku
> > beberapa ide didapatnya dari tan malaka, seperti konsep republik
> > indonesia, ini yang menulis adalah tan malaka dengan bukunya naar de
> > republik indonesia, dan itu dibaca bung karno. Tan Malaka sekarang
> > digelari bapak Republik Indonesia atas jasanya memberikan ide Indonesia
> > berbentuk republik.
> >
> > mohon dipahami bung karno tidak bersekolah di belanda, jadi akses ke
> > buku-buku dan wawasannya lebih terbatas daripada tan malaka
> >
> > tan malaka mempunyai kelemahan utama, yaitu mungkin gangguan kejiwaan,
> > karena tan malaka sangat paranoid karena seringnya dipenjara bahkan
> > untuk bertemu bung karno dia tidak mengenalkan dirinya sebagai tan
> > malaka, orang hanya tahu dia tan malaka ketika dia bisa menjelaskan apa
> > yang ditulisnya, dan bung karno mengenalinya karena membaca tulisannya.
> >
> > saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
> > Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
> > kesatuan Indonesia...
> >
> > lebih penting Indonesia-nya daripada Pancasilanya...
> >
> > pancasila itu hanya konsepnya...seperti setirnya...perahu besarnya
> > adalah Republik Kesatuan Indonesia...nahkodanya dulu bung karno...
> >
> > kira-kira bukankah begitu mas sudrajad???
> >
> > --- In Spiritual-Indonesia@...
> > <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> , "Sudrajat"
> > <sudrajat@> wrote:
> > >
> > >
> > >
> > > Dear mas Wawan….Marxis. (tulisane..salah apa betul ? )
> > >
> > > Numpang tanya…,
> > >
> > > Banyak orang yang tidak tahu.arah jalan pikiran Gusdur. Ada tokoh
> > > nasional ..dianataranya mantan sekjen Golkar Sarwono K .., menyatakan
> > > bahwa untuk mengerti jalan pikiran Gusdur..baru akan diketahui / ter
> > > deteksi..setelah sekian tahun kemudian.
> > >
> > > Berangkat dari asumsi pemikiran tersebut diatas, ini mungkin yang
> > > terjadi antara Bung Hatta ..saat ber seteru ..tidak sependapat akan
> > > kebijakasanaan BK terlalu dekat dengan KOMUNIS.
> > >
> > > Ggguiiiimmmaaannna ????
> > >
> > > Kalau iyaaaa , siapa orang Indonesia…yang cukup mumpuni..untuk
> > > menyatakan diri..: saya cukup paham apa yang dimaui ..di inginkan
> > > BK..perihal PANCA SILA.
> > >
> > > Terima kasih
> > > Sudrajat
> > >
> > >
> >
>



Re: to mas Wawan - Apa kata Bung Karno dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...

by Anton Nurcahyo :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Done!! plus Indonesian communism: from failure and success (mArtin Ebon, 1963, pra-G30S)...

--- In Spiritual-Indonesia@..., "selarasmilis" <selarasmilis@...> wrote:

>
> bung antonius
>
> bisa minta tolong kirim ke wawanatmediaselarasdotnet
>
> tx sebelumnya
>
> --- In Spiritual-Indonesia@..., "Antonius Nurcahyo" <anton.mondro@> wrote:
> >
> > Dear All,
> > Petikan dibawah tulisan dari Joshua Barker
> > Kalo berminat baca utuh japri saja, sudah kebanyakan file di files-nya milis dan juga mempertimbangkan copyright, serta file2 yg semalam dan kemaren saya upload dalam waktu dekat akan saya delete.
> >
> > Beyond Bandung: developmental nationalism and (multi)cultural nationalism in Indonesia
> > Third World Quarterly, Volume 29, Issue 3 April 2008 , pages 521 - 540
> >
> > Soekarno's own nationalist party was formed several years after the split between the si and the pki. In 1926 Soekarno published a paper in which he identified what he viewed to be the three most powerful streams of anti-colonial ideology within the political elite at the time: nationalism, Islam and Marxism.18 Proponents of these different ideological streams often clashed: the split between Muslims and communists in the 1920s was followed in the early 1930s by a conflict between Muslims and nationalists. All three groups maintained their bases of support and, after the Japanese occupation and the subsequent revolution, these streams became a core triad in Indonesian politics:19 they were the main ways in which Indonesia's small political elite connected to the larger mass of the Indonesian people.20 A sense of the relative strength of these various streams is provided by the results of Indonesia's first elections in 1955. In that election four major parties emerged: the Nationalist Party with 22.3% of the vote, the Islamic reformist party (Masyumi) with 20.9% of the vote, the traditionalist Islamic Nahdatul Ulama with 18.4% of the vote, and the pki with 16.4% of the vote.21 Given that the two main Islamic parties had quite different ideological orientations, it was clearly a highly fractious political environment.
> >
> > The shift within Soekarno's developmental nationalism during the period of Guided Democracy coincided with a power shift within the Indonesian elite. In the 1960s Soekarno had used the Darul Islam rebellions as a pretext to ban the largest Islamic party at the time, the modernist Masyumi party. The Indonesian Socialist Party (psi) was also banned. The elimination or weakening of political parties at the elite level was accompanied by a dramatic increase in the power of the army, which along with the president, was the main beneficiary of the imposition of martial law. The success of the army at putting down regional rebellions and incorporating Papua into the republic also greatly enhanced its power and prestige. The only other group that enjoyed an increase in power during this period was the pki, whose efforts at organising workers and peasants helped it to become the third largest communist party in the world.
> > Despite this sort of authoritarian strengthening, Soekarno's developmental nationalism proved to be a failure. According to Robison, the main goal of the Guided Economy had been 'to construct a national industrial economy around state-owned capital'.39 During the late 1950s the government had moved strongly in the direction of state ownership of the means of production by expropriating Dutch enterprises and banks and handing them over to the military. However, poor management of state enterprises and their use for personal gain, together with conflicts and competition among bureaucratic capitalists, led to a serious decline in production, a balance of payments crisis, and high rates of inflation. The private sector bourgeoisie, which included both pribumi capitalists (many of whom had been associated with Masyumi) and Chinese capitalists, was far too weak to pick up the slack, and the economy stagnated. Thus, rather than creating a healthy and self-sufficient national economy in which ordinary people enjoyed a new level of material prosperity, Soekarno ended up presiding over a 'ramshackle, underpowered form of state capitalism operated by, and largely for, the benefit of the politico-bureaucrats who dominated the state apparatus, notably the military themselves'.40
> >
> >
> >
> > --- In Spiritual-Indonesia@..., "Sudrajat" <sudrajat@> wrote:
> > >
> > >
> > >
> > > saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
> > > Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
> > > kesatuan Indonesia...
> > >
> > > === >>
> > >
> > > Thanks, mas Wawan.
> > > Ya….setuju dengan pernyataan tersebut diatas. Cukup paham.
> > >
> > > Karena BK juga pernah bilang..bahwa Revolusi belum selesai / belum
> > > berakhir. Dan Revolusi akan menelan korban (anak anak bangsa ? ).., maka
> > > BK merelakan dirinya jadi tumbal peristiwa G 30 S PKI. (pasukan AU dan
> > > Marinir sudah siap siap tinggal tunggu perintah komando untuk gempur
> > > pasukan AD / RPKAD ).
> > >
> > > Yang di bawah ini..juga pernah dapat.., dari bapak Suratal ( Dosen fak
> > > Ekonomi Undip – mantan ketua DPD PDI Jateng ).
> > >
> > > Rumusan Pancasila
> > >
> > > Kebangsaan Indonesia
> > > Internasionalisme,-atau peri-kemanusiaan [sic!]
> > > Mufakat,-atau demokrasi [sic!]
> > > Kesejahteraan sosial
> > > ke-Tuhanan yang berkebudayaan [sic!]
> > >
> > > Rumusan Trisila
> > > Socio-nationalisme [sic!]
> > > Socio-demokratie [sic!]
> > > ke-Tuhanan [sic!]
> > >
> > > Rumusan Ekasila
> > > Gotong-Royong [sic!]
> > >
> > > ---------- >>
> > >
> > > yang perlu di waspadai.., dan hati hati…tidak sekedar me revisi PANCA
> > > SILA…pada saat dan waktu yang amat tepat.
> > >
> > > Tapi …negara ber dasarkan syariat agama. Itu..loh…sudah dekat dengan
> > > kekuasaan. Sebentar lagi..akan dapat kursi Mentri..cukup banyak…= dana
> > > kampanye untuk pemilu 2014. target ..Presiden dari partai itu. Sejalan
> > > dengan keberhasilan memperoleh kursi DPR.  -->  Wuuiiiittt …ya harus ada
> > > GORO GORO ..dulu.
> > >
> > > Akankah Sejarah hitam akan terulang kembali…di negeri ini ?  semoga
> > > `NGEH"  akan sejarah pemberontakan berdasarkan atas suatu ajaran syariat
> > > agama…meskipun dari kelompok tertentu.., minoritas. Tapi sekarang
> > > ..sudah besar…,loh.
> > >
> > > Tapi..saya akan melihat seperti apa adanya ( kalau di kasih jatah umur
> > > .panjang ? ).
> > >  Dan ..kemampuan saya Cuma menulis.., bersama teman teman..yang
> > > BERNAFASKAN UNIVERSAL di millist Beceka, PU , SI.
> > >  UNIVERSAL..berarti tidak boleh ada keterikatan ..kemelekatan..dari
> > > bendera apapun dan tidak boleh ada doktrin indoktrinasi apapun kepada
> > > siapapun dengan alasan apapun kepada jiwa manusia yang dari
> > > sananya..BEBAS MERDEKA ber ibadah..ber kerokhanian..ber spiritual.
> > >
> > > Ya..wis….
> > >
> > > Buat teman teman --> PEJUANG PEMIKIR – PEMIKIR PEJUANG. Ingat paham
> > > perjuangan kita.., faham kemasyarakatan dan kenegaraan yang sekaligus
> > > adalah ideologi dan teori perjuangan rakyat indonesia.
> > >
> > > 1. Ketuhanan YME , landasan kerokhanian yang menjiwai dan
> > > mengilhami kedua dasar berikut :
> > > 2. Sosio Nasionalisme ialah Persatuan Indonesia yang adil ,beradab
> > > dan berkemanusiaan dengan di dijiwai dan di ilhami landasan kerokhanian
> > > ke – Tuhanan YME
> > > 3. Sosio Demokrasi, demokrasi yang adil dan berperikemanusiaan
> > > dengan memperjuangkan Demokrasi Ekonomi, Demokrasi Sosial , Demokrasi
> > > Politik atas dasar prinsip keadilan , kemerdekaan dan persamaan antar
> > > manusia dan bangsa yang dijiwai / di ilhami landasan kerokhanian Ke
> > > Tuhanan yang maha esa.
> > >
> > > Salam Persaudaraan
> > > Sudrajat
> > >
> > >
> > > -----Original Message-----
> > > From: Spiritual-Indonesia@...
> > > [mailto:Spiritual-Indonesia@...] On Behalf Of selarasmilis
> > > Sent: Thursday, July 02, 2009 2:18 PM
> > > To: Spiritual-Indonesia@...
> > > Subject: Re: to mas Wawan - [Spiritual-Indonesia] Apa kata Bung Karno
> > > dlm 50 tahun memperingati wafatnya Karl Marx...
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Dear Mas Sudrajad
> > >
> > > saya melihat bung karno dari perspektive marxisme saja, karena bung
> > > karno juga mengaku dirinya marxist.
> > >
> > > sedikit cerita thd bung hatta
> > > Untuk bung Hatta sejak soviet madiun dia berseteru dengan orang-orang
> > > kiri, bahkan sama-sama orang minang bung Hatta dan Tan Malaka berseteru.
> > >
> > > Perlu diketahui konflik ini berkepanjangan, warisan Bung Karno
> > > sebenarnya kepada Tan Malaka, bung Karno memberikan warisan penerus
> > > revolusi kepada Tan Malaka tapi diveto oleh Bung Hatta.
> > >
> > > Ada sebab juga mengapa keduanya berbeda aliran, Tan Malaka meski punya
> > > gelar datuk, tapi hidupnya miskin, jadi dia adaptasi ke komunis cepat
> > > sekali, sedangkan Bung Hatta dari kalangan kelas borjuasi dan mampu
> > > bersekolah di belanda, lain dengan Tan Malaka bisa sekolah di Belanda
> > > atas permintaan gurunya yang menganggapnya anak cerdas. Tan Malaka
> > > sebenarnya tidak berhak bersekolah karena miskin, namun kecerdasannya
> > > yang membuat dia mampu sampai ke Belanda, Soviet, China dan
> > > negeri-negeri lainnya menggerakan revolusi.
> > >
> > > Kembali kepada Bung Karno dalam perspektive marxisme...
> > >
> > > marxisme hukum utamanya adalah yang sejati adalah perubahan...
> > >
> > > nggak heran bung karno bilang revolusi belum selesai, atau permanent
> > > revolusi...ini ditulis oleh Leon Trotsky dan sudah terbit edisi
> > > Indonesia. Saya belum baca detilnya tapi asumsi saya mudah...bahwa
> > > perubahan akan bergerak terus menerus sehingga yang namanya adaptasi
> > > perubahan pastilah berjalan terus menerus.
> > >
> > > kembali kepada Pancasila, saya kira bung karno tidak ingin ini
> > > dikultuskan...mudah saja menebaknya, bung karno sudah menulis wasiat
> > > kalau dirinya meninggal yang meneruskan revolusi adalah tan malaka, dan
> > > jelas tan malaka itu adalah seorang komunis moscow.
> > >
> > > tan malaka lebih tua daripada bung karno, bahkan bung karno mengaku
> > > beberapa ide didapatnya dari tan malaka, seperti konsep republik
> > > indonesia, ini yang menulis adalah tan malaka dengan bukunya naar de
> > > republik indonesia, dan itu dibaca bung karno. Tan Malaka sekarang
> > > digelari bapak Republik Indonesia atas jasanya memberikan ide Indonesia
> > > berbentuk republik.
> > >
> > > mohon dipahami bung karno tidak bersekolah di belanda, jadi akses ke
> > > buku-buku dan wawasannya lebih terbatas daripada tan malaka
> > >
> > > tan malaka mempunyai kelemahan utama, yaitu mungkin gangguan kejiwaan,
> > > karena tan malaka sangat paranoid karena seringnya dipenjara bahkan
> > > untuk bertemu bung karno dia tidak mengenalkan dirinya sebagai tan
> > > malaka, orang hanya tahu dia tan malaka ketika dia bisa menjelaskan apa
> > > yang ditulisnya, dan bung karno mengenalinya karena membaca tulisannya.
> > >
> > > saya kira pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang BK maui thd
> > > Pancasila...tapi apa yang BUNG KARNO maui terhadap masa depan republik
> > > kesatuan Indonesia...
> > >
> > > lebih penting Indonesia-nya daripada Pancasilanya...
> > >
> > > pancasila itu hanya konsepnya...seperti setirnya...perahu besarnya
> > > adalah Republik Kesatuan Indonesia...nahkodanya dulu bung karno...
> > >
> > > kira-kira bukankah begitu mas sudrajad???
> > >
> > > --- In Spiritual-Indonesia@...
> > > <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> , "Sudrajat"
> > > <sudrajat@> wrote:
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Dear mas Wawan….Marxis. (tulisane..salah apa betul ? )
> > > >
> > > > Numpang tanya…,
> > > >
> > > > Banyak orang yang tidak tahu.arah jalan pikiran Gusdur. Ada tokoh
> > > > nasional ..dianataranya mantan sekjen Golkar Sarwono K .., menyatakan
> > > > bahwa untuk mengerti jalan pikiran Gusdur..baru akan diketahui / ter
> > > > deteksi..setelah sekian tahun kemudian.
> > > >
> > > > Berangkat dari asumsi pemikiran tersebut diatas, ini mungkin yang
> > > > terjadi antara Bung Hatta ..saat ber seteru ..tidak sependapat akan
> > > > kebijakasanaan BK terlalu dekat dengan KOMUNIS.
> > > >
> > > > Ggguiiiimmmaaannna ????
> > > >
> > > > Kalau iyaaaa , siapa orang Indonesia…yang cukup mumpuni..untuk
> > > > menyatakan diri..: saya cukup paham apa yang dimaui ..di inginkan
> > > > BK..perihal PANCA SILA.
> > > >
> > > > Terima kasih
> > > > Sudrajat
> > > >
> > > >
> > >
> >
>